ARTI AFILIASI ETNIK DALAM PERSPEKTIF EVOLUSI – Sampai akhir-akhir ini, pandangan yang dominan mengenai masa depan etnisitas ialah pandangan fungsionalis yang menandaskan bahwa afiliasi etnik adalah gabungan-gabungan primordial yang merupakan ciri-ciri masyarakat industri (cf. Hraba, 1979; A.D. Smith, 1981; Hechter, 1975, 1976). Dalam dunia industri modern, ikatan-ikatan etnik sangat maladaptif sehingga semakin terlebur. Masyarakat -masyarakat industri modem memberi penekanan pada pencapaian dan nilai-nilai uniyersalistik yang bertentangan dengan partikularisme etnisitas. Sentimen dan ikatan etnik sangat disfungsional bagi organisasi sistem kerja yang rasional yang mendasar bagi industrialisme. Lagi pula, ekspansi perdagangan internasional, transportasi, dan komunikasi akan membawa orang-orang yang berbeda secara kultural ke dalam kontak yang lebih besar antara yang satu dengan yang lainnya dan ikut membantu menghapuskan perbedaan-perbedaan etnik. Peristiwa-peristiwa abad xx, dan khususnya dalam 30 atau 40 tahun lampau, dengan jelas memperlihatkan bahwa teori fungsionalis mengenai perubahan etnik adalah suatu kegagalan (A.D. Smith, 1981; Hechter, 1976). Daripada menjadi kurang berarti, ikatan-ikatan etnis sesungguhnya telah menjadi sangat penting sementara abad xx telah maju. Sebagaimana dikemukakan oleh Anthony Smith (1981: 10, 12):

Kenyataan yang penting ialah bahwa konflik antar etnik telah menjadi lebih intens dan endemik dalam abad xx ini bila dibandingkan dengan setiap saat dalam sejarah. Ada beberapa negara yang telah mampu untuk menghindari konflik etnik yang serius. Dalam setiap kontinen dan khususnya setiap negara, etnisitas telah muncul kembali sebagai suatu kekuatan sosial dan politik yang vital. Komposisi jamak kebanyakan negara; kebijakan-kebijakan integrasi budaya mereka; frekuensi dan intensitas persaingan dan konflik etnik yang meningkat; dan proliferasi gerakan-gerakan etnik; itulah kecenderungan-kecenderungan dan fenomena utama yang membuktikan bertumbuhnya peran etnisitas dalam dunia modern. Dalam konteks pendapat-pendapat itu, Smith selanjutnya mencatat lusinan contoh daripada konflik etnik atau gerakan etnik yang ada, diantara\ nya ialah kerusuhan etnik di Malaysia, permusuhan orang-orang Jepang Clengan Burakumin, konflik Muslim-Hindu yang memisahkan Pakistan dari India, perang saudara di Libanon, konflik Palestina dan Timur Tengah, konflik rasial di Afrika Selatan, konflik di antara Hausa dan Ibo di Nigeria, gerakan Quebec di Kanada, pemberontakan orang-orang berkulit hitam di Amerika Serikat, konflik di Irlandia Utara, konflik di antara orang-orang Flemming dan Walloon di Belgia dan pengejaran atas beberapa minoritas etnik oleh Rusia di Uni Soviet. Jelas catatan Smith itu, yang lebih panjang daripada yang tercantum di atas, dapat lagi diperluas. Pada dasarnya, ada dua alternatif yang beralasan bagi teori fungsionalis. Yang satu adalah teori konflik ekonomi. Teori ini mengemukakan bahwa kebangkitan etnisitas adalah warisan historis daripada generasi (atau malah berabad-abad) dominasi ekonomi beberapa kelompok etnik oleh yang lainnya. Konflik etnik kontemporer dengan demikian merupakan arwah minoritasminoritas yang ditaklukkan secara historis yang datang kembali untuk menghantui kelompok-kelompok etnik yang dominan dan memaksa mereka untuk membayar dosa-dosa mereka. Jenis teori ini telah digunakan dalam bab ini untuk menjelaskan berbagai contoh konflik etnik dan rasial, tapi agaknya juga dapat berlaku untuk banyak kasus lainnya. Ada dua peristiwa yang secara khusus menonjol. Gerakan-gerakan Quebec Kanada Perancis untuk memisahkan diri dari Kanada merupakan contoh yang baik. Malah di Quebec, di mana mereka secara nyata jumlahnya melebihi pemakai bahasa Inggris, orang-orang Kanada Perancis merupakan minoritas etnik yang didominasi. Perekonomian diawasi secara tak sebanding oleh orang-orang Kanada Inggris, dan orangorang Kanada Perancis pada umumnya lebih jelek secara ekonomis bila dibartdingkan dengan orang-orang Kanada Inggris. Situasi mereka tidak secara total memiripi situasi orang-orang berkulithitam di Amerika Serikat, dan di Kanada orang pada umumnya dapat didengar ucapan-ucapan prasangka terhadap orang-orang Perancis yang sama dengan ucapan-ucapan yang didengar di Amerika Serikat terhadap orang-orang berkulit hitam. Di Irlandia Utara malah merupakan situasi yang lebih jelas di mana konflik ekonomi memainkan peranan yang besar. Konflik di antara kaum Protestan dan Katolik di sana sering ditafsirkan sebagai pertempuran menge-nai agama, tetapi lebih banyak dipandang sebagai konflik dalam sektor sosial ekonomi. Seperti telah diperlihatkan oleh Michael Hecter (1975), akar konflik Irlandia yang sekarang harus dipahami dalam hubungan dengan sejarah kolonialisme Inggris di Irlandia. Selama beberapa abad Irlandia berada dalam hubungan periferal dengan Inggris. Irlandia dijadikan suatu daerah penghasil dan pengekspor bahan mentah bagi keuntungan Inggris dan menjadi suatu “koloni internal”. Kolonisasi Inggris atas Irlandia disertai oleh permusuhan etnik yang tajam. Tuan-tuan tanah Inggris di Irlandia beragama Protestan yang menghina kebudayaan tradisional dan agamA. subordinat petani Katolik mereka. Situasi di Irlandia Utara dewasa ini muncul sebagai warisan historis situasi ekonomi ini. Orang-orang Katolik terkonsentrasi secara tak sebanding pada dasar tangga sosial-ekonomi. Mereka tertimpa diskriminasi ekonomi dan dipandang remeh oleh mayoritas Protestan. Sementara sudah jelas bahwa konflik di antara kaum Protestan dan Katolik adalah mengenai lebih dari sekedar perbedaan sosial-ekonomi, perbedaan-perbedaan itu berada pada akar konflik itu.

