material culture (budaya material)

Budaya material merupakan sumber bukti penting yang terdapat di luar ilmu sosial dan humaniora. Secara sempit budaya material diterjemahkan sebagai kajian mengenai produk-produk material buatan manusia, atau, seperti yang dinyatakan George Kubler (1962) sebagai ‘sejarah benda- benda’. Kajian ini memfokuskan pada kesenian dan artefak, karena itu biasanya mencakup juga kajian tentang proses teknologi yang terlibat dalam produksi obyek tersebut dan sistem konseptual di dalamnya yang membuat obyek-obyek tersebut ada. Budaya material mencakup juga konstruksi manusia atas lingkungan sebagai suatu lanskap budaya dan ekonomi, karena artefak merupakan instrumen dalam proses ekonomi dan lanskap ditranformasikan melalui tindakan-tindakan manusia. Dalam ilmu-ilmu sosial, artefak dipandang sebagai bagian dari budaya dan integral dengan proses reproduksi sosial. Artefak tidak dapat dipahami dalam suatu isolasi yang terlepas dari konteks sosial dan budaya yang lebih luas tempat artefak ini berada.

Pada antropologi abad ke-19, obyek-obyek material digolongkan bersama karakter budaya yang lain dalam model-model para teoretisi evolusioner seperti Pitt-Rivers, Tylor dan Haddon. Budaya material diterima sebagai suatu petunjuk dari tingkat perkembangan sosial dan budaya masyarakat tertentu, dan analisis tipologis membentuk rangkaian formal yang diasumsikan menunjukkan evolusi masyarakat dari bentuk-bentuk sederhana menjadi kompleks. Para teoretisi difusionis yang menaruh perhatian pada jejak asal mula gagasan, juga menggunakan budaya material sebagai sumber utama pembuktian. Mungkin karena kegunaannya sebagai bukti dalam teori evolusioner dan difusionis. serta keterkaitannya dengan sejarah spekulatif, budaya material hampir diabaikan antropologi Inggris selama paruh pertama abad Kedua pul uh. Sebagai konsekuensinya, kajian terhadap budaya material terlepas dari revolusi kerja-iapangan yang mulai mentransformasi antropologi di awal abad keduapuluh, di mana pada saat itu perhatian beralih ke kajian masyarakat kontemporer dalam kaitannya sebagai fungsi keseluruhan. Di AS situasinya lebih kompleks. Budaya material merupakan bagian integral dari teori budaya-wilayah dan antropologi evolusioner ekologis dari White dan Steward. Selain itu, arkeologi AS mempertahankan minat teoretis terhadap budaya material justru ketika budaya material diabaikan oleh semua disiplin ilmu. Sejak tahun 1960-andan seterusnya, budaya material merupakan cabang dari arkeologi etno, arkeologi ‘baru’ dan arkeologi behavioralis (Gould dan Schiffer 1981) yang melakukan banyak penelitian terhadap budaya material kontemporer.

Tahun 1960-an terjadi pembaruan minat yang lebih luas terhadap subyek, yang dirangsang oleh pertumbuhan antropologi simbolik dan perhatian para arkeolog terhadap budaya material masyarakat kontemporer sebagai suatu sumber data untuk penafsiran arkeologis. Selain itu, dengan berakhirnya fungsionalisme dan terjadinya pergerakan menuju suatu kerangka teoretis yang lebih bertumpu pada sejarah, budaya material kembali berdiri sendiri sebagai sumber informasi yang dapat menambahkan suatu dimensi waktu pada riset (lihat Appadurai 1986). Pemisahan budaya material dari data sosial dan budaya yang lain tampaknya menjadi tidak beralasan, dan berbagai obyek telah diintegrasikan kembali dalam teori sosial. Hal ini menimbulkan dampak ganda: terbukanya timbunan data yang sebelumnya terabaikan sehingga menimbulkan pemahaman mengenai proses sosial serta pemahaman yang lebih baik tentang artefak-artefak itu sendiri. Budaya material makin banyak digunakan sebagai sumber bukti oleh para sejarawan sosial, psikolog, dan peneliti budaya. Penelitian atas budaya material telah memberi kontribusi khusus pada berbagai teks tentang pertukaran, proses penciptaan nilai (Munn 1986), dan terhadap pemahaman proses konsumsi.

Inti penelitian analisis mengenai budaya material memberikan penjelasan atau interogasi mengenai bentuk obyek-obyek material. Artefak pada dasarnya bersifat unik: bisa dicatat secara mendetail dan masyarakat bisa ditanyai mengenai bentuk artefak tersebut (Ucko 1969). Tapi tujuannya antara lain adalah mengungkapkan lewat analisis sistem penggagasan (ideational systems) yang mendasari produksi dan konsumsi artefak, untuk memperjelas aspek konkret dari bentuk permukaan artefak tersebut dengan cara menghubungkan artefak dengan sejarah dan mengaitkannya dengan keberagaman proses sosial. Analisis seringkali dibatasi kerangka semiotik atau pemaknaan (lihat Hodder 1989). Namun, adalah penting untuk menerapkan perspektif yang luas terhadap pemaknaan, yang bisa mengaitkan fungsi-fungsi instrumental suatu obyek dengan dimensi-dimensi nilai lainnya yang meliputi faktor-faktor seperti estetika, gaya, simbolisme dan ekonomi.

Konsep obyektifikasi telah terbukti berguna dalam kajian mengenai budaya material. Obyek- obyek material dapat dipandang sebagai obyektifikasi dari sistem-sistem pengetahuan, metode produksi dan pembagian kerja yang digunakan dalam penciptaan obyek material tersebut, dan sebagai obyektifikasi dari nilai-nilai yang terwakili dalam pola-pola konsumsi dan konteks-konteks penggunaan. Penempatan obyek-obyek ini pada titik tumpu suatu proses yang mengaitkan produksi dengan konsumsi telah membuat obyek- obyek ini menjadi subyek yang bermanfaat untuk analisis. Analisis budaya material memberikan informasi mengenai penciptaan nilai, ekspresi identitas individual dan mengenai motivasi yang mendasari perilaku konsumen. Budaya material makin sering digunakan sebagai sumber informasi dalam kajian mengenai masyarakat-masyarakat yang kompleks, serta berbagai pola dan proses global (Miller 1987).

Sejak abad ke-19, para ilmuwan sosial memandang budaya material sebagai bukti penting untuk proses sejarah dan global, tapi mereka menggunakan perspektif yang baru dan sangat berbeda. Walau masih ada minat terhadap obyek- obyek budaya material sebagai petunjuk terhadap batas-batas budaya dan tanda dari kategori- kategori sosial, kebanyakan para peneliti menaruh perhatian pada transformasi nilai dan pemaknaan obyek seiring obyek-obyek ini bergerak dari satu konteks ke konteks lain, baik sebagai bagian dari sistem pertukaran lokal ataupun proses perdagangan global (Thomas 1991). Obyek-obyek material seringkah bertahan hidup lebih lama daripada pembuatnya; sehingga obyek-obyek tersebut menjadi sumber bukti mengenai bentuk kehidupan masa lampau sekaligus merupakan obyek yang dicerminkan oleh generasi sesudah generasi pembuatnya. Seiring berjalannya waktu, artefak seringkah terjebak dalam proses ideologi dan mendapati dirinya sendiri lebur dalam konteks baru yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh para pembuatnya terdahulu. Kajian mengenai budaya material mencakup analisis mengenai restrukturisasi ideologi, entah itu dalam bentuk industri warisan masa-sekarang ataukah dalam proses reinterpretasi terhadap seni rock selama beberapa generasi dan konsekuensinya terhadap produksi lukisan-lukisan sesudahnya.

Budaya material tidak hanya menciptakan potensi tapi juga menghambat tindakan manusia, dan tunduk terhadap agen-agen manusia; manusia membuat obyek yang berharga tapi mereka juga mengubah makna obyek-obyek.

Incoming search terms:

  • budaya material
  • Kebudayaan material
  • contoh kebudayaan material
  • pengertian material culture
  • pengertian budaya material
  • pengertian kebudayaan material
  • Contoh budaya material
  • material culture adalah
  • kebudayaan material adalah
  • Contoh material culture

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • budaya material
  • Kebudayaan material
  • contoh kebudayaan material
  • pengertian material culture
  • pengertian budaya material
  • pengertian kebudayaan material
  • Contoh budaya material
  • material culture adalah
  • kebudayaan material adalah
  • Contoh material culture