Pe­mikiran neo-Marxis.

Arti dependency (ketergantungan) adalah Teori keter­gantungan adalah termasuk dalam pe­mikiran neo-Marxis yang muncul di ilmu sosial Amerika Latin pada akhir 1960-an. Menurut T. Dos Santos (1970), “hubung­an interdependensi menjadi hubungan yang tergantung ketika beberapa negara dapat berkembang dengan dorongan dari diri sendiri sedangkan negara lain han­ya dapat berkembang sebagai refleksi dari ekspansi negara dominan.” Walau istilah ini dapat dijumpai dalam tulisan Marxis sebelum Lenin (seperti dalam Otto Bauer), istilah ini diberi tekanan oleh Lenin, ter­utama dalam pamfletnya tahun 1916 ten­tang imperialisme “sebagai tahap terakhir kapitalisme.” Teori ketergantungan pada dasarnya adalah kebangkitan kembali konsep imperialisme Lenin, yang fokusnya digcser ke efeknya (yang jarang dibahas Lenin) terhadap perekonomian terting­gal. Kwame Nkrumah, pemimpin Ghana, menggemakan pandangan Lenin ketika dia mengatakan, “neo-kolonialisme adalah ta­hap akhir dari kapitalisme.”

Teori dualisme.

Ide ketergantungan lahir sebagai reaksi terhadap interpretasi dualis terhadap ke­tertinggalan negara-negara Amerika Latin. Teori dualisme ini berasal dari teori Mo­DERNIZATION, dipakai untuk membedakan antara sektor perekonomian dan masyara­kat progresif modern dengan kawasan tra­disional yang stagnan, yang dicap sebagai prakapitalis. Teoretisi ketergantungan, se­baliknya, memandang DEVELOPMENT AND UNDERDEVELOPMENT sebagai posisi fungsi­onal di dalam perekonomian dunia, bu­kan tahap di tangga evolusi. Arti dependency (ketergantungan) adalah Sebelumnya, perekonomian Amerika Latin dianggap didominasi oleh pandangan yang diidenti­fikasi dengan ECLA (UN Economic Com­mission for Latin America). Mentornya, ekonom Argentina Raul Prebisch, percaya bahwa keterbelakangan Amerika Latin mencerminkan posisi periferalnya (ping­giran) di dalam perekonomian dunia dan merupakan akibat dari adopsi kebijakan perdagangan bebas saat ekspor komoditas kawasan itu mengalami penurunan harga. Produsen utama Dunia Ketiga, berbeda dengan produsen padi di area kulit putih abad ke-19, dalam jangka panjang tidak mendapat profit besar dari perdagangan bebas. Teori ketergantungan sepakat de­ngan diagnosis Prebisch tetapi menolak rumusah Keynesiannya: industri substi­tusi impor (ISI) yang didukung negara dan bersifat proteksionis, yang kemudian menjadi ideologi pembangunan yang ter­kemuka. Karya awal ekonom ECLA dari Brasil, Celso Furtado (1964), memberikan transisi konseptual dari Prebisch dengan menegaskan bahwa di negara terbelakang ukuran pasar domestik yang kecil mem­batasi formasi kapital, dan menganggap negara sebagai alat untuk mengatasi ke­macetan struktural. Pukulan telak terhadap pandangan dualis dan reformisnic na – sionalis terjadi ketika seorang sosiolog dari Mexico, Rodolfo Stavenhagen, mengemu­kakan beberapa “kesalahan tesis tentang Amerika I,atin” (1968), menyerang gagas­an “trickle-down” kemajuan yang dise­barkan industrialisasi, dan menyatakan bahwa kemajuan tercapai dengan mengor­bankan daerah tertinggal, dan menyangkal (a) bahwa borjuis nasional bertentangan dengan tuan tanah, (b) bahwa buruh pu­nya kepentingan yang sama dengan petani, dan (c) bahwa kelas menengah adalah pc­ngusaha dan progresif.

