Advertisement

Jenis serangan lain sekitar perdebatan antara berbagai pandangan teoretik ini melibatkan pernyataan bahwa dissonansi bersifat tidak menyenangkan, bahwa disonansi bertindak sebagai dorongan seperti rasa lapar, dan bahwa orang melakukan apa saja yang dapat dilakukannya untuk mengurangi keadaan tidak menyenangkan ini. Analisis Bem tidak menduga bahwa perilaku-yang-tidak-sesuai-dengan-sikap akan menimbulkan keadaan tidak menyenangkan atau dorongan. Untungnya, perbedaan di antara teori-teori ini dapat diuji dengan segera. Salah satu implikasi’ dari penelitian tentang pertalian yang salah yang dibahas di bagian sebelumnya adalah bahwa keadaan keterbangkitan subjektif dapat dikurangi pada saat orang mempertalikannya dengan stimulus lain, seperti pil. Observasi ini dapat membantu kita menentukan apakah ketidaksesuaian itu merupakan keadaan keterbangkitan subjektif atau bukan. Alasan teoretiknya demikian: Disonansi di-anggap terjadi pada saat seseorang menulis karangan-yang-tidak-sesuai-dengan-sikap dalam kondisi pilihan tinggi. Akan tetapi, jika disonansi benar-benar merupakan dorongan internal yang terbangkitkan, kita akan dapat menguranginya dengan mempertalikan kembali dorongan itu dengan pil, atau dengan mengubah sikap untuk memulihkan konsistensi. Oleh sebab itu, dengan memberitahu subjek bahwa mereka telah diberi pil perangsang seharusnya menggantikan perubahan sikap. Tetapi perubahan sikap akan terjadi bila subjek tidak dapat mempertalikan kembali reaksinya dengan penyebab eksternal seperti pil. Analisis persepsi-diri dari Bem mengasumsikan bahwa situasi yang menimbulkan dissonansi tidak membangkitkan dorongan. Bila analisis itu benar, ada atau tidaknya penye¬bab eksternal yang masuk akal, seperti pil, tidak akan relevan lagi.

Gagasan bahwa dissonansi merupakan suatu dorongan menyatakan bahwa tidak ada perubahan sikap yang akan terjadi bila keterbangkitan dapat dipertalikan pada beberapa penyebab selain inkonsistensi. Untuk menguji hal ini, Zanna dan Cooper (1974) memberi subjek-subjek itu pil; dalam suatu kondisi mereka diberitahu bahwa pil itu akan membuat mereka merasa tegang, dalam kondisi lain dikatakan bahwa pil itu akan membuat mereka merasa santai. Kemudian subjek dibujuk untuk menulis karangan-yang tidak sesuai dengan sikap dalam kondisi pilihan tinggi atau kondisi pilihan rendah. Subjek-subjek yang telah diberitahu bahwa mereka akan merasa tegang karena pil itu tidak memperlihatkan efek disonansi yakni, pilihan tinggi tidak menghasilkan lebih banyak perubahan sikap dibandingkan pilihan rendah. Bila subjek dapat mempertalikan keterbangkitan dengan pil, rupanya tidak terjadi disonansi, dan oleh sebab itu, tidak ada perbedaan yang ditimbulkan oleh disonansi dalam perubahan sikap. Namun, bila mereka diberitahu bahwa pil itu akan membuat mereka merasa santai, kondisi pilihan tinggi menghasilkan ‘lebih banyak perubahan sikap dalam arah karangan dibandingkan kondisi pilihan rendah, sejalan dengan efek disonansi biasa. Berarti, bila subjek tidak dapat mempertalikan keterbangkitan dengan pil karena diduga pil itu merupakan pil penenang, terjadi efek disonansi, rupanya karena orang masih merasa terbangkitkan. Hal ini memberikan bukti tambahan untuk mendukung pernyataan bahwa efek disonansi tergantung pada beberapa macam mekanisme keterbangkitan fisiologik, yang dapat dihilangkan atau dikurangi bila subjek dapat mempertalikan ke-terbangkitan dengan beberapa stimulus luar. Prinsip umum yang muncul adalah bahwa situasi yang melibatkan pernyataan atau tindakan yang bertentangan dengan sikap menimbulkan ketegangan dalam kondisi-kondisi yang telah dijelaskan: pilihan, konsekuensi negatif yang dapat diduga, tekanan eksternal minimal dan sebagainya. Perubahan sikap sebagai respons tergantung pada ada-tidaknya cara lain untuk mengurangi ketegangan ini dengan menyalahkan tekanan eksternal, keadaan ketergantungan pada obat atau dengan menarik kembali perilaku. Dan kedua proses itu mungkin berlangsung dengan sangat baik pada lapangan yang berbeda: teori disonansi dengan lebih banyak masalah yang kontroversial dan berbelit-belit; dan teori persepsi-diri dengan lebih banyak masalah yang tidak jelas, tidak berbelit-belit, minor, dan baru.

