neo-classical economics (ekonomi neo-klasik)

Istilah ekonomi neo-klasik merujuk pada versi terbaru dari ekonomi klasik yang dimunculkan dan dikembangkan pada abad ke-19, terutama oleh Alfred Marshall dan Leon Walras. Versi- versi yang terkenal itu dikembangkan pada abad ke-20 oleh John Hicks (1946 [1939]) dan Paul Samuelson (1965 [1947]). Lepas dari pengertian neo-klasik umumnya, perbedaan ekonomi neo-klasik dan klasik hanya terletak pada penekanan dan pusat perhatiannya. Jika metode-metode klasik menjelaskan segala kondisi ekonomi dalam kerangka kekuatan-kekuatan yang tampak misterius seperti “tangan tak ter-lihat” (invisible hand), maka ekonomi neo-klasik mencoba memberi penjelasan lengkap dengan memfokuskan pada mekanisme-mekanisme aktual yang menyebabkan terjadinya kondisi ekonomi tersebut.

Dunia teoretis (pure world) yang hendak dije-laskan ekonomi neo-klasik berisi individu-individu berpikiran bebas pengambil keputusan yang dirasionalisasi dalam kerangka tujuan dan sarana, yang berinteraksi satu sama lain hanya dengan sarana kompetisi pasar, dan segala kesementaraan (the while) hanya dibatasi dengan kendala-kendala alam. Adalah penting untuk menggarisbawahi apa yang dihapuskan dari pandangan dunia ini. Lembaga-lembaga sosial seperti gereja atau pemerintah kecuali lem-baga-lembaga yang secara eksplisit dapat dijelaskan sebagai konsekuensi dari pilihan pasar individu tidak mempunyai peran penting. Selain itu, otoritas juga dipandang tidak mempunyai peran. Individu atau unit pengambil keputusan seperti perusahaan senantiasa mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya atau perusahaannya.

Di dunia neo-klasik, setiap kali individu-individu tidak puas dengan keadaan (katakanlah, karena tidak makan cukup roti), mereka segera bisa masuk ke pasar dan berkompetisi dengan pembeli lain dengan cara meninggikan penawarannya (untuk roti tersebut), sehingga menimbulkan suatu insentif setidaknya bagi satu produsen untuk lebih cenderung menjual produknya kepada mereka daripada kepada orang lain. Proses meningkatnya harga pasar itu menaikkan harga jual rata- rata sehingga memberi indikasi pada para produsen bahwa seharusnya disediakan lebih banyak produk, dan mengindikasikan kepada para pembeli lain bahwa mereka harus mempertimbangkan substitusi (untuk roti) yang lebih murah. Bila waktunya memang memungkinkan maka semua kegiatan pasar semacam itu bisa terlaksana, sehingga akhirnya semua orang relatif merasa puas dengan apa yang bisa mereka peroleh (memperoleh lebih banyak lagi berarti mereka harus bekerja melebihi apa yang mereka anggap sebagai optimal) . Proses pasar itu berlangsung hingga mencapai satu titik di mana seorang individu dapat memperoleh sesuatu hanya dengan menimbulkan kerugian kepada orang lain sehingga ia tetap tidak puas. Dengan kata lain, dalam jangka panjang semua orang mengalami kebahagiaan relatif terhadap tujuan pribadinya sendiri dan terhadap keberadaan alamiah mereka (seperti, sumber daya atau keterampilan yang diperoleh turun-temurun).

Sejak tahun 1930-an, analisis-analisis formal terhadap dunia neo-klasik yang sangat khas ini sering menunjukkan bahwa setiap upaya untuk mencampuri mekanisme pasar bebas baik dengan manipulasi harga-harga maupun dengan membatasi perdagangan pasar hanya akan menimbulkan suatu dunia di mana sejumlah orang tidak berkesempatan memilih apa yang mereka inginkan dan karena itu membawa mereka dalam kondisi yang tidak optimal. Namun demikian, para kritikus seperti John Maynard Keynes seringkah membuktikan bahwa jumlah waktu yang diperlukan untuk berlangsungnya aktivitas pasar tidak realistis. Para kritikus lainnya, seperti Thorstein Veblen, hanya menyatakan bahwa dunia neo-klasik pada dasarnya tidak realistis karena sejumlah orang tidak bertindak bebas, dan karena itu tidak ada jaminan sama sekali meskipun tersedia cukup waktu bahwa semua orang akan puas. Meskipun terdapat beberapa perkecualian, sebagian besar pakar ekonomi neo-klasik mengindahkan analisis formal tentang dunia khas neo-klasik atau aplikabilitas berbagai teorema formalnya terhadap persoalan-persoalan keseharian dunia.

