Advertisement

ORANG JEPANG BERSIFAT HEMAT
Banyak di antara kita kenal dengan pandangan streotip hemat. Sebaliknya, orang tidak pernah mengembangkan suatu pandangan streotip bahwa orang Jepang bersifat hemat.
Memang kalau orang berkunjung ke Jepang sebagai tamu ia akan tertarik dengan keramahan hati yang telah tertanam ke dalam adat sopan santun mereka, dan khususnya tertarik akan suatu adat untuk menyerahkan pemberian atau kado kecil pada waktu bertemu, berkunjung atau berpisah.
Bahwa adat sopan santun pergaulan bangsa Jepang itu mengandung gaya merefleksikan suatu keramahan yang besar, memang benar. Bahwa kebiasaan memberikan kado pada waktu bertemu dan kebiasaan untuk memberikan pelayanan kepada tamu sampai si tamu itu merasa benar-benar puas, merefleksikan suatu kemurahan hati yang benar, memang benar juga. Sebaliknya, apakah hal itu berarti bahwa orang Jepang itu pemboros dan tidak bersifat hemat.
Kesempatan bergaul dengan rekan-rekan orang Jepang, tidak hanya pada taraf tamu resmi, melainkan sebagai sahabat yang telah berinteraksi secara bebas.
Dari pengalaman itu terbukti bahwa banyak orang Jepang menilai sifat itu sebagai sifat yang terpuji sehingga dalam sifatsifat orang Jepang kadang-kadang bisa juga bersifat Mick. Dalam hal itu, mereka tidak berbeda dengan orang Belanda. Keramahan yang tertanam dalam adat sopan santun pergaulannya terbukti hanya suatu gaya lahir saja. Perhatikanlah bahwa kado-kado kecil itu biasanya hanya berupa barangbarang sederhana saja, sedangkan biaya jamuan makan dan minum yang mewah lezat di restoran itu biasanya dibebankan kepada jawatan atau perusahaan. Sifat hemat orang Jepang memang tampak pada beberapa hal dalam kehidupan sehari-harinya. Menyebut seorang Jepang “pemboros” merupakan penghinaan yang amat besar yang akan menimbulkan reaksi agresif. Sebaliknya, apabila seorang Indonesia disebut pemboros ia akan benar-benar marah. Pujian yang menyatakan kekaguman sifat mahal dari suatu barang milik seorang Jepang akan benar-benar membuatnya malu (bukan malu dibuat-buat). Seorang Indonesia terutama pada masa kini, bahkan puas hatinya apabila kita kagumi kemewahan rumahnya dengan cahaya gemerlapan dari perhiasan istrinya.
Orang Jepang memang tidak bisa pada dasarnya memang harus bersifat hemat; kalau tidak mana mungkin mereka dapat membangun ekonomi mereka seabad yang lalu dengan kekuatan sendiri, bantuan modal asing minimal sekali. Menurut ekonomi yang elementer, akumulasi modal adalah selisih antara GNP dan konsumsi, ditambah dengan selisih antara impor dan ekspor. Dalam waktu yang lama dalam fase-fase pertama dari pembangunan impor negara Jepang lebih besar dari ekspornya. Dan karena GNP-nya tentu belum tinggi maka sudah tentu karena terutama terletak pada konsumsi. Berbeda dengan di negeri kita di mana perusahaan-perusahaan yang belum tampak berkembang justru mulai dengan membangun gedung-gedung yang mewah, bangsa Jepang biasanya justru menekan kepada biaya overhead, dan hal ini memang tampak konkret pada keadaan perumahan rakyat Jepang yang pada umumnya memang sampai sekarang masih sangat buruk, dan juga pada keadaan jalan-jalan di Jepang, yang di luar kota Metropolitan sama buruk keadaannya seperti di Indonesia, namun di samping itu, bahwa terang sekali orang Jepang menekan berat pada kehidupan rumah tangga sehari-hari dari rakyat.
Kalau kita tinjau angka-angka rate of saving dari Jepang, maka tampak angka 38,3% dari NNP, suatu angka yang lebih tinggi dari angka rate of saving bangsa yang terkenal sebagai suatu bangsa yang hemat, yaitu bangsa Belanda (kurang dari 30%).
Menurut keterangan seorang ahli ekonomi Jepang yang terkenal, bernama Dr. Schinichi Ichumura, kecuali sifat mentalnya yang menilai tinggi sifat hemat bangsa Jepang juga dapat mengakumulasi modal yang demikian besarnya itu berkat sistem dan pola pembayaran gaji, upah dan bonus, ditambah pula adat orang Jepang umumnya untuk mantap tetap tinggal dalam suatu jabatan secara kontinu selama hidupnya. Hal itu adalah apa yang disebut pola senoritas dalam sistem pembayaran gaji.
Gaji dinaikan secara berangsur-angsur pada waktu seseorang mulai bekerja pada usia muda. Pada waktu itu gajinya rendah, tetapi sepadan dengan keperluan hidup yang sederhana dan wajar. Waktu seorang sudah menikah, sampai tiba waktunya bahwa anak-anak harus mengunjungi sekolah menengah dan jadi mahasiswa. Pada tingkat itu dalam kehidupan seseorang keperluan sudah demikian meningkat hingga melebihi gaji dan pendapatannya.
Demikian orang terpaksa dan terlatih untuk hidup dengan amat sederhana, serta hemat hampir sepuluh tahun. Kemudian, kalau orang menginjak umur tua, dan anak-anaknya sudah mempunyai mata pencarian sendiri, serta sudah menikah maka keperluan hidupnya berkurang. Toh is tetap akan hidup seder-hana dan hemat, karena memang sudah menjadi kebiasaarmya.
Sebalitmya, gaji yang selalu naik, pada waktu itu akan melebihi keperlttan hidup, dan selisih itu merupakan simpanan di tingkat rumah tangga yang mempunyai potensi yang amat besar.
Adapun bonus yang kadang-kadang diterima oleh orang Jepang dianggap suatu pendapatan di luar rutin sehingga dianggap di luar keperluan hidupnya yang biasanya. Dengan demikian, bonus biasanya ditabung. Kita tahu bahwa sikap kita terhadap pendapatan ekstra adalah bahwa kita anggap hal itu merupakan rejeki yang tidak harus ditabung, akan tetapi justru harus dikonsumsi habis bedasarkan dalil “mumpung”.
Banyak ahli ekonomi berkata bahwa sistem dan pola senoritas dalam kenaikan gaji dan upah itu adalah suatu sistem yang dianggap kuno dan feodal.
Hal itu disebabkan karena yang diberi ganjaran bukan kualitas kerja, melainkan hanya jangka waktu kerja saja, dengan demikian, akan timbul visa lokasi tenaga kerja, dan sebagainya.
Tetapi menurut Dr. Ichimura sistem itu sementara ini tidak akan diubah di Jepang, karena kecuali sudah mendarah daging, menurut analisa sistem itu terbukti telah menambah rate of saving dan hausehould invesment dari bangsa Jepang. Adapun soal kurangnya kualitas, katanya dapat diimbangi dengan loyalitas kepada jawatan atau pun perusahaan. Orang telah masuk suatu jawatan atau perusahaan biasanya tidak ada pikiran untuk pindah ke tempat kerja lain. Hal ini amat berbeda dengan yang di Amerika Serikat misalnya, di mana orang muda justru berpindah-pindah pekerjaan untuk mencari tempat yang lebih cocok dan menguntungkan, dan mulai barn menetapkan pada suatu tempat apabila is sudah agak tua.
Loyalitas pada suatu pekerjaan di Jepang biasanya ber-samaan dengan rasa kebanggaan besar pada jawatan atau perusahaan yang bersangkutan.
Loyalitas yang besar dari seorang pengawai Mainichi Shimbun, atau dari Toyota motor, terhadap perusahaannya dengan sendirinya akan menambah kualitas kerjanya.
Indonesia juga memp’unyai pola senioritas, tetapi di In-donesia rupa-rupanya pola itu tidak menambah rate of saving, dan tidak merangsang suatu kerja. Memang di sini agaknya soal mentalitas juga yang menentukan. Mentalitas orang Jepang berbeda dengan mentalitas orang Indonesia. Suatu hal lain yang juga menyukarkan penerapan analisa Ichimura kepada keadaan di Indonesia, yaitu bahwa negara kita telah dirusak oleh inflasi yang kita derita sejak perang dunia kedua. Inflasi yang ganas itu sudah dikuasai tetapi kerusakan-kerusakannya belum dipulihkan.

Advertisement
Advertisement