Jenis teori lain yang dapat membantu untuk menjelaskan keberlang-sungan etnisitas (jika bukan kebangkitannya yang kuat) kadang-kadang disebut primordialisme (cf. van den Berghe, 1981; A.D. Smith, 1981, 1986). Primordialisme berpendapat bahwa ikatan-ikatan etnik adalah jenis penggabungan manusia yang fundamental, yang dapat diperlunak tapi tak pernah dapat dihilartgkan sama sekali. Tidak seperti teori fungsionalis, pandangan ini berpendapat bahwa ikatan-ikatan etnik ini adalah fundamental bagi karakteristik dasar relasi-relasi manusia, termasuk ikatan-ikatan masyarakat industri (lihat kembali topik khusus pada akhir Bab 12).

Masalah terbesar dalam argumen kebanyakan primordialis, seperti dicatat di muka, ialah bahwa argumen-argumen itu menempatkan afiliasi etnik sebagai kecenderungan manusia yang “alamiah” tanpa mengatakan kepada kita mengapa harus demikian. Sebagaimana yang ditandaskan oleh van den Berghe (1981:17): “Sebagai suatupenyangga teoritis, kaum primordialis tidak mempunyai sesuatu yang lebih baik untuk berbalik bila dibandingkan dengan ideologi kaum fungsionalis yang sayup-sayup, romantik, dan kadangkadang rasis, yang oleh kaum primordialis ditunjukkan sebagai ilustrasi tentang pertengkaran mereka. Jenis kekuatan misterius dan mencurigakan yangbagaimanakah”bisikanberdarah” (voice of blood) yang mengerahkan orang kepada ketidaksenangan kesukuan, rasisme dan etnik? Versi sosiobiologis dari primordialisme akan dapat mengatasi kesulitan ini dengan mengemukakan bahwa kecenderungan ke arah penggabungan etnik berakar pada biogram manusia (cf. van den Berghe, 1981; Reynolds, Falger, and Vine, 1986). Pada hominid purba kesetiaan kelompok yang kuat tentunya sangat adaptif sebagai mekanisme untuk bertahan hidup individu, dan karena itu diuntungkan oleh adanya seleksi alam. Seperti telah dikemukakan di muka, argumen ini tidak dapat diabaikan begitu saja, dan mugkin seluruhnya bersifat komplementer dengan penjelasan tentang penggabungan etnik yang memberi penekanan pada konflik ekonomi. Penggabungan etnik itu jelas sangat dipengaruhi oleh tingkat kondisi sosial-budaya, khususnya kondisi ekonomi. Tetapi, karena kondisi-kondisi itu terus berlangsung sepanjang ruang dan waktu manusia (cf. A.D. Smith, 1986), maka adalah sulit untuk percaya bahwa kondisi-kondisi itu ada hanya karena rakhmat dari kekuatankekuatan sosial-budaya. Argumen-argumen sosial-budaya biologis tidak banyak dapat menyumbang untuk menjelaskan kebanyakan dimensi-dimensi stratifikasi ras dan etnik yang telah kita bahas dalam bab ini, tetapi mungkin saja relevan untuk menjelaskan mengapa sekurang-kurangnya ada semacam kecenderungan ke arah afiliasi, dan identitas etnik adalah sesuatu yang konstan dalam masyarakat manusia.

1. Para sosiolog pada umumnya merumuskan kelompok-kelompok sosial sebagai penduduk yang dapat dibedakan secara fisik menurut arti sosial. Kelompok-kelompok etnik ialah penduduk yang dapat dibedakan secara kultural, bukan secara fisik. Tetapi, dalam kenyataan kelompok-kelompok ras dan etnik sering saling tumpang tindih.

2. Ada dua tipe utama hubungan ras yang dapat dibedakan: yang paternalistik dan yang kompetitif. Relasi ras paternalistik adalah karakteristik pada masyarakat pra-industri, yang didasarkan pada pertanian perkebunan dan perbudakan. Pembagian seperti kasta di antara suatu kelompok ras yang dominan dan kelompok subordinasi timbul, dan suatu etiket ras yang luas mengatur hubungan di antara kelompokkelompok itu. Hubungan ras kompetitif diasosiasikan dengan masyarakat kapitalis industri yang mempunyai perekonomian manufaktur dan tenaga kerja upah. Paternalisme dan etiket ras masa lalu membuka jalan untuk timbulnya konflik di antara kelompok-kelompok ras mengenai akses ke posisi-posisi ekonomi.

3. Perdagangan budak dan perbudakan merupakanbagian vital dari kapitalisme yang terus berkembang di Dunia Baru. Perbudakan dijumpai pada masyarakat-masyarakat kapitalis periferal dan agaknya merupakan cara pengorganisasian angkatan kerja yang paling menguntungkan di bawah pengaturan perekonomian tertentu masyarakat-masyarakat itu. Terdapat suatu kaitan yang erat di antara ekonomi budak dan perkembangan kapitalisme di negara-negara pusat.

4. Perbudakan di Selatan Amerika Serikat mencapai puncaknya dalam periode 1800-1860, ketika sebagian besar beralih kegiatan ekonomi ke produksi kapas. Suatu sistem relasi ras patemalistik yang klasik telah muncul dari situ. Perbudakan di Brazil berbeda dari perbudakan di Selatan Amerika Serikat dalam banyak hal; namun demikian, perbudakan Brazil telah membangkitkan suatu pola relasi ras yang paternalistik yang sangat sama dengan paternalisme ras Selatan Amerika Serikat. Perbudakan juga terdapat di Hindia Barat. Di sini agaknya mempunyai bentuk yang sangat kejam dan despotik, dan paternalisme rasial sebagian besar tidak terdapat, tentunya karena kebanyakan pemilik perkebunan Hindia Barat adalah pemilik yang tidak berada di tempat dan karena keunggulan demografik yang menindih budak-budak.

5. Argumen bahwa perbudakan dihapus karena alasan moral dan kemanusiaan sangat disangsikan. Malah agaknya faktor-faktor ekonomilah yang penting. Perbudakan berlangsung lebih lama daripada manfaat ekonominya dan semakin tidak sebanding dengan kemajuan sistem kapitalisme industri yang cepat.

