APA ITU EVOLUSI SOSIOKULTURAL?

40 views

APA ITU EVOLUSI SOSIOKULTURAL? – Satu problem yang berkaitan dengan penggunaan istilah evolusi untuk meng-identifikasi perubahan-perubahan yang terjadi dalam berbagai sistem sosiokultural adalah bahwa makna harfiyah istilah itu sendiri menyesatkan. Sebagaimana dinyatakan oleh Elman Service (1971), istilah ini berasal dari bahasa Latin evolutis, yang berarti”pembukaan gulungan”. Ini jelas menyiratkan bahwa evolusi mencakup suatu “pembentangan” atau”perkembangan”, sebuah proses di mana sistem sosiokultural mulai menyadari kemungkinan-kemungkinan potensial yang sejak awal melekat di dalam dirinya. Ini menyiratkan bahwa evolusi adalah gerakan ke arah “tujuan” akhir, bahwa berbagai masyarakat berkembang dengan cara yang sama sehingga embrio yang matang menjadi organisme yang sehat yang hidup di luar tubuh induknya. Masalahnya adalah karena evolusi sosiokultural tidak sama dengan pengertian di atas. Sebagaimana dalam hal evolusi biologis, tidak ada “tujuan” akhir bagi evolusi sosiokultural. Tidak ada “perkembangan” ke arah keadaan

Untuk menghindari salah pengertian tentang hakekat evolusi sosiokultural, perlu diperjelas makna harfiyah istilah tersebut danbahaya-bahaya yang ada di dalamnya. Sebagai upaya awal untuk mendekati pemahaman tentang istilah ini, kami dapat mendefinisikan evolusi sosiokultural sebagai sebuah proses perubahan di mana satu bentuk sosiokultural beralih ke bentuk yang Dengan mengkonseptualisasikannya seperti ini, evolusi sosiokultural adalah sebuah proses perubahan yang lebih bersifat kualitatif daripada kuantitatif. Perubahan kuantitatif adalah perubahan dari jumlah yang kurang menjadi jumlah yang lebih atau sebaliknya. Sebaliknya, perubahan kualitatif adalah perubahan di mana suatu jenis atau bentuk baru menggantikan jenis atau bentuk yang lama. Tentu saja, perubahan kualitatif ittt sendiri adalah hasil dari serangkaian perubahan kuantitatif yang terjadi sebelumnya. Ketika per-ubahan-perubahan kuantitatif terakumulasi dalam waktu tertentu, maka ia akhirnya akan menghasilkan suatu transformasi yang kita istilahkan dengan perubahan kualitatif. Namun, kita tidak dapat dengan sungguh-sungguh berbicara tentang transformasi evolusioner sampai tingkat perubahan kualitatif dapat tercapai. Dengan demikian, peralihan suatu masyarakat dari masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada kegiatan meramu dan berburu ke masyarakat yang menggantungkan hidup pada kegiatan pertanian merupakan sebuah perubahan evolusioner, begitu juga dengan peralihan dari pertanian ke industri. Demikian juga, munculnya pembagian kelas sosial dalam suatu masyarakat yang tidak pernah ada sebelumnya adalah sebuah perubahan evolusioner. Namun, pertambahan jumlah desa dalam suatu masyarakat bukanlah perubahan evolusioner apabila desa-desa yang baru tersebut hanyalah tiruan dari desa-desa yang sudah ada.

Tetapi ada pengertian tentang evolusi yang agak lebih dari pengertian yang disiratkan dengan gagasan tentang perubahan kualitatif. Karena itu, untuk melengkapi definisi kita tentang evolusi sosiokultural kita perlu me-nambahkan bahwa perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang menunjukkan arah yang pasti. Yang dimaksud adalah bahwa evolusi sosiokultural adalah perubahan terpola yang menampakkan sebuah kecenderungan yang bersifat linear. Sebagai contoh, perubahan-perubahan pada tingkat teknologi yang menambah kecanggihan dan efisiensi peralatan dan teknik produktif dan menunjukkan kecenderungan yang terarah.