Beberapa ekonom yang memfokuskan perhatiannya pada aspek-aspek analitis dari teori ekonomi berusaha menjawab berbagai kritik yang tertuju pada mereka. Sementara itu, sebagian besar ahli teori ekonomi neo-klasik menaruh perhatian terhadap berbagai masalah lain yang tak kalah pentingnya. Dapatkah kita benar- benar yakin untuk mengandalkan pandangan mendunia (world weivjyang memungkinkan pengambilan keputusan independen saja atau persaingan bebas saja? Bagaimana caranya menspesifikasi detil dunia neo-klasik formal untuk menjustifikasi keyakinan semacam itu? Para pengritik masih mempertanyakan kecukupan (sufficiency) dari dunia yang sepenuhnya kompetitif dan individualistis dan mempertanyakan apakah detil-detil lain masih diperlukan. Apakah dunia ini mensyaratkan adanya sejumlah individu yang berperan serta sebagai pembeli dan sebagai penjual? Apakah dunia ini juga memerlukan ketidakterbatasan waktu dalam jangka lama dan, jika demikian, berarti menciptakan dunia yang tak masuk akal? Kendati perlunya syarat- syarat tambahan semacam itu masih meragukan, namun berbagai pandangan yang memiliki logika memadai tentang dunia para pembuat keputusan telah berjalan, berhasil dan cermat.

Karena, sesuai dengan komitmen metodologis, semua peristiwa pada akhirnya harus dijelaskan dalam kerangka ekonomi neo-klasik sebagai konsekuensi-konsekuensi logis dari pengambilan keputusan individual yang diarahkan oleh peristiwa pasar, maka berbagai elemen pengambilan keputusan individu pun menjadi sasaran berbagai analisis formal ekstensif. Hanya sayangnya, lepas dari berbagai bukti mengesankan tentang kecepatan dan kemampuan matematika yang luar biasa, tidak banyak yang bisa didapatkan sekadar dari apa yang telah dipelajari dari buku-ajar kalkulus elementer. Setiap individu diasumsikan berusaha memaksimalisasi dalam kerangka beberapa tujuan kuantitatif tertentu (misalnya, utilitas, laba atau pendapatan bersih) sembari menghadapi kendala- kendala alami tertentu (misalnya pengetahuan atau kemampuan teknis, atau keterampilan pribadi). Pada gilirannya, setiap kali utilitas (kuantitas yang mewakili tingkat kepuasan yang didapat melalui kegiatan mengkonsumsi barang yang dibeli tersebut) bisa dimaksimaiisasi. hubungan formal antara kuantitas suatu barang dan utiliios itu (“fungsi utilitas’) harus merupakan suatu hubungan di mana di atas kisaran pilihan yang relevan setiap unit tambahan dari barang itu pasti hanya memberi tambahan yang letin sedikit ketimbang unit-unit sebelumnya kepada utilitas total. Hal ini diistilahkan sebagai “utilitas marjinal yang berkurang” (diminishing marginal utility) dan utilitas ini (atau beberapa versinya yang multidi¬¨mensional seperti diminishing marginal rates of substitution) adalah syarat yang harus dipenuhi setiap fungsi utilitas individual. Mengapa setiap utilitas marjinal individual berkurang belum per-nah dijelaskan secara memadai dengan menggunakan prinsip-prinsip ekonomi. Yang dapat ditegaskan hanyalah bahwa ada syarat tertentu bagi terwujudnya dunia neo-klasik. Analisis serupa telah dikemukakan untuk tujuan-tujuan individu yang lain (misalnya laba, kekayaan, kesejahteraan), meskipun pada akhirnya semua tujuan lain bisa direduksi pada analisis maksimalisasi utilitas (lihat Samuelson 1965 [1947]).

Para pakar ekonomi neo-klasik lainnya secara tidak langsung sudah dan tengah mencoba menjawab berbagai kritik dengan menunjukkan bahwa bahkan tanpa jaminan bahwa dunia neo-klasik itu realistik atau mungkin neo klasik dapat digunakan untuk menjelaskan secara rinci tentang berbagai peristiwa ekonomi mutakhir. Ada begitu banyak artikel ilmiah yang mengetengahkan keandalan teori-teori neo-klasik itu. Semuanya berusaha menunjukkan bahwa semua peristiwa ekonomi yang perlu (desirable economic event) pasti merupakan konsekuensi logis dari berbagai tujuan dan pilihan individu- individu, dan semua peristiwa yang tidak perlu (undesirable economic event) pasti merupakan akibat dari peristiwa-peristiwa alam yang tidak diramalkan atau konsekuensi dari campurtangan pemerintah atau perusahaan terhadap pasar. Sejauh ini, hanya sedikit ahli yang bisa diyakinkan oleh berbagai formalitas yang tidak menarik itu atau bahkan oleh sejumlah pembuktian yang dikatakan berhasil.

Incoming search terms:

  • neo klasik
  • Neoklasik
  • ekonomi neo klasik
  • ekonomi neoklasik
  • TEORI EKONOMI NEOKLASIK
  • pengertian neoklasik
  • pengertian neo klasik
  • teori neo klasik
  • artikel tentang teori ekonomi neoklasik
  • teori ekonomi neo klasik

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • neo klasik
  • Neoklasik
  • ekonomi neo klasik
  • ekonomi neoklasik
  • TEORI EKONOMI NEOKLASIK
  • pengertian neoklasik
  • pengertian neo klasik
  • teori neo klasik
  • artikel tentang teori ekonomi neoklasik
  • teori ekonomi neo klasik