Advertisement

Pada masa/tahun-tahun pertama timbulnya antropologi sebagai ilmu, aliran yang dominan adalah bahwa kebudayaan setiap masyarakat umumnya berkembang menurut cara yang telah tertentu sifatnya dan perkembangan kebudayaan itu di mana-mana seragam sifatnya; dengan demikian diperkirakan bahwa hampir semua masyarakat melewati rentetan tahap-tahap perkembangan yang sama dan akhirnya juga sampai pada tahap yang sama. Sumber-sumber dari perubahan kebudayaan dianggap sudah ada dari semula dalam kebudayaan bersangkutan, karena itu hasil akhir dari perkembangan kebudayaan sudah tertentu sifatnya menurut faktor intern budaya itu. Dua ahli antropologi abad 19 yang tulisan-tulisannya menguraikan teori seperti tersebut di atas adalah Edward B. Tylor dan Lewis Henry Morgan. Edward B. Tylor (1832-1917), seorang Inggris, umumnya dipandang sebagai ahli antropologi profesional yang pertama berhubung dialah orang yang pertama yang memperoleh kedudukan di universitas untuk bidang antropologi. Tylor tidak sefaham dengan penulis-penulis Perancis dan Inggris awal abad 19 yang dipimpin oleh Comte Joseph de Maistre (1753-1821) yang mengatakan bahwa kelompok-kelompok suku seperti orang Indian di Amerika Serikat adalah contoh dari degenerasi keturunan manusia yang beradab. Tylor bertahan pada pendapatnya, bahwa kebudayaan manusia berkembang dari yang sederhana menjadi kompleks dan bahwa semua masyarakat manusia melewati tiga tahap utama dalam evolusi yaitu dari: tahap liar (savagery), biadab (barbarism) dan akhirnya peradaban (civilization).1

Sesuai dengan keyakinannya tentang adanya perkembangan yang progresif dari masyarakat manusia, Tylor berpendapat bahwa masyarakat-masyarakat masa kini mempunyai derajad persamaan yang berbeda-beda dengan masyarakat-masyarakat masa silam yang telah sirna. Begitulah dia berpendapat, bahwa masyarakat kontemporer merupakan “fosil hidup” dan dalam masyarakat-masyarakat itu macam-macam tahap perkembangan kebudayaan manusia sebelumnya di-“awet”-kan dan direkam. Tylor juga mengemukakan tentang survivals yaitu unsur-unsur dari kebiasaan-kebiasaan primitif yang bertahan sebagai sisa dalam kebudayaan-kebudayaan masa kini. Pembuatan pottery (pecah belah dari tanah liat) adalah contoh dari survival menurut Tylor tersebut. Manusia primitif membuat tempayan dan lain-lain pertalatan dari tanah liat karena itu adalah bahan yang terbaik yang mereka temukan. Sekarang, kemajuan teknologi telah menyediakan bagi kita macam-macam bahan lainnya yang lebih kuat seperti gelas, metal, plastik keras; sehingga pembuatan alat-alat dari tanah liat tidak lagi perlu. Sekalipun tidak ada alasan yang logis untuk mempertahankan pembuatan barang-barang dari tanah secara primitif tersebut di atas, namun kita masih suka membuat barang-barang dari tanah liat tersebut karena banyak orang (biarpun tak rasional) lebih menyukainya.

Advertisement

Tylor memberi tekanan kepada persamaan-persamaan yang terdapat di antara bangsa-bangsa yang berbeda. Dia yakin bahwa ada kesatuan kejiwaan di antara semua umat manusia, yang memungkinkan adanya penemuan-penemuan yang paralel dalam kebudayaan yang berbeda-beda dan karenanya menghasilkan sejarah evolusi yang sama. Dengan kata lain, karena ada persamaan dasar di antara manusia, maka masyarakat yang berbeda-beda secara sendiri-sendiri sering kali menemukan pemecahan yang sama untuk masalah yang sama. Tapi Tylor juga mencatat, bahwa unsur kebudayaan mungkin tersebar dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya, dengan cara yang disebutnya difusi (difussion) — yaitu “peminjaman” suatu unsur kebudayaan dari kebudayaan yang lain sebagai akibat dari adanya kontak antar kedua kebudayaan.

Tokoh abad ke 19 yang lain dari kalangan teori evolusi predeterminasi kebudayaan, adalah Lewis H. Morgan (1818-1889). Morgan adalah seorang pengacara di New York yang berminat terhadap salah satu suku Indian bernama