Banyak penganut evolusionisme berpendapat bahwa arah kecenderungan utama dalam evolusi sosiokultural adalah bertambahnya kompleksitas masyarakat (cf.Parsons,1966,1977). Robert Carneiro (1972), misalnya, menyatakan bahwa dalam kenyataannya inilah yang dimaksud dengan evolusi — perubahan yang mengarah kepada semakin kompleksnya masyarakat — dan bahwa pemakaian konsep yang lain akan melemahkan dan mengurangi pengertiannya. Namun, walaupun harus diakuibahwa kompleksitas masyarakat yang terus meningkat merupakan dimensi penting dalam evolusi sosial, tidak dapat dibenarkan menganggapnya sebagai satu-satunya dimensi, atau dimensi yang terpenting. Evolusi sosiokultural mempunyai banyak dimensi, dan dengan demikian memiliki banyak arah kecenderungan, dan kita tidak akan membatasi diri untuk hanya menganalisis satu dimensi saja.

Evolusi sosiokultural meliputi baik seluruh sistem sosiokultural maupun komponen-komponen terpisah dari sistem tersebut. Yang biasanya terjadi adalah bahwa perubahan berawal dari satu komponen (atau sub-komponen) dan perubahan ini menimbulkan perubahan-perubahan pada komponen yang lain. Seluruh mata rantai sebab dan akibat bergerak sehingga akhirnya menghasilkan transformasi pada seluruh sistem sosiokultural.

Sebagian ilmuwan telah menegaskan perbedaan antara istilah sejarah dan evolusi. Yang paling terkenal dalam hal ini adalah Leslie White (1945). Argumen White adalah bahwa sejarah berkaitan dengan berbagai peristiwa atau perubahan yang unik, sementara evolusi meliputi pola-pola karakteristik perubahan masyarakat manusia secara umum. Menurut pandangan ini, sejarah membatasi perhatian seseorang kepada detail-detail tertentu dalam per,-thahan historis yang terjadi dalam suatu masyarakat, sedangkan evolusi meliputi analisis seseorang terhadap karakteristik-karakteristik perubahan yang teratur dan sistematik dari semua atau hampir semua masyarakat. Walaupun adajustifikasi terhadap pembedaan yang dibuat White, pembedaan itu agak artifisial danberlebihan. Semua perubahan dalam sistem sosiokultural dapat dianggap evolusioner sejauh ia meliputi transformasi yang bersifat kualitatif dan terarah pada seluruh atau salah satu atau lebih bagian-bagiannya. Ini benar, apakah perubahan-perubahan tersebut terjadi hanya pada satu masyarakat atau apakah ada perubahan yang sama yang terjadi dalam ratusan masyarakat (Harris, 1968). Namun, walaupun benar, paling tidak menurut semangat pernyataan White, kita akan berusaha memahami transformasi-transformasi evolusioner penting yang menandai sejumlah besar masyarakat dunia.

Kecermatan khusus harus diberikan untuk menghindari identifikasi evolusi sosiokultural dengan kemajuan (progress). Ini adalah kesalahan besar para evolusionis terkemuka abad xix. Para pemikir ini cenderung menafsirkan perbaikan dalam rasionalitas, moralitas dan kebahagiaan manusia sebagai evolusi, dan karena kesalahan ini mereka dikritik secara tepat oleh para ilmuwan yang muncul belakangan. Istilah kemajuan adalah konsep moral dan harus tidak boleh dipakai pada data yang dikumpulkan dalam usaha ilmiah untuk memahami pola-pola dasar perubahan evolusioner. Karena semua masyarakat memberikan, dalam kadar tertentu, solusi adaptif terhadap berbagai kebutuhan dasar manusia, adalah kesalahan yang sangat serius mengasumsikan bahwa sebagian masyarakat lebih unggul dari masyarakat lain hanya karena ia terjadi lebih belakangan dalam sejarah atau karena ia secara evolusioner lebih kompleks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *