Alam dan konvensi

Frase ‘filsafat ilmu-ilmu sosial’ itu sendiri menunjukkan adanya kajian ilmiah tentang sosial (yang ditolak oleh para ahli fenomenologi dan beberapa pengikut Wittgenstein, lihat di bawah), dan menunjukkan bahwa tujuan dan metode kajian tersebut mungkin berbeda dengan yang digunakan dalam ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya (yang ditolak oleh para penganut positif logis dan yang lainnya, lihat di bawah). Perbedaan utama antara alamiah (natural) dan sosial, antara alam (nature) dan konvensi, berakar kuat dalam pemikiran kita. Di masa lalu keadaannya tidak selalu demikian, tetapi pemikiran tentang alam impersonal inilah yang mengemuka dewasa ini. Dahulu, umat manusia menggunakan dirinya sendiri sebagai ukuran terhadap segalanya dan menjelaskan alam secara antropomorfis; hasil dari revolusi ilmiah (di Yunani kuno dan Eropa Barat pasca masa Renaissans kita berkonsentrasi pada masalah kedua) adalah untuk menumbangkan paham antropomorfis, untuk mendepersonalisasi alam dan menjelaskan alam dengan cara merumuskannya secara sistematis dan mekanis semacam proses hukum (Dijksterhuis 1961). Semuanya ini adalah gejolak antusiasme abad 17 dan 18 terhadap ilmu pengetahuan baru, yang bahkan mengharuskan kemanusian itu sendiri diperlakukan sebagai bagian dari alam, atau sebagai sebuah ‘mesin’: tujuan dan kemauannya berupa kekuatan motivasi atau sering diringkas dengan motif saja dan berbagai tindakannya berupa gerakan, termasuk gerakan sosial dan revolusi sosial.

Euforia tersebut berubah menjadi kemuraman ketika persoalan muncul, seperti bagaimana memaksimalkan kekayaan; bagaimana mewujudkan tujuan moral dan politik dalam institusi sosial; bagaimana mencegah bunuh diri. Semua ini tampaknya menuntut jika bukan antropomorfisme, setidaknya hukum konvensi umat manusia. Jika alam diterima sebagai aspek dari hal-hal yang memang sudah ada (given), yaitu hukum dan kekuatan motif yang tidak bisa kita ubah, maka konvensi melingkupi segala bentuk ketertiban yang tidak konstan dari satu tempat ke tempat lain dan dari waktu ke waktu, dan yang memang bisa diubah oleh kekuatan manusia. Pembagian lingkungan kita menjadi bagian-bagian yang tetap dan yang berubah ini mempengaruhi berbagai usaha kita untuk menjelaskannya. Ini menjadi tugas utama kita ketika harus memutuskan apakah suatu problem tertentu merupakan bagian dari alam ataukah konvensi.

Kontroversi mengenai apa itu alam dan apa itu konvensional makin intens karena adanya ilmu alam yang telah mapan. Sebuah isu metafisik ditimbulkan oleh perselisihan metodologis. Penjelasannya begini: kemunculan dan keberhasilan ilmu alam mesti dijelaskan sebagai aplikasi sebuah metode khusus, yaitu metode empiris. Sehingga, jika sebuah persoalan didefinisikan sebagai persoalan alamiah maka yang paling memadai adalah metode ilmu pengetahuan alam tapi, karena begitu sukses untuk persoalan alam, bisa jadi metode ini juga memadai untuk persoalan konvensi. Bagi para filsuf Yunani kuno hal ini mungkin tampak absurd. Tetapi saat masyarakat Eropa berada di bawah periode industrialisasi berubah dari Gemeinschaft menjadi Gesellschaft, pemikiran yang lebih sistematis harus diciptakan untuk konvensi-konvensi yang tengah berubah dan membuatnya bisa diterapkan secara lebih baik. Penjabarannya, pemikiran sosial tumbuh dalam kekuatan kognitif dan kepentingan praktis, perdebatan mengenai batas-batas antara alam dan konvensi sekaligus metode yang paling memadai untuk mendekati konvensi bisa mengurai kerumitan persoalan ini. Beberapa filsuf ilmu sosial, yang menekuni permasalahan metode, tidak sadar bahwa mereka memperdebatkan sebuah isu metafisik yang tersembunyi. Salah satu contohnya adalah mereka yang memaksakan metode empiris karena mereka berpandangan bahwa alam adalah nyata dan dapat diamati, sedangkan konvensi adalah abstrak dan tidak dapat diamati (Kaufman 1944). Peninggalan pemikiran ini adalah perdebatan individualisme/holisme tentang apa yang lebih nyata dan apa yang kurang nyata di antara konvensi-konvensi. Di satu pihak, individualis, menyatakan bahwa hanya manusia yang nyata sedangkan entitas sosial yang berskala lebih besar adalah agregat yang dapat untuk tujuan penjelasan direduksi ke dalam teori tentang individu. Di pihak lain, holis, mempertanyakan realitas individu apabila mereka dapat dijelaskan sebagai ciptaan dari masyarakat. Meski terdapat beberapa perdebatan murni filsafat tentang isu-isu ini, dibawah pengaruh positivisme isu-isu ini umumnya berkumpul dalam bentuk metodologis: mana yang bisa diamati secara lebih empiris individu atau keseluruhan? Masing-masing pihak bisa memberikan bukti yang sangat meyakinkan.

Upaya sungguh-sungguh memetakan bidang ini bisa dijumpai pada varian-varian Marxis untuk setiap isu. Marx dapat dikatakan hanya meyakini keberadaan alam, bukan konvensi, sehingga mate-rialisme dialektikanya haruslah dilihat sebagai bagian dari ilmu alam. Upaya ini dilakukan karena para penganut Marxis tidak merelakan Marx dianggap sekadar sebagai salah satu dari suksesi para ilmuwan sosial; karena itu beberapa ahli mempermasalahkan interpretasi tulisan-tulisan Marx, sementara yang lain mengaku bahwa yang mereka lakukan sesuai semangat karya-karya Marx. Akibatnya, hampir semua isu dalam filsafat ilmu-ilmu sosial diduplikasi dalam kerangka Marxisme, tetapi dengan cara yang melebih- lebihkan peran penting Marx. Aliran utama dari para filsuf ilmu sosial sering menyebut Marx, tetapi Marx menjadi figur penting hanya bagi para Marxis.