Advertisement

Kafein larut baik dalam air maupun minyak dan dapat dengan cepat memasuki pembuluh darah otak. Aksi kafein secara parmakologi selain membendung reseptor adenosin, juga lebih kuat 20 kali mencegah posfodiesterase, bahkan 40 kali lebih kuat dalam memblok reseptor asam gama amino butirat dan 100 kali lebih kuat dalam memobilisasi kalsium intraseluler, sebagaimana yang dibutuhkan dalam memblok reseptor adenosin. Aksi utama dan lansung dari kafein adalah memblok reseptor adenosin dan aksi yang tidak lansung adalah memblok reseptor untuk neurotransmiter. Adenosin adalah neiyomodulator, bukanlah neuro-transmiter, dengan demikian adenosin tidak terdapat pada pembuluh darah, melainkan bebas sebagai bolus dalam merespon depolarisasi membran presinaptik. ‘Adenosin berakumulasi dalam cairan ekstraseluler sebagai sel fisiologis, kemudian aksi reseptor adenosine mencegah pembebasan neurotransmiter. Reseptor adenosin diklasifikasikan atas A1t A2A, A2B dan A3, hanya A1 dan A2A yang berfungsi terhadap neurotransmiter, sebab A^ dan A3 merupakan subtipe yang berlokasi pada jaringan perifer di luar otak. Akumulasi adenosin pada reseptor A1 terhadap membran presinaptik, mencegah pembebasan neurotransmiter otak, antara lain adalah glutamat, GABA, norepinefrin, serotonin dan asetilkolin, lebih diutamakan mencegah glutamat bebas. Reseptor A1 sangat melimpah di otak, terpusat di korteks serebral, hipokampus, serebelum dan retikuler membentuk spinal cord. Reseptor adenosin A1 di otak melokasikan presinaptik pada axon. Reseptor A menghambat enzim adenililsilase, menyebabkan penurunan jumlah cAMP, namun seberapa besar pengaruhnya secara fisiologis belum diketahui. Reseptor A1 memblok saluran presinaptik kalsium dan mengaktifkan saluran kalium (menyebabkan hiperpolarisasi). Reseptor adenosin A2 mengaktifkan adenililsilase, untuk merubah ATP menjadi pembawa pesan kedua cAMP, ini akan menghambat saluran kalsium tipe L dan tipe N. Di otak pengaruh reseptor A1 lebih besar dari pada reseptor A2a, sebab reseptor A1 lebih banyak dan afinitas adenosin juga lebih tinggi pada reseptor A1 (European Journal Of Pharma cology;1999: 365:9-25). Reseptor adenosin A1 menghambat aktifitas neural pada meknisme pre-sinaptik dan post-sinaptik. Presinaptik memblok saluran kalsium tipe N (Ca2*) mengurangi pembebasan neurotransmiter.

Stimulasi Post- sinaptik reseptor A1 menyebabkan peningkatan pemasukan Cl” dan K+ keduanya menghambat depolarisasi. Stimulasi adenosin dan kafein memblok semua reseptor adenosin yang tidak selektif. Pengaruh adenosin secara umum di otak adalah menghambat aktifitas neural, sedangkan kafein adalah meningkatkan aktifitas neural. Reseptor adenosin A2A merupakan bagian terbesar ada di sel endotel, dihasilkan karena pengaruh vasodilasi dari adenosin (pengaruh vasokonstriktif dari kafein pada pembuluh darah serebral, yang kadangkala digunakan untuk perlakuan migren sakit kepala). Di otak hanya subtipe reseptor A2A dari A2 yang melakukan aktifitas bermakna, dan ini terutama berlokasi pada daerah yang banyak dopamin yakni pada basal ganglia untuk pengendalian. Aktifitas reseptor A^ menghambat aktifitas lokomotor sebagian dengan menghambat aksi dopamin pada reseptor D2. Reseptor adenosin A2A di hipokampus merupakan bagian terbesar dan aksi adenosin pada reseptor yang difasilitasi oleh transmisi sinap hipokampal glutamat dengan melawan hambatan tonik pada adenosin yang ada pada reseptor A1 (Neuroscience112:2; 2002/3/19-~ 329), walaupun demikian reseptor adenosin m1 mem¬punyai pengaruh yang sangat besar. Kafein antagonis dari aksi adenosin pada reseptor A2A yang ada pada globus pallidus mengurangi pembebasan neurotransmiter GABA. Kafein dapat menetralkan pengaruh obat penenang golongan benzodiazepin seperti diazepam (Valium). Benzodiazepin beraksi oleh peningkatan pengaruh GABA pada reseptor GABAA, sedangkan kafein melawan pengaruh tersebut dengan menghambat pembebasan GABA. Kafein tidak mengaktifkan pembebasan dopamin, “yang berpusat kepada ketenangan” dari nucleus accumbens, yang mana diasosiasikan sebagai zat adiksi. Sifat aditif dari kafein hanyalah sementara. Hasil penelitian terhadap mencit menunjukkan, bahwa ada pengaruh yang kronis dari kafein. Densiti kortikal A1 adenosin reseptor meningkat 20%, sedangkan densiti reseptor A2A pada basal ganglia tidak berubah. Densiti dari kortikal reseptor serotonin meningkat 26-30%, densiti kortikal reseptor kolinergik meningkat 40-50% dan densiti kortikal reseptor GABAa meningkat 65%. Densiti kortikal dan adrenergik serebelar reseptor menurun 25% (Celluler and Molecular Neurobiology 13(2), 1993::247-261). Berbagai bentuk adenosin terakumulasi dalam ekstra-seluler pada kondisi lelah/letih, yakni ketika kecepatan penggunaan ATP bertentangan dengan kecepatan pembentukan/sintesis ATP. Adenosin terakumulasi pada forebrain dan hippocampus selama istirahat (mengantuk) dan menurun selama tidur. Selama dalam keadaan gelisah, hipoksia atau iskemik, akumulasi adenosin akan sangat cepat. Di jantung, hipoksia secara dramatis akan menurunkan aktifitas adenosin kinase, yang mana akan meningkatkan akumulasi adenosin. Adenosin akan meningkat oleh adanya S-Adenosil Homosistein (SAH) atau diturunkan dengan meningkatkan L-homosistein.

Advertisement

Incoming search terms:

  • reseptor adenosin
  • a2 dan a3 reseptor
  • adenosin
  • adenosin melimpah di otak
  • adenosin otak
  • adenosin reseptor
  • kenapa kafein dapat memblok reseptor adenosin
  • reseptor a2a adalah

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • reseptor adenosin
  • a2 dan a3 reseptor
  • adenosin
  • adenosin melimpah di otak
  • adenosin otak
  • adenosin reseptor
  • kenapa kafein dapat memblok reseptor adenosin
  • reseptor a2a adalah