Kon­sepsi kapitalisme Marxis. Arti dependency (ketergantungan) adalah

Teori ketergantungan juga mengubah pandangan Amerika Latin tentang imperi­alisme. Sampai pada periode antarperang (seperti dalam pemikiran Haya de la Torre) pandangan anti-imperialis di selatan AS menghubungkan keterbelakangan dengan eksploitasi asing, tapi tidak dikaitkan de­ngan kapitalisme. Tetapi, teori ketergantu­ngan memilih mengikuti pembalikan kon­sepsi kapitalisme Marxis menurut Lenin. Marx memandang kapitalisme sebagai tren sejarah yang progresif secara fundamental (walau akhirnya runtuh), sedangkan Le­nin menganggap kapitalisme dalam tahap imperialisnya sebagai proses dekaden dan parasitik yang menjadi penghalang kema­juan ekonomi dan sosial. Pandangan ini di­anut oleh teoretisi ketergantungan “garis keras” seperti A. G. Frank (1969), Dos Santos, Rui M. Marini, dan Samir Amin (1970). Pendekatan yang lebih “lunak” seperti pendekatan Gramsci segera dikem­bangkan oleh sosiolog dari Sao Paulo, F. H. Cardoso, sedangkan garis reformis struk­turalis dipimpin oleh Furtado dan ekonom Chili Osvaldo Sunkel. Gunder Frank mengawali aliran keter­gantungan pada 1967 dengan memanfaat­kan tesis Paul Baran The Political Economy of Growth (1957) yang menyatakan bah­wa eksploitasi Dunia Ketiga bukan hanya makin meluas setelah berakhirnya era ko­lonial, tetapi juga menjadi makin efektif, dan keterbelakangan merupakan akibat dari penghisapan ekonomi dari daerah tertinggal olch kapitalisme metropolitan yang maju. Frank memberikan frasa yang menarik untuk proses ini: “pembangunan keterbelakangan”. Menurutnya, pemba­ngunan dan keterbelakangan bukan hanya relatif dan kuantitatif, tetapi juga “relasi­onal dan kualitatif” karena “berbeda se­cara struktural”; mekanisme kapitalis yang sama akan menghasilkan perkembangan di pusat dan keterbelakangan di pinggir­an. Area “feodal”, dalam jargon dualis, adalah area yang paling menderita dalam proses ini. Jadi bagian paling “kuno” dari Amerika Latin, seperti dataran tinggi di Peru atau Brasil, sebelumnya adalah pusat perekonomian dan dinamika perdagangan di kawasan itu. Analisis Frank dengan cepat ditentang. E. Laclau (1977) mengecamnya karena mendefinisikan mode produksi, seperti Paul Sweezy dan kubu dualis, dari segi relasinya dengan pasar, bukannya meng­ikuti penekanan Marxis klasik terhadap struktur kelas dan rclasi sosial. Poin yang sama juga dikemukakan Robert Brenner (1977) dalam kritiknya terhadap Imma­nuel Wallerstein, seorang sejarawan kapi­talisme neo-Marxis yang cerdas dalam memadukan pandangan Frank dengan penjelasan Fernand Braudel tentang “du­nia ekonomi” yang dibentuk oleh kapital modern awal (lihat Wallerstein, 1974). Frank dan Wallerstein menjadi sumber ter­kenal dari teorisasi ketergantungan (lihat juga WORLD-SYSTEM).

Kemunculan otoritari­anisme. Arti dependency (ketergantungan) adalah

Teori ketergantungan dalam ilmu politik (lihat O’Donnell, 1973) berusaha menghubungkan kemunculan otoritari­anisme dengan kemunduran ISI. ISI pada masa awal lebih berkonsentrasi pada in­dustri ringan padat tenaga kerja, dengan teknologi level rendah dan biaya investasi rendah, dan produksi ditujukan pada kon­sumen berpendapatan rendah. Tetapi ISI pada masa yang lebih belakangan mem­produksi barang-barang kapital atau ba­rang konsumen tahan lama dan mahal yang membutuhkan teknologi tinggi dan investasi mahal. Konsekuensinya, uhan konsumsi lebih digerakkan oleh kelompok kelas menengah dan dibutuh­kan represi politik untuk mencegah kelas rendah mengubah pola distribusi ini me­lalui pemilu. Ketergantungan terjadi me­lalui perusahaan multinasional, penyedia utama modal dan teknologi di bawah ISI akhir. Karya Cardoso dan Faletto (1969) adalah tipologi borjuis, yang diklasifikasi­kan berdasarkan tingkat otonominya vis­a-vis ekonomi ekspor dan multinasional di dalam konteks beberapa negara. Cardoso mendukung prinsip Frank, menegaskan di­alektika antara kekuatan-kekuatan pasar, struktur kelas dan tradisi politik nasional. Tetapi hasil akhir dari pandangannya ten­tang teori ketergantungan telah mengabur­kan penjelasannya sebagai hipotesis kaus­al; apa yang didapatkan dalam pengertian konteks hilang dalam kekuatan penjelas­annya (cf. Jaguaribe, 1973). Pertanyaan besar yang belum terjawab teori ketergantungan adalah bagaimana beberapa negara “yang tergantung” bisa menjadi makmur? Ekonomi Kanada ada­lah tergantung kepada AS dalam hal per­dagangannya, dan negeri ini lebih banyak dimasuki modal AS ketimbang negara Mexico, tetapi Kanada menjadi negara maju dan Mexico masih termasuk negara berkembang. Yang jelas, utang luar negeri telah menyebabkan banyak negara ber­kembang terjebak dalam ketergantungan finansial. Walaupun demikian, meski pe­nyebab langsung dari ketergantungan ada­lah tingkat bunganya yang tinggi di era Rcagan di AS, namun akar penyebabnya adalah peminjaman besar-besaran secara bebas berdasarkan keputusan untuk mem­buat perekonomian berkembang seperti Brasil dan Mexico se-autarki mungkin (sebab jalur lain untuk menarik investasi asing akan membuat utang mereka berada pada level yang rendah). Karena itu, pada tingkat tertentu, kesulitan akibat utang saat ini mungkin merupakan akibat buruk dari keinginan autarki tersebut, bukan me­refleksikan situasi ketergantungan yang se­sungguhnya.

Filed under : Uncategorized,