Advertisement

1. Sikap memiliki komponen kognitif (pikiran), komponen afektif (perasaan) dan komponen perilaku.

2. Orang sering memiliki sikap yang kompleks secara kognitif. Namun, seperti kesan kepribadian, sikap cenderung terorganisir di sekitar dimensi afektif (atau evaluatif) dan cenderung sederhana secara evaluatif.

3. Pendekatan belajar memandang sikap sebagai sesuatu yang dipelajari melalui asosiasi, peneguhan kembali, dan imitasi. Pendekatan insentif memandang sikap sebagai hasil perhitungan untung-rugi oleh individu. Teori konsistensi kognisi memandang orang sebagai makhluk yang berusaha mempertahankan konsistensi antara berbagai sikap mereka, antara afeksi dan kognitif mereka terhadap objek tertentu, serta antara sikap dan perilaku mereka.

4. Biasanya diasumsikan bahwa perilaku timbul dari sikap, tetapi penelitian yang sungguh-sungguh mempertanyakan bagaimana konsistensi kedua hal itu satu sama lain. Saat ini muncul pernyataan bahwa perilaku konsisten dengan sikap hanya dalam kondisi tertentu: sikap yang kuat, jelas, spesifik dan tanpa tekanan situasi yang bertentangan.

5. Disonansi seringkah ditimbulkan oleh perilaku individu. Disonansi muncul menyertai keputusan dan mengikuti tindakan yang bertentangan dengan sikap individu.

6. Disonansi dapat dikurangi melalui berbagai cara. Bila perilaku itu sendiri tidak dapat ditarik kembali, alternatif yang paling penting adalah perubahan sikap untuk mengurangi kesenjangan perilaku dan sikap.

7. Disonansi pascakeputusan terbesar terjadi bila orang tetap menjalankan keputusan mereka untuk waktu yang lama, bila mereka memiliki kebebasan memilih dalam keputusan mereka, bila konsekuensi keputusan telah diketahui sebelumnya dan pasti, dan bila mereka merasa bertanggung jawab terhadap konsekuensi itu.

8. Disonansi yang mengikuti perilaku yang sesuai dengan sikap bergantung pada insentif yang kurang memadai untuk melakukan perilaku. Insentif ini dapat berupa ancaman minimal atau ganjaran minimal yang dijanjikan. Disonansi maksimum yang mengikuti perilaku yang tidak sesuai dengan sikap terjadi dengan insentif minimum, konsekuensi negatif dari suatu tindakan, dan tanggung jawab pribadi yang jelas terhadap konsekuensi.

9. Penjelasan alternatif bagi efek disonansi ini dihasilkan oleh para ahli teori atribusi. Bila orang memiliki sikap yang tidak jelas, tidak terdefinisi, tindakannya bisa menimbulkan persepsi-diri yang segar tentang sikap, jadi menimbulkan konsistensi sikap perilaku melalui suatu pertalian dan bukan melalui proses pengurangan disonansi.

Incoming search terms:

  • efek disonasi adalah
  • pernyataan dorongan internal
  • terjadinta disonasi afeksi

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • efek disonasi adalah
  • pernyataan dorongan internal
  • terjadinta disonasi afeksi