Advertisement

Yang disebut juga Xhosa-Ciskei, sebuah negara republik setengah merdeka di pantai tenggara Afrika Selatan. Oleh kebanyakan negara, Ciskei dianggap sebagai negara boneka yang diatur Afrika Selatan. Walaupun Ciskei berpemerintahan sendiri, urusan pertahanan, luar negeri dan banyak soal kenegaraan masih diurus oleh Republik Afrika Selatan yang menganut politik apartheid. Hampir semua negara merdeka di Benua Afrika menilai Ciskei sebagai negara boneka yang dibentuk oleh Republik Afrika Selatan. Negara ini berbatasan dengan Samudera Hindia di bagian selatan; serta Republik Afrika Selatan di tenggara, barat laut, dan timur laut. Wilayah Afrika Selatan yang memanjang ke timur laut, bagaikan jari-jari tangan, memisahkan Ciskei dari Transkei. Sebagian besar penduduk negeri pantai tenggara Afrika Selatan ini berasal dari Afrika Selatan. Bahasa yang digunakan bahasa Xhosa.

Sebelumnya, negara ini merupakan bagian dari Republik Afrika Selatan. Pada tahun 1981, Ciskei memisahkan diri untuk membentuk negara dan pemerintahan sendiri. Eksistensi Ciskei tidak diakui kebanyakan negara di dunia.
Ciskei, yang berarti “sisi sebelah sini Kei”, menunjukkan lokasi republik ini di bagian hilir Sungai Kei Besar. Sebaliknya Transkei, yang berarti “sisi sebelah sana”, terletak di bagian hulu sungai itu.
Perekonomian. Di bidang pertanian, penduduk menanam jagung, gandum, kentang, serta tanaman subtropis lainnya. Di bidang peternakan, dipelihara sapi dan domba dalam jumlah besar dan diusahakan secara besar-besaran. Negara ini kekurangan sumber daya tambang. Hasil industri terpenting ialah tekstil dan barang-barang dari kulit.
Banyak penduduk Ciskei bekerja di luar perbatasan negaranya terutama di King William’s Town. Pekerja migran ini menghasilkan sekitar dua pertiga pendapatan nasional. Pusat industri dalam negeri terletak di Diombaza dan Sada. Untuk kemajuan pendidikan, penduduknya, di kota Alice dibangun Universitas Fort Hare.

Advertisement

Advertisement