Ekonomi politik

Semakin banyak ilmuwan politik yang bekerja pada batas-batas ilmu politik dan ilmu ekonomi. Sebagian percaya bahwa teori-teori perilaku politik, sebagaimana teori-teori perilaku ekonomi, harus bermula dan asumsi sederhana tentang manusia dan harus membangun prediksi-prediksi tentang perilaku mereka dari asumsi-asumsi ini. Bagi para eksponen pilihan rasional, pengujian bagi suatu teori yang baik adalah daya prediksinya bukan kebenaran asumsi-asumsinya yang tidak bisa dipertandingkan. Para pengritik mereka mengklaim bahwa para eksponen pilihan rasional punya keyakinan yang sama dengan para ahli ekonomi bahwa manusia hanyalah babi-babi yang tumbuh terlalu besar, yang tidak pernah puas menggapai kepentingan diri dengan rakus. Para eksponen pilihan rasional umumnya membuat asumsi bahwa manusia adalah agen yang rasional dan mementingkan diri. Mereka membangun hipotesis yang bisa diuji di atas asumsi bahwa para pemilih ingin memaksimalkan kemanfaatan mereka, bahwa para politisi adalah pencari-jabatan belaka yang ingin memaksimalkan suara dalam pemilihan umum, dan bahwa para birokrat yang memaksimalkan-kemanfaatan akan berusaha memaksimalkan anggaran departemen mereka. Pemikiran yang demikian telah menggerakkan literatur uang ekstensif, misalnya, tentang ekonomi politik dari lingkaran bisnis, di mana para ahli teori mencoba memprediksi bagaimana para politisi memanipulasi alat- alat ekonomi untuk membangun atau menciptakan dukungan politik (misalnya Tufte 1978), dan teori-teori regulasi, di mana para analis mencoba memprediksi industri-industri mana yang akan diatur oleh pemerintah (lihat pembahasan dalam Hood 1994).

Secara lebih umum para ahli ekonomi politik mencari penjelasan bagi fenomena politik dan ekonomi. Mereka mengajukan pertanyaan “Siapa yang untung?” dan “Siapa yang membayar?” dalam mencari penjelasan terhadap hasil-hasil politik. Investigasi pilihan rasional terhadap ekonomi politik domestik dilengkapi oleh murid-murid ekonomi politik internasional yang berusaha memadukan disiplin-disiplin politik dan ekonomi dalam penelitian mengenai organisasi-organisasi internasional seperti GATT, NAFTA dan Uni Eropa, serta kajian-kajian yang lebih umum tentang ekonomi proteksionisme dan perdagangan bebas.

Yang membingungkan, label ekonomi politik juga digunakan oleh para ilmuwan politik yang bekerja di dalam tradisi Marxis. Mereka umumnya menerima proposisi materialisme historis dan menjelaskan hasil-hasil politik sebagai jawaban terhadap akumulasi kapital yang dipaksakan, perjuangan kelas, dan krisis-siasat pencegahan perluasan kekuasaan. Mereka menggunakan teori- teori Marxis tentang negara dalam analisis mereka terhadap demokrasi liberal, serta teori-teori imperialisme dan keterbelakangan dalam kajian- kajian tentang negara-negara dunia bekas jajahan

Sosiologi politik merupakan sekat interdisiplin sosiologi yang penting, yang telah berkembang sejak 1950an. Para ahli sosiologi politik menolak pembedaan yang tegas antara politik dan sosial, dan menekankan tingkat tinggi interaksi antara keduanya, yang kurang ditekankan dalam pendekatan tradisional terhadap sosiologi dan ilmu politik. Sosiologi politik menarik argumen-argumen yang dikembangkan dari karya-karya para ahli sosiologi klasik yang paling masyhur, terutama sekali Max weber (khususnya tulisan-tulisannya tentang rasionalisasi, birokratisasi dan sosiologi dominasi) , Emile Durkheim (terutama pembahasannya tentang identifikasi dan norma- norma kolektif) dan Karl Marx (khususnya tulisan- tulisannya tentang negara dan kelas).

Perhatian utama Sosiologi politik terhadap hunbungan antara struktur sosial (terutama sekali kelas ekonomi) dan perilaku politik (terutama pemilihan) telah berkembang secara luar biasa sejak pertengahan 1960-an hingga mencakup semua aspek hubungan-hubungan kekuasaan antar dan di dalam kelompok-kelompok sosial. Perdebatan dalam bidang ini sering terjadi antara mereka yang memperlakukan institusi politik umumnya bersifat otonom dari determinasi struktur sosial, mereka yang percaya bahwa institusi- institusi politik umumnya dipersempit menjadi determinasi struktur sosial, dan mereka yang memandang perbedaan antara politik dan sosial sebagai hal yang tidak tetap dan tidak menentukan. Yang disebut belakangan kini dominan. Misalnya, para ahli teori gerakan politik dan sosial seperti Charles Tilly membedakan antara polity, di mana pengaruh politik formal dikonsentrasikan, dan masyarakat eksternal, tetapi menganggap proses memobilisasi sumber daya dalam pencarian atau pertahanan kepentingan pada dasarnya sama bagi kedua penantang dan anggota polity sejalan dengan konsepsi pluralis negara dan masyarakat.

Divisi lain di dalam sosiologi politik adalah antara mereka yang mendukung teori-teori fungsionalis, yang memperlakukan konflik sebagai suatu penyimpangan dari keadaan keseimbangan yang normal, dan pendekatan-pendekatan Marxis atau asal pluralis, yang memandang konflik sebagai ciri politik yang terus-menerus dan terdapat di mana-mana.

Masalah-masalah yang dikaji dalam sosiologi politik meliputi pengaruh sosialisasi kanak- kanak terhadap keyakinan-keyakinan politik, pentingnya jenis kelamin, etnisitas, agama dan kelas di dalam membentuk dan menjelaskan keyakinan-keyakinan dan preferensi politik (khususnya preferensi memberikan suara); pengaruh media massa dalam politik, dan definisi serta konsekuensi kebudayaan politik.

Incoming search terms:

  • Pengertian ekonomi politik
  • Definisi ekonomi politik
  • perbedaan ekonomi politik dan politik ekonomi
  • ekonomi politik adalah
  • pengertian ekonomi politik menurut para ahli
  • pengertian ekonomi politik secara umum
  • pengertian politik ekonomi
  • perbedaan ekonomi politik dengan politik ekonomi

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • Pengertian ekonomi politik
  • Definisi ekonomi politik
  • perbedaan ekonomi politik dan politik ekonomi
  • ekonomi politik adalah
  • pengertian ekonomi politik menurut para ahli
  • pengertian ekonomi politik secara umum
  • pengertian politik ekonomi
  • perbedaan ekonomi politik dengan politik ekonomi