6. Berakhirnya perbudakan telah tergiring masuk ke dalam era relasi ras kompetitif. Di Amerika Serikat telah timbul bentuk-bentuk konflik ekonomi dan sosial di antara orang-orang berkulit putih dan berkulit hitam pada akhir abad xix dan berlangsung terus dalam abad xx. Orang-orang berkulit putih telah menggunakan praktek-praktek segregasi, terorisme, dan penyingkiran sebagai cara-cara membalas ancaman ekonomi yang ditampilkan oleh orang-orang berkulit hitam. Versi relasi ras kompetitif yang paling ekstrim di dunia ini ialah yang dijumpai di Afrika Selatan pada abad yang lalu. Afrika Selatan didominasi oleh minoritas numerikal berkulit putih yang memegang monopoli atas kekuasaan dan kekayaan. Suatu sistem apartheid yang ketat mengatur hubungan-hubungan di antara yang berkulit putih dan yang bukan berkulit putih. Dalam tahun-tahun terakhir ini konflik rasial telah tumbuh dan telah mengambil bentuk yang semakin keras. Inggris kontemporer juga dikarakteristik oleh suatu bentuk relasi ras kompetitif. Bentuk ini berkembang sesudah Perang Dunia II sebagai akibat meluasnya imigrasi ke Inggris dari koloni-koloninya masa lalu di Hindia Barat dan dari subkontinen India.

7. Teori-teori hubungan ras kompetitif utama adalah teori Marx ortodoks dan teori pasar tenaga kerja terbagi. Teori Marx menandaskan bahwa kaum kapitalis berusaha untuk membangkitkan konflik rasial agar dapat membagi-bagi kelas pekerja dan membuatnya lebih dapat dieksploitir. Teori pasar tenaga kerja terbagi memandang antagonisme rasial sebagai timbul dari suatu situasi yang lebih kompleks di mana para pekerja yang dibayar lebih tinggi yang berasal dari mayoritas ras atau etnik berusaha untuk mencegah para pekerja yang dibayar lebih rendah yang berasal dari kelompok minoritas dari persaingan secara ekonomi dengan mereka atas syarat yang sama. Usaha ini dapat menyebabkan timbulnya gerakan-gerakan eksklusi atau sistem kasta.

8. Rasisme adalah suatu ideologi yang memandang beberapa kelompok ras sebagai inferior secara biologis dibandingkan dengan yang lainnya. Ideologi ini jangan dikacaukan dengan prasangka, etnosentrisme, atau diskriminasi. Rasisine rupanya telah timbul di Barat sebagai suatu cara memberi pembenaran moral kepada perbudakan, dan peningkatannya sesudah berakhirnya perbudakan dapat dipahami sebagai akibat adanya ancaman ekonomi yang besar yang ditampilkan oleh orang-orang berkulit hitam.

9. Sejumlah besar minoritas ras, etnik, dan religius terdapat dalam masyarakat-masyarakat kompleks di seluruh dunia ini, dan masyarakat-masyarakat yang heterogen secara etnik jauh lebih umum daripada yang homogen secara etnik. Kompleksitas etnik telah timbul dari adanya faktor-faktor seperti kolonialisme, penaklukan politik, dan imigrasi. Perbedaan etnik biasanya diasosiasikan dengan stratifikasi dan konflik, tetapi ada masyarakat-masyarakat tertentu, misalnya Swis kontemporer, di mana perbedaan etnik sebagian besar diasosiasikan dengan persamaan dan harmoni.

10. Teori evolusi fungsionalis mengenai etnisitas menandaskan bahwa dengan semakin majunya masyarakat industri maka pembedaan-pembedaan etnik akan semakin menghilang. Namun, dalam abad xx ini, perbedaan etnik dalam banyak hal telah menjadi semakin berarti, dan konflik etnik telah meningkat. Pembagian etnik terjalin secara mendalam dengan organisasi ekonomi masyarakat dan konflik-konfliknya,dan bukan sekedar pernyataan simbolik pengelompokan-pengelompokan kelompok tradisional. Juga mungkin bahwa kecenderungan ke arah afiliasi etnik berbaur di dalam biogram manusia, sebagaimana telah dikemukakan oleh sejumlah ahli sosiobiologis baru-baru ini.

Filed under : Bikers Pintar,