Advertisement

nature (alam)

Konsep tentang alam adalah salah satu gagasan yang paling rumit dan sulit dipahami di kalangan sebagian besar masyarakat, yang mengekspresikan citra diri suatu masyarakat sekaligus dunia luarnya. Di berbagai sistem sosial dan intelektual di Barat, alam dianggap sebagai bagian dari wilayah dunia yang berada di luar masyarakat manusia, yang memiliki hukum-hukum sendiri, berjalan sesuai proses fisik, kimia dan biologinya sendiri. Namun, pemisahan yang begitu tajam antara alam dan masyarakat adalah hal baru dalam kerangka historis dan spesifik dalam kerangka geografis. Ini menjadi konsepsi dominan sejak munculnya modernitas kapitalis antara abadke-16 dan 17 di Eropa, dan ketika itu sejalan dengan perlakuan dan pengalaman praktis terhadap alam dari masyarakat yang mengalami industrialisasi begitu pesat di mana alam sekadar sebagai obyek eksploitasi dan transformasi dari umat manusia.

Intensitas keterlibatan manusia dengan dan transformasi terhadap alam menimbulkan suatu perlakuan pengimbang terhadap alam dalam pengertian yang lebih universal, bukan sekadar eksternal: alam bersifat mencakup segalanya (all-encompassing), yang mencakup manusia dan ranah sosial. Konsep alam yang universal itu memungkinkan munculnya gagasan tentang “alam manusia” dan mengilhami visi- visi ekologis mutakhir tentang alam. Berbagai konsepsi eksternal dan universal ini bersama-sama telah memberi kerangka pada perlakuan masyarakat barat kontemporer terhadap alam.

Berbagai ideologi tentang alam dalam wacana sosial pada mulanya mengundang ambiguitas dari dua konsep alam ini. Proses atau hubungan tertentu terjadi “secara alamiah” (in nature) untuk menjamin aplikabilitasnya dalam dunia sosial. Pada akhir abad ke-19, misalnya, Darwinisme Sosial mentransfer otoritas ilmu “alam” ke bidang perilaku sosial untuk mencoba menjelaskan bentuk-bentuk perilaku sosial kompetitif tertentu sebagai sesuatu yang “alami.” Dengan cara ini, konsep alam yang spesifik memiliki implikasi-implikasi yang sangat langsung dalam hal ideologi dan politik. Dengan demikian kategori-kategori sosial fundamental mengenai ras, jenis kelamin dan kelas, misalnya, atau tindakan-tindakan sosial seperti kompetisi ekonomi, bisa dikaitkan dengan perbedaan-perbedaan “alami” antar orang atau berbagai impuls alamiah pada semua orang. Persamaan terhadap alam dan wanita menunjukkan suatu penindasan ganda (simultaneous oppression) terhadap wanita maupun alam. Selain itu, universalitas alam merupakan asumsi dasar dari sebagian besar pandangan tentang dunia yang bersifat romantik dan utopis.

Meskipun diskursus ilmiah ditegakkan atas dasar asumsi mengenai alam eksternal itu, namun secara inheren tidak mengingkari universalitas alam. Dalam ilmu-ilmu sosial, terutama sub-bidang tertentu dari geografi, psikologi, dan antropologi disiplin-disiplin yang paling berkepentingan menjembatani kesenjangan antara peristiwa-proses sosial dan peristiwa-proses alam terdapat tradisi lebih kuat untuk mengaitkan alam-alam sosial dan “eksternal” itu. Dengan mengikuti pemikiran Cicero, Hegel (1970) mengakui adanya perbedaan antara alam pertama dan alam kedua. Alam pertama adalah yang orisinal, masih utuh, pemberian Tuhan dan merupakan bagian dari ilmu alam, sedangkan alam kedua berisi sistem struktur sosial, lembaga-lembaga ekonomi, kumpulan aturan hukum dan tata negara, dan berbagai lingkungan kedua (altered environment). Berbagai pendekatan kritis dalam ilmu-ilmu sosial pada umumnya mengembangkan perbedaan ini. Menurut Mazhab Frankfurt, produksi sosial dengan sendirinya melibatkan “dominasi alam , suatu hubungan sangat eksploitatif yang tersis- tematisasi bersamaan dengan munculnya masyarakat kapitalis. Kondisi ini membuat sejumlah ahli menafsirkan kehancuran ekologi masyarakat Barat dalam kerangka yang agak berdimensi tunggal sebagai pernyataan tentang “berakhirnya” alam (McKibben, 1989). Namun Mazhab Frankfurt itu memberikan uraian yang lebih rumit. Mereka berargumentasi bahwa dominasi alam itu tidak lebih sekadar alat untuk mendominasi orang-orang lain. Sehingga alam kedua tersebut mendominasi alam pertama dengan tujuan menguasai alam kedua itu sendiri. Karena itu menurut Horkheimer dan Adomo (1972), masyarakat manusia sedang berproses menjadi lebih dari sekadar “kegaduhan masif alam”, di mana respons satu-satunya yang muncul adalah “pemberontakan alam”.

Para ahli lain mempertanyakan apakah eksternalitas alam itu merupakan konsep yang bisa diterima di segala permasalahan global dari transformasi alam sosial; pembedaan yang dikemukakan Hegel pada tahun 1840-an seharusnya diteliti lebih jauh (Smith, 1984, Fitzsimmons, 1989). Tampaknya sekarang lebih akurat untuk menyatakan bahwa “produksi alam” bagi semua lingkungan global adalah  dalam derajat tertentu produk kegiatan manusia. Dalam hal ini, alam pertama diproduksi dan direproduksi dari alam kedua. Yang penting di sini, produksi alam global sama sekali tidak berarti kekuasaan alam dan juga tidak mengingkari kerja proses- proses “alam”, mulai dari gravitasi sampai fotosintesis. Bahkan ini mengimplikasikan bahwa masyarakat manusia terkait secara langsung dengan perubahan alam di masa depan. Perspektif seperti ini membawa implikasi-implikasi langsung terhadap gerakan lingkungan hidup, yang menutup semua akses ke alam “pertama” yang romantis dan primordial, dan mengusulkan suatu sumber praktis (tenaga kerja transformatif yang manusiawi) untuk mendapatkan resolusi terhadap dialektika alam-alam eksternal dan universal.

 

Incoming search terms:

  • definisi alam

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • definisi alam