Advertisement

ADAT ISTIADAT PROPINSI IRIAN JAYA – Terdiri atas ber­macam-macam suku bangsa, masing-masing mem­punyai adat berbeda. Dalam adat pernikahan suku bangsa Sentani, misalnya, jika orang tua mau men­carikan jodoh anaknya, ia pergi ke kampung lain dan menemukan pasangan yang tepat dari fam tertentu. Umumnya fam Ohee harus pergi ke daerah Ayapo dan mencari jodoh di kalangan orang ber-fam Epa, de­mikian pula fam Epa harus mencari fam tertentu di kampung lain. Anak sulung harus kawin dengan anak sulung pula, demikian pula anak ke-2 harus kawin dengan anak ke-2. Anak sulung tak di perbolehkan kawin dengan anak kedua atau ketiga.

Perkawinan adat di desa Deney biasanya tidak di­lakukan atas dasar cinta atau suka sama suka mela­inkan secara paksa. Apabila seorang pria berani me­minang seorang gadis, hal itu berarti bahwa pria ter­sebut sanggup memberi seorang gadis kepada Keret (marga) calon istrinya. Dengan demikian, seorang pria kawin dengan seorang gadis atas asas timbal balik, artinya si pria harus menyerahkan saudara perem­puannya kepada keluarga si gadis calon istrinya, dan wanita tersebut akan dikawinkan dengan keluarga atau saudara pria gadis yang dikawininya.

Advertisement

Bagi suku bangsa Dani, perang suku merupakan suatu kebutuhan hidup dan pusat kebudayaan. Hal ini terlihat dari semua peserta perang. Dalam meng­hadapi perang, semua anggota pasukan seolah-olah berlomba dan bersukaria. Mereka menghias diri de­ngan berbagai hiasan topi serta melumuri badannya dengan arang. Perang dari sudut kepercayaan merupakan kewajiban yang harus dilakukan sebagai jaan terhadap nenek moyang. Masalah yang menyebabkan tumbuhnya perang suku biasamya sangat be­ragam, seperti tuntutan adat, hak yang tak terpenuhi antara lain harta/mas kawin, yang menyebabkan perampasan wanita, pencurian babi, atau zina. Se­muanya ini akhirnya menimbulkan perang suku. Bila perang itu memakan korban, kelak mereka akan me­nuntut balas. Karena perang merupakan pusat kebu­dayaan maka tanpa perang mereka merasa berdosa atau melanggar hukum.

Lebih dari 60 persen penduduk Irian Jaya memeluk agama Kristen Protestan, selebihnya memeluk agama Kristen Katolik, Islam, Hindu, dan Budha. Walau agama telah lama masuk ke daerah ini, masih banyak penduduk yang melakukan upacara animisme. Pada tahun 1987 tempat peribadatan yang tersedia di tem­pat ini meliputi 703 gereja Katolik, 2.084 gereja Pro­testan, 587 masjid, 10 pura, dan 4 vihara.

Incoming search terms:

  • adat istiadat irian jaya
  • adat irian jaya
  • adat masyarakat irian jaya
  • adat istiadat irian
  • nama adat istiadat pulau irian jaya
  • tradisi islam di irian barat

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • adat istiadat irian jaya
  • adat irian jaya
  • adat masyarakat irian jaya
  • adat istiadat irian
  • nama adat istiadat pulau irian jaya
  • tradisi islam di irian barat