phenomenology

Sebagai suatu gerakan filsafat, fenomenologi didirikan oleh Edmund Husserl, seorang filsuf Jerman. Tujuan utama gerakan ini adalah memberi landasan bagi filsafat agar dapat berfungsi sebagai disiplin ilmu yang murni dan otonom. Metode yang digunakan adalah deskriptif, dan bertujuan mengungkap intensionalitas (intentionality), kesadaran (conciousness) dan dunia kehidupan manusia (Lebenswelt). Ide tentang “dunia kehidupan” (life-world) dari “pengalaman hidup” {lived experience) yang selalu “diterima sebagai apa adanya” bahkan oleh ilmu-ilmu empiris merupakan salah satu konsep utama fenomenologi yang menarik minat banyak ilmuwan, termasuk para psikolog dan psikiater. Namun, para kritikus menyatakan bahwa bila konsep-konsep fenomenologi diubah dari ranah asalnya ke dalam konteks ilmu sosial, maka maknanya mengalami perubahan radikal.

Tokoh penting dalam transisi dari fenomenologi murni ke sosiologi modern adalah Alfred Schutz. Schutz, yang memiliki latar belakang pendidikan hukum dan ilmu sosial, dan secara pribadi berkawan dengan Husserl, tiba di AS dari Austria tahun 1939; selanjutnya ia sangat dipengaruhi oleh keberhasilan generasi para filsuf dan ilmuwan sosial dari New School for Social Research di New York. Dalam tulisannya yang berjudul Der sinnhafte Aufbau der sozialen Welt, 1932 (The Phenomenology of the Social World, 1967), Schutz mengupas pemikiran Max Weber tentang metodologi ilmu-ilmu sosial. Inti pemikiran Weber adalah pandangan bahwa sosiologi berurusan dengan “pemahaman interpretatif ” terhadap “tindak sosial” manusia. Walaupun hal ini pada dasarnya benar, menurut Schutz, pemikiran Weber memerlukan penjelasan lebih jauh yang dapat dilakukan melalui analisis fenomenologi terhadap struktur realitas sosial dan terhadap penafsiran realitas itu sendiri.

Pemikiran-pemikiran Schutz dikemukakan dalam karyanya Collected Papers (3 jilid, 1962-6). Gagasan pokoknya adalah:

obyek-obyek pemikiran yang dibangun oleh ilmuwan sosial merujuk kepada dan dibangun atas obyek- obyek pemikiran yang tersusun berdasarkan pemahaman umum (common sense) terhadap kehidupan manusia sehari-hari di antara manusia lain di sekelilingnya. Jadi, konstruksi yang digunakan para ilmuwan sosial adalah konstruksi tahap kedua, yaitu konstruksi atas konstruksi yang dibuat para aktor di atas panggung sosial, di mana perilakunya diamati para ilmuwan dan dicoba untuk dijelaskan berdasarkan prosedur keilmuan yang digelutinya.

Hubungan antara para ilmuwan sosial dengan obyek penelitiannya sama sekali berbeda dengan hubungan antara para ilmuwan alam dengan obyek penelitiannya. Dunia sosial adalah dunia yang diinterpretasi dan fakta ilmu-ilmu sosial adalah fakta yang diinterpretasikan. Menurut Schutz, karakteristik yang mendasar dari realitas sosial ini memberikan problem pokok kepada ilmu so¬sial: mencoba membangun pemikiran yang obyektif dari sebuah realitas yang subyektif.

Dalam sosiologi kontemporer, ide-ide Schutz digunakan untuk beberapa tujuan. Namun kesamaannya adalah upaya mengklarifikasi landasan filsafat dan metodologis bagi pengetahuan sosiologi. Perbedaan tujuan ini dapat ditemukan dalam karya P. Berger dan T. Luckmann The Social Construction of Reality (1966jyang secara khusus membahas bagaimana pendekatan fenomenologi mampu mengarahkan pengetahuan sosiologi tradisional menuju suatu pencarian dunia apa-adanya (taken for granted world) terhadap pengetahuan pemahaman umum. Sementara, karya A.V. Cicourel Method and Measurement in Sociology (1964) merupakan kritik terhadap metode riset yang dipakai ilmu sosial konvensional, yang tidak bisa menemukan penggunaan akal sehat secara implisit dan dalam karya H. Garfinkel Studies in Ethnomethodology (1976) merupakan penggunaan ide-ide fenomenologi yang paling radikal yang menghasilkan kesangsian mendasar terhadap pencapaian ilmu-ilmu sosial konvensional.

Tak bisa dielakkan, semua ilmuwan yang mengaku bekerja dalam tradisi fenomenologi dalam pengertian luas telah meradikalisasi atau melakukan penafsiran ulang terhadap ide-ide dasar fenomenologi. Sebagian besar ilmuwan sosiologi fenomenologi telah berkonsentrasi pada problem yang relatif berskala kecil dan skeptis pencapaian aliran utama sosiologi yang selama ini memfokuskan pada analisis makro terhadