medical anthropology (antropologi medis)

Lepas dari antropologi medis telah menjadi subdisiplin yang paling populer dan diminati di AS dan tumbuh pesat di mana-mana, masih tetap sulit untuk mendefinisikan subyek kajiannya. Sama sekali tidak ada teks mengenai keseluruhan bidang ini yang diterima luas kendati karya mutahir Foster dan Anderson (1978) berpengaruh dalam kesehatan publik internasional McElroy dan Town- send (1985) menggambarkan pendekatan ekologis, dan Helman (1994) bermanfaat bagi para petugas klinik dalam mencari pemahaman pragmatis mengenai diri mereka sendiri dan budaya pasien mereka; selain itu, Johnson dan Sargent (1990) memberikan sembilanbelas artikel yang membahas perspektif teoretis, deskripsi mengenai berbagai sistem medis, kesehatan populasi, metode, kebijakan dan advokasi.

Minat meneliti berbagai reaksi orang dalam masyarakat dan budaya tertentu terhadap tubuh yang mengidap penyakit telah menjadi ciri antropologi sejak awal-mula terbentuknya sampai masa sekarang. Di antara para dokter yang menjadi ahli antropologi pada masa-masa awal, W.H.R. Rivers sebagai contoh, tertarik pada respons penduduk asli terhadap penyakit. Penduduk asli menganggap penyakit sebagai keja-dian alam, yang keberadaannya terpisah dari kepercayaan budaya tertentu. Karena itu ketika Victor Turner (1964) ditugaskan oleh Rhodes-Livingstone Museum untuk mempelajari Lunda, baik dia maupun pihak pensponsornya mengasumsikan bahwa, kendati praktek penyembuhan itu mempunyai budaya yang berbeda-beda, tapi penyakit yang menjadi sasaran penyembuhan itu bersifat tetap. Turner sendiri bersifat apologetik bahwa pengetahuannya yang kurang memadai tentang bidang medis menghalangi pemahamannya mengenai penyakit-penyakit mana yang sedang dirawat, dan kemudian Janzen (1978) menyebut dokter Arkinstall sebagai ahli yang mampu menghindari terjadinya peristiwa memalukan di bidang tersebut. Karya awal Frake (1961) menyebabkan dokter Fabrega yang berkolaborasi dengan Silver menyadari bahwa persepsi mengenai entitas penyakit dan tindakan yang diambil untuk melawan penyakit tersebut dipandang sebagai bagian dari sistem yang sama dari pemikiran yang hampir konsisten (Fabrega dan Silver 1973). Dengan demikian praktek penyembuhan bisa dianalisis dan digambarkan sebagai suatu etno pengobatan dalam caranya sendiri. Jadi, bukan dipandang sebagai tahapan yang belum sempurna magi-religius untuk menuju pemahaman yang sejati dan ilmiah. Sementara Frake (1961) dan para pengikutnya mempersepsikan sistem dalam bentuk yang relatif khusus dan utuh , para ilmuwan seperti Leslie (1978) di India dan Kleinman (1978) di Cina dihadapkan pada situasi yang rumit di mana begitu banyak orang tampaknya sanggup untuk hidup berdampingan bahkan hidup di dalam sistem yang tidak sesuai dengan keyakinan mereka mengenai sakit jasmani dan bagaimana menyembuhkannya. Situasi ini terjadi tanpa pemahaman yang jelas mengenai kegelisahan kognitif (cognitvediscomfort). ‘PluralismeMedis’,begitu sebutan yang kemudian dikenal, juga ditemukan di Afrika di mana sebagian pengobatan Barat telah tertanam karena sudah lama dikenal lepas dari ambivalensi politik (Comaroff 1981; Mc Cullough 1983) sementara pandangan yang sudah lebih lama ada, tapi tampak tidak konsis-ten, dikembangkan.

Namun, pluralisme yang sudah lama ada ini menimbulkan kesulitan bagi para ahli antropologi mengenai keandalan teori-teorinya. Di berbagai konferensi negara-negara berbahasa Inggris pada tahun 1970-an yang juga dihadiri para ilmuwan Afrika, Antipodea, Asia dan Eropa (lihat Leslie 1978; Loudon 1976) diprakarsai suatu pemikiran kembali teori yang bisa terus berkembang dan yang bisa digunakan secara luas, sebagai tambahan terhadap antropologi, dan merupakan kontribusi dari disiplin lain: filsafat, sosiologi, kritik literer, sejarah dan kajian sosial mengenai ilmu dan teknologi (lihat umpamanya Good 1994; Lindenbaum and Lock 199.3 . Hal ini melibatkan adakalanya dalam bentuk kemitraan yang sulit meski dengan individu yang sama para ilmuwan yang punya kualifikasi medis sekaligus memahami validitas aneka macam interpretasi, serta memahami validitas berbagai deviasi dari suatu norma fisik yang sehat. Kleinman (19878) menyebut persepsi yang beragam ini sebagai model penjelas (ex-planatory models). Ia mengindentifikasi orang- orang yang dalam budaya tertentu menggunakan model-model penjelas itu sebagai upaya peng¬gunaan bermacam-macam (secara tidak sistematis) diskursus populer, rakyat dan profesional untuk menghasilkan model-model yang bersandar pada pandangan mengenai alam pengalaman fisik jasmani (penyakit) dan/atau pengalaman subyektif dari rasa menderita (kondisi sakit).

Ilmuwan lain, yang dipengaruhi etnografi dan ide-ide mutahir dalam sosiologi medis, menekankan sebagai tambahan terhadap penyakit (disease) dan kondisi sakit (illness) kategori tersendiri yaitu sickness (Young 1982). Sickness ini diartikan sebagai penyebab sosial (dalam tradisi kesehatan masyarakat abad ke-I 8 yang terus berlangsung) atau sebagai kinerja budaya yang dibangun berdasarkan karya lanjutan Turner (1982)

atau kombinasi dari dua hal itu. Pertama, ini dimaksudkan untuk menghindar dari bahaya buku teks yang tidak representatif mendalam dalam bidang medis namun kurang memadai dalam bidang antropologi  yang menafsirkan kondisi sakit dan penyakit semata-mata sebagai perbedaan persepsi antara analisis obyektif, benar dan realis dan pandangan pasien yang subyektif, salah dan imajiner. Artinya, pengetahuan hanya diperbandingkan dengan kepercayaan. Kedua, dimungkinkan dalam masyarakat industri di mana parameter sickness dianalisis sebelum kejadian dengan tidak hanya memasukkan faktor- faktor teknologi, sosial dan politik-ekonomi, tapi juga setelah kejadian memasukkan elemen-elemen ritual dan intrumental dari proses penyem buhan yang mempunyai legitimasi budaya. Proses penyembuhan ini mungkin sama beragamnya dengan pengusiran roh jahat atau pemakaian ajimat dan pemberian pengejut jantung.

Pada pertengahan 1980-an, ada dua tren yang tampaknya mendominasi pemahaman mengenai sakit jasmani dalam konteks sosial dan budayanya. Pertama, dikaitkan dengan kritik radikal baru (terutama di luar antropologi) terhadap ekonomi politik dan organisasi sosial dan pengobatan biologis (yang disebut ‘biomedicine) yang di semua masyarakat berporos di sekitar konsep sickness. Kedua, sebagaimana awalnya dinyatakan Hahn (1983), yang tidak hanya memfokuskan pada kondisi sakit (illness) tapi juga proses budaya di mana kondisi sakit itu diberi makna oleh para penderitanya dan para penyembuhnya. Jadi, konsep yang terpenting di sini adalah penderitaan akibat masalah-masalah fisik ataupun sebab yang lain.

Pada saat perdebatan intelektual ini berlangsung di AS, ada banyak entografi penting yang dihasilkan dan diterbitkan (dua monograf terbaik yang mengilustrasikan tren-tren ini, lihat Farmer 1992; Scheper Hughes 1993), dan profesionalisasi sedang berlangsung. Suatu kelompok antropologi medis dibentuk dalam naungan American Anthropological Association dan berkembang hingga menghasilkan satu buletin dan kemudian mentransfomasi buletin itu menjadi jurnal yang komprehensif. Artikel pertama dalam Medical Anthropology Quarterly adalah karya Scheper Hughes dan Lock (1987) dan membuktikan bahwa ‘sang raja bukannya tidak punya baju tapi justru terlalu banyak baju’. Ada begitu banyak fokus ditetapkan baik dalam kerangka fenomenologis mengenai bagaimana sakit itu, maupun dalam kerangka kritis mengenai bagaimana sakit itu diciptakan, sehingga tubuh yang menderita sakit justru terabaikan dalam pandangan ini. Mereka berusaha mengatasi masalah ini dengan mengambil berbagai teori dari Mauss, Mary Douglas dan para ahli Antropologi simbolik mengenai tubuh (dalam kerangka) sosial; dari sejarah dan sosiologi mengenai tubuh dalam kerangka politik dan kontrol sosial dan lebih dari itu, dengan menerapkan filsafat non-Barat, tulisan-tulisan fenomenologis Barat, pandangan non-biomedis dan sebagian kecil biomedis dan pemikiran feminis, untuk memformulasikan suatu teori-penangkal (counter theory) terhadap pemikiran dualistik mengenai tubuh dan berbagai penyakitnya yang telah mendominasi budaya Barat setidaknya sejak masa Descartes. Artikel mereka dan berbagai diskusi berusaha mencerminkan dan mengkristalisasi kecenderungan yang lebih besar untuk melihat sickness dalam kerangka agen personal dan pengalaman budaya di lingkungannya; deskripsi mengenai penyakit biologis telah ditransendensikan jika tidak diganti  praksis situasional dari orang yang menderita kemalangan. Dalam teori dan praktek, para ahli antropologi medis berpendapat bahwa fokus mereka terhadap berbagai aspek kegagalan dalam tubuh sehat hidup telah mengembalikan mereka dari empirisme yang didominasi penerapan biomedis (yang berada di periferi antropologi sosial dan budaya) menuju pusat disiplin antropologi yang lebih umum. Kemalangan dipandang sebagai sesuatu yang menyebabkan individu-individu mempertanyakan kemampuan budaya mereka untuk memproduksi dan mereproduksi keberadaan sosial dan identitas pribadi mereka suatu ancaman terhadap keamanan ontologis. Analisis ini membantu memberi kemungkinan pada semua pihak termasuk mereka yang berwenang di bidang perawatan dan pengobatan terhadap ‘sakit’ untuk memahami sendiri aspek-aspek yang paling hakiki dari kesadaran bersama manusia.