Advertisement

Bronislaw Malinowski (1884-1942) dididik di Polandia sebagai seorang ahli matematika, kemudian mempelajari antropologi di Inggris selama 4 tahun dan selama Perang Dunia I tinggal di antara penduduk asli Pulau Trobriand. sambil mengamati cara hidup penduduk asli kepulauan tersebut. Dengan sama sekali mengasingkan dirinya dari orang-orang Eropa lainnya yang ada di kepulauan tersebut, dan juga dengan menyelami bahasa serta kebiasaan-kebiasaan dari penduduk asli, Malinowski mencoba untuk melihat “dunia” dari pandangan penduduk pribumi, ini agar dia dapat mengerti dengan baik kebudayaan penduduk Trobriand. Cara seperti yang ditempuh Malinowski ini dinamakan pendekatan penelitian lapangan melalui pengamatan melalui keturutsertaan (participant observer). Malinowski mengajukan sebuah orientasi teori yang dinamakan fungsionalisme. yang berpraanggapan atau berasumsi bahwa semua unsur kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat di mana unsur itu terdapat.  Dengan kata lain, pandangan fungsionalisme terhadap kebudayaan mempertahankan bahwa setiap pola kelakuan yang sudah menjadi kebiasaan, setiap kepercayaan dan sikap yang- merupakan bagian dari kebudayaan dalam suatu masyarakat, memenuhi beberapa fungsi mendasar dalam kebudayaan bersangkutan. Menurut Malinowski, fungsi dari satu unsur budaya adalah kemampuannya untuk memenuhi beberapa kebutuhan dasar atau beberapa kebutuhan yang timbul dari kebutuhan dasar yaitu kebutuhan sekunder dari para warga suatu masyarakat. Kebutuhan pokok adalah seperti makanan, reproduksi (melahirkan keturunan), merasa enak badan (bodily comfort), keamanan, kesantaian, gerak dan pertumbuhan. Beberapa aspek dari kebudayaan memenuhi kebutuhan- kebutuhan dasar itu. Dalam pemenuhan kebutuhan dasar itu, muncul kebutuhan jenis kedua (derived needs), kebutuhan sekunder yang juga harus dipenuhi oleh kebudayaan. Contohnya: unsur kebudayaan yang memenuhi kebutuhan akan makanan menimbulkan kebutuhan sekunder yaitu kebutuhan untuk kerja sama dalam pengumpulan makanan atau untuk produksi; untuk ini masyarakat mengadakan bentuk-bentuk organisasi politik dan pengawasan sosial yang akan menjamin kelangsungan kewajiban kerja sama tersebut di atas. Jadi menurut pandangan Malinowski tentang kebudayaan, semua unsur kebudayaan akhirnya dapat dipandang sebagai hal yang memenuhi kebutuhan dasar para warga masyarakat.

Malinowski percaya, bahwa pendekatan yang fungsional mempunyai suatu nilai praktis yang penting. Pengertian akan hal tersebut di atas dapat dimanfaatkan oleh mereka yang bergaul dengan masyarakat primitif. Malinowski menerangkannya sebagai berikut: “nilai yang praktis dari teori tersebut di atas (teori fungsionalisme) adalah bahwa teori ini mengajar kita tentang kepentingan relatif dari berbagai kebiasaan yang beragam-ragam itu; bagaimana kebiasaan- kebiasaan itu tergantung satu dengan lainnya, bagaimana harus dihadapi oleh para penyiar agama, oleh penguasa kolonial dan oleh mereka yang secara ekonomis mengeksploatir perdagangan dan tenaga orang-orang masyarakat primitif V Keberatan utama terhadap teori fungsional dari Malinowski adalah bahwa teori ini tak dapat memberi penjelasan mengenai adanya aneka ragam kebudayaan manusia. Kebutuhan-kebutuhan yang diidentifikasikannya, semuanya sedikit banyak bersifat universal, seperti kebutuhan akan makanan yang semua masyarakat harus memikirkannya kalau hendak hidup terus. Jadi pendekatan fungsional memang dapat menerangkan pada kita bahwa semua masyarakat membutuhkan pengurusan soal mendapatkan makanan, namun teori ini tidak dapat menjelaskan pada kita mengapa masyarakat-masyarakat berbeda-beda pengurusannya mengenai pengadaan makanan mereka. Dengan kata lain, teori fungsionalisme tidak menerangkan mengapa pola-pola budaya tertentu timbul untuk memenuhi suatu kebutuhan yang, sebenarnya dapat saja dipenuhi dengan cara yang lain yang dapat dipilih dari sejumlah alternatif dan mungkin malahan cara itu lebih gampang sifatnya.

Advertisement

Sekalipun begitu, tidak dapat diungkiri bahwa pendekatan teori fungsionalisme dapat secara bermanfaat diterapkan dalam analisa mekanisme-mekanisme kebudayaan-kebudayaan secara tersendiri, namun teori ini tidak mengemukakan dalil-dalil sendiri untuk menerangkan mengapa kebudayaan yang berbeda-beda memiliki unsur-unsur budaya yang berbeda dan mengapa terjadi perubahan dalam kebudayaan.

Advertisement