Marxian economics (ekonomi Marxis)

Ekonomi Marxis awalnya dimulai dari suatu pernyataan umum mengenai ‘teori nilai pekerja’ (labour theory of value/GLTV). di mana nilai dalam pertukaran komoditas didasarkan pada eksploitasi produksi. Hal ini menimbulkan suatu perhitungan terhadap proses tenaga kerja, untuk menunjukkan seberapa jauh eksploitasi terjadi dan bagaimana eksploitasi itu diukur dengan suatu tingkat eksploitasi  jam kerja yang ditetapkan majikan dibagi jam kerja yang diperlukan pekerja. Dari sini, berkembanglah ‘teori nilai pekerja khusus (special labour theory of value/SLTV): harga, atau rasio pertukaran antar komoditas, diperbandingkan dengan jam kerja yang dibutuhkan secara langsung atau tidak lang¬sung dalam menghasilkan komoditas tersebut. Harga-harga ini bisa dikalkulasi dari data input- ouput dan bersifat independen dari distribusi surplus antar kelas-kelas sosial. Tapi, kecuali dalam kasus-kasus tertentu, harga tidak bersesuaian dengan tingkat laba konstan (uniform rate of profit) dalam modal, seperti persaingan bebas yang cenderung untuk mapan (Steedman 1977). (Masalah relasi antar harga-harga yang didasarkan pada nilai-nilai tenaga kerja dan harga yang didasarkan pada suatu tingkat laba konstan disebut ‘problem transformasi’).

Berbagai teori eksploitasi dan nilai pekerja tidak hanya penting tapi juga merupakan fondasi. Batang tubuhnya sendiri berpusat pada ‘Hukum besar akumulasi kapitalis’ (general law of capitalist accumulation/OLGA), di mana akumulasi modal diikuti, pari passu, dengan suatu peningkatan dalam proletariat, yang pada gilirannya untuk mempertahankan cadangan pekerja industrial dari para pengangguran tetap yang diatur proporsi ukurannya dengan modal totol. Argumentasi untuk proporsi ini membutuhkan suatu cara menampilkan harga-harga yang independen terhadap distribusi {karena, sebagai contoh, jika modal mengakumulasi lebih cepat daripada pertumbuhan proletariat, maka upah akan meningkat dan laba merosot, akumulasi pun melambat), tapi jangan sebaliknya tergantung pada SLTV. Setelah GLCA menjadi mantap, Marx kembai ke ‘teori sirkulasi’, kecenderungan tingkat laba yang merosot, perilaku persewaan, teori krisis dan peran uang, kredit dan suku bunga.

Sejak pertengahan 1960-an, muncul suatu kebangkitan ekonomi Marxis, terutama berkat karya Piero Sraffa (1960). Konstruksi Sraffa terhadap komoditas standar, yang memecahkan problem Ricardo tentang ukuran tetap untuk nilai, memberikan suatu cara dalam menampilkan harga secara konsisten dengan suatu tingkat laba konstan sekaligus bersifat invarian dengan perubahan-perubahan distribusi. Jelasnya. SLTV bisa diabaikan: sementara GLTV tetap tidak terpengaruh. karena tingkat eksploitasi dan hubungan antara eksploitasi dengan laba dapat dibuktikan secara lebih jelas danpada sistem ekuasi yang diterapkan Sraffa (Morishima 1973/. Karena jelas, yang memungkinkan suatu tindakan analitis terhadap efek konflik kelas pada upah dan ekploitasi kendati karya modem biasanya memberi “skup” yang lebih luas terhadap faktor-faktor permintaan ketimbang yang dilakukan Marx.

Namun, sistem ekuasi yang memberikan validitas pada skema dasar Marxis  GLTV dan GLCA meruntuhkan argumentasi Marxis mengenai kecenderungan tingkat laba menurun sekadar sebagai akibat dari peningkatan komposisi modal organik. Perusahaan tidak akan mengadaptasi suatu teknik baru kecuali jika lebih murah daripada teknik yang lama (tentunya pada tingkat harga terakhir). Tapi ini mesti bisa dibuktikan bahwa jika harganya memang lebih murah, maka ketika diterapkan dan harga-harga baru ditetapkan, tingkat laba yang baru tidak akan berkurang dari tingkat harga yang lama. (Roemer 1981). Karena itu, teori Marx tentang krisis memerlukan fondasi lain. Inilah yang kemudian menjadi pemicu lahirnya karya penting mengenai teori sirkulasi, uang dan kredit yang membuat tradisi Marx berhubungan dengan karya yang telah dikerjakan aliran pasca Keynesian. Lebih khusus, para Marxis dan neo Ricardian menaruh minat pada apakah tingkat laba menentukan tingkat suku bunga, atau sebaliknya, ataukah keduanya (tingkat laba dan tingkat suku bunga) sama-sama ditentukan.

Masalah sirkulasi dan uang menimbulkan suatu reevaluasi terhadap persaingan dan kecenderungannya yang makin besar terhadap sentralisasi dan konsentrasi. Persaingan dikonseptualisasi sebagai bentuk konflik strategis, tapi belum ada teori pembangunan dan perilaku perusahaan yang diterima secara luas. Namun, kajian ini berkembang pesat.

Ekonomi Marxis mendapatkan banyak manfaat dari kebangkitan kembali klasik yang dipicu Sraffa. Tapi Marx memusatkan pemikiran ekonominya pada kritik terhadap klasik, terutama bahwa klasik menerapkan relasi-relasi kekuatan sosial untuk tatanan-tatanan alamiah dari berbagai barang, dan hanya dikaitkan dengan satu elemen kekuatan yaitu: uang, modal, komoditas  yang sebenarnya berada dalam hubungan-hubungan kelas. Ekonomi Marxis juga belajar dari pasca Keynesian dan tradisi klasik modern, dan menetapkan identitasnya yang terpisah melalui suatu kritik terhadap aliran-aliran ini. Kritik Marx yang paling esensial: sistem ekonomi berjalan berdasarkan hukum tapi hukum-hukum ini pada gilirannya bergantung pada keadaan sistem politik dan ekonomi, dan in tidak bisa dipahami secara ter-pisah dari keseluruhan sistem. Kritik yang sangat tajam ditujukan pada masalah teori kebijakan ekonomi, di mana para ahli pasca Keynesian cenderung untuk mengaitkan kebijakan ekonomi dengan kekuasaan negara dan suatu tingkat netralitas padahal netralitas ini menurut para Marxis tidak mungkin ada dalam sistem Kapitalisme.