Advertisement

ARTI DAN HAKIKAT BAHASA

1. Dalam Cratylus, Plato mengkaji masalah hubungan nama-nama dengan benda. Cratylus mengutarakan bahwa anta keduanya terdapat suatu hubungan alamiah sedangkan lawa- nya mempertahankan bahwa nama-nama merupakan kesepakatan belaka.

Advertisement

2. Tekanan Confucian pada “rektifikasi (pembetulan) nama-nama menganjurkan pendekatan seperti yang dilakukan oleh Craijlus; tetapi Hsun Tzu menganut baik doktrin rektifikasi nama-nama maupun pandangan bahwa nama merupakan kesepakatan saja.

3. Aristoteles, kaum Stoa, pengikut Pyrrho, dan Skolastisisite mempunyai perhatian khusus pada bahasa, walau berbaur dengan pengkajian tentang logika dan epistemologi.

4. Hobbes memahami bahasa sebagai komputasi (penghitungan) dengan kata-kata, seraya senantiasa mengikuti kekuatan penglaman.

5. Leibniz mencanangkan suatu characteiistica universalis (bahaa universal) yang dapat dijabarkan pada semua bidang.

6. Herder memberikan penafsiran naturalistik atas asal bahaa. Bahasa muncul dari peniruan bunyi-bunyi alam.

7. Von Humboldt berpendapat bahwa tiap bahasa memiliki suatu Sprachform, sebuah bentuk batin yang mengandung secara tersirat suatu pandangan dunia yang khas.

8. Ferdinand de Saussure (1857 — 1913) memandang bahasa sebagai lumbung kata-kata dan ungkapan (frasa), kalimat-kalimat hasil aktivitas bebas dan kreatif.

9. Paul Tillich membedakan antara tanda dan lambang; bahasa agama menggunakan lambang. Lambang (simbol) memiliki kehidupannya sendiri dan berhubungan dengan realitas secara unik.

10. Ludwig Wittgenstein dan Russell mengutarakan bahwa harus ada hubungan kecerminan antara simbol dan fakta yang disimbolkannya (semacam hubungan antara sebuah benda atau wajah seseorang dan bayangannya di dalam cermin). Tetapi kemudian Wittgenstein mengangkat konsep atau teori “permainan bahasa”. Menurut teori ini, bahasa terlalu kaya hanya untuk dirujuk kepada fakta saja.

11. R. Carnap menganggap bahasa sehari-hari tidak memadai se¬bagai sarana pekerjaan konseptual. la menentukan kaidah-kaidah bahasa. Itu berarti ia membangun atau menyusun bahasa-bahasa ideal yang kiranya dapat dijadikan wahana uniuk memecahkan masalah konseptual.

12. Benyamin Lee Whorf (1897- 1941), bersama dengan Sapir, inengajukan tesis tentang relativitas linguistik yang dikenal dengan nama “hipotesis Sapir-Whorf”. Menurut hipotesis ini, cara seseorang mempersepsi realitas berawal dari struktur (susunan) bahasanya. Pelbagai bahasa menyediakan berbagai peta ide yang mungkin, atau beraneka “segmentasi penga- laman”.

13. John Austin memusatkan perhatiannya pada perbuatan bahasa, sambil membedakan jenis-jenis lokusioner, ilokusioner, dan perlokusioner. Pada hematnya, perhatian besar pada bahasa alamiah dan penggunaannya kiranya memberikan sarana atau cara pemecahan, atau penghapusan masalah filosofis.

14. Chomsky membedakan antara struktur-dalam bahasa dan struktur luarnya. Manusia, menumtnya, memiliki “kemampuan bahasa” yang amat spesifik.

Incoming search terms:

  • masalah hakekat bahasa

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • masalah hakekat bahasa