1 Edward B. Tylor, Primitive Culture (New York: Harper Torchbooks, 1958. Pertama kali diterbitkan pada tahun 1871). Iroquois dan ia membela mereka dalam perkara untuk mempertahankan hak-hak mereka atas tanah pemukimannya. Sebagai akibat dari hal itu Morgan diterima menjadi warga suku mereka dan dengan demikian Morgan mendapat kesempatan yang berharga untuk dapat mempelajari adat-istiadat suku Iroquois tersebut dari dekat. Dalam tahun 1851, Morgan menerbitkan pertama kali dalam sejarah, suatu studi lapangan yang lengkap tentang suatu suku Indian Amerika; nama bukunya adalah League of the Ho-de-no-sau-nee or Iroquois. Morgan begitu terlibat dengan antropologi, hingga akhirnya dia meninggalkan ilmu hukumnya. Karya Morgan yang paling terkenal adalah: /\ncient Society yang diterbitkan pada tahun 1877. Dalam buku ini. seperti Tylor dia membagi evolusi kebudayaan manusia atas 3 tahap dasar, tapi Morgan lebih lanjut membagi tahap liar “savagery” dan tahap biadab “barbarism”, masing-masing dalam 3 tahap lagi yaitu: tahap tinggi, menengah dan rendah.  Ketiga tahap itu dibedakannya menurut hasil-hasil teknologi yang telah dicapai; contohnya: barang-barang dari tanah liat adalah ciri khas dari tahap biadab (barbar) yang rendah, berkebun dan penjinakan hewan adalah ciri khas dari tahap biadab (barbar) menengah, alat-alat dari besi adalah ciri khas dari tahap biadab (barbar) tinggi. Menurut Morgan, sifat-sifat budaya yang menjadi ciri khas bagi berbagai tahap evolusi itu bersumber pada beberapa butir ragi pemikiran yang primer yaitu bibit-bibit pemikiran yang telah timbul ketika orang masih dalam masa liar dan kemudian berkembang menurut cara yang telah tetap sifatnya ke dalam pranata-pranata utama dari kemanusiaan.

Morgan mendalilkan bahwa tahap-tahap perkembangan teknologi berkaitan dengan berbagai pola budaya yang berlangsung menurut urutan tertentu. Sebagai contoh: dia berspekulasi bahwa pranata keluarga telah berkembang melalui 6 tahap. Masyarakat manusia mulai sebagai kawanan manusia yang hidup dalam hubungan promiskus; dalam tahap ini tidak terdapat aturan-aturan mengenai hubungan seks, dan karenanya tidak ada struktur keluarga yang jelas. Berikutnya tahap dalam mana sekelompok laki-laki yang bersaudara kawin dengan sekelompok wanita yang bersaudara dan hubungan seks antara saudara laki-laki dengan saudara perempuannya diperbolehkan. Dalam tahap ke-3, perkawinan kelompok masih dipraktekkan, tapi seorang laki-laki tidak diperbolehkan lagi kawin dengan saudara perempuannya. Tahap ke-4 yang berkembang pada tahap biadab, atau barbar bercirikan hubungan laki-laki dengan pasangannya yang tidak terlalu ketat sifatnya sementara wanita tetap bermukim dengan orang-orang lain. Kemudian berkembang jenis keluarga dengan peran suami yang menonjol di mana suami dapat memiliki lebih dari seorang isteri. Tahap terakhir adalah tahap peradaban /civilization) yang mempunyai sebagai ciri keluarga monogam, yaitu ikatan perkawinan antara seorang pria dan wanita, dan keduanya mempunyai kedudukan yang agak sama. Jadi Morgan berpendapat bahwa semakin berkembang masyarakat manusia itu maka satuan keluarga menjalani kemajuan yaitu menjadi lebih sedikit anggotanya dan kemampuan berdiri sendiri sebagai keluarga semakin meningkat. Dalil atau postulat Morgan tentang tahap-tahap evolusi dari keluarga, pikiran Morgan, ternyata tidak didukung oleh data etnografis yang telah banyak terhimpun sejak Morgan merumuskan pikirannya. Misalnya tidak ada masyarakat di masa sekarang ini yang menurut Morgan akan tergolong liar, yang memiliki kebiasaan perkawinan kelompok atau memperbolehkan seorang laki-laki menikahi saudara wanitanya.

Teori evolusi predeterminasi Tylor dan Morgan dan lain-lainnya dari abad 19, tidak diterima lagi, setidaknya di luar Uni Soviet. Pertama, teori evolusi predeterminasi tidak dapat secara memuaskan menjawab pertanyaan mengaji ada perkembangan yang tak setaraf dalam pelbagai masyarakat manusia di dunia: misalnya mengapa kini ada beberapa masyarakat’yang tergolong masa liar tinggi atau upper savagery sedang ada masyarakat lainnya yang telah tergolong beradab atau civilized. Adanya kesatuan psikis umat manusia (psychic unity of mankind) yang dijadikan dalil untuk menerangkan mengapa terdapat perkembangan yang sejajar, juga tidak dapat memberi penjelasan mengenai perkembangan yang berbeda menurut waktu. Kedua dan yang lebih penting, adalah: kita memiliki bukti-bukti bahwa masyarakat tidak selamanya berkembang melalui tahap-tahap seperti dikemukakan teori predeterminasi tersebut di atas. Ada sebagian masyarakat yang menjalani kemerosotan atau bahkan punah. Masyarakat yang lain mungkin maju menjadi “beradab”, tapi ada masyarakat-masyarakat yang tidak melewati semua tahap-tahap yang didalilkan itu. Jika urutan tahap perkembangan tidak selamanya merupakan suatu keharusan,maka tidak dapat dikatakan bahwa jalannya evolusi telah ditetapkan lebih dahulu. Dengan begitu penjelasan yang lain mengenai evolusi kebudayaan perlu dicari lagi.

 

Incoming search terms:

  • aliran evolusi predemines
  • prederminasi
  • Pre-determinasi

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • aliran evolusi predemines
  • prederminasi
  • Pre-determinasi