Advertisement

COMOROS
yang bernama resmi Republik Federasi Islam Comoros, sebuah negara kecil di Afrika. Letaknya di Samudera Hindia, di antara daratan utama Afrika dan negara kepulauan Madagaskar. Beberapa pulau besar dan kecil membentuknya. Empat pulau yang besar adalah Anjouan, Grande Comoro, Mayotte, dan Moheli. Sampai tahun 1975 semua pulau tersebut menjadi milik Perancis.

Hampir seluruh ekonomi negara ini bergantung pada pertanian. Tidak ada industri besar ataupun kandungan alam yang berharga. Pendapatan per tahun penduduknya rata-rata hanya 100 dolar, sehingga negara ini menjadi salah satu yang termiskin di dunia. Tahun 1975, ketika ketiga pulau besar di Comoros memerdekakan diri, Perancis menghentikan bantuan tahunannya sebesar 18 juta dolar. Ketiadaan bantuan tersebut menghancurkan ekonomi Comoros.

Advertisement

Gunung-gunung berapi membentuk sebagian besar Kepulauan Comoros. Yang masih aktif Gunung Kartala di Pulau Grande Comoro. Rawa menutupi hampir seluruh pulau di Comoro mulai dari garis pantai. Iklimnya sejuk dan kering. Musim hujan yang panas berlangsung dari bulan November sampai April. Satu-satunya sumber air minum alami adalah hujan lebat pada musim itu yang ditampung untuk mencukupi keperluan air selama setahun.

Luas seluruh wilayah Comoros, termasuk Mayotte, 2.171 kilometer persegi, dengan penduduk sekitar 480.000 jiwa yang sebagian besar hidup di pedesaan. Kota Moroni di Pulau Grande Comoro merupakan kota terbesar dan ibu kota. Mata uang yang berlaku franc. Pemerintah Comoros menetapkan bahasa Perancis sebagai bahasa resmi, tetapi yang digunakan dalam pergaulan adalah bahasa Arab atau Swahili. Agama yang umum dianut adalah Islam. Produk utama negara ini pisang, cengkeh, kelapa, jagung, jenis tanaman untuk parfum, beras, vanili, bumbu penyedap masakan, dan umbi.
Penduduknya keturunan Arab, Afrika Hitam, dan kelompok etnis lainnya. Hampir seluruh penduduk ini petani. Makanan pokoknya beras. Masalah utama yang dihadapi antara lain wabah penyakit, kelaparan, kekurangan gizi, dan kelangkaan pendidikan. Pelayanan kesehatan sangat minim. Hanya sekitar sepertiga jumlah anak yang sanggup menyelesaikan pendidikan dasar. Dari jumlah tersebut hanya sedikit yang meneruskan pendidikannya ke sekolah lanjutan atas.

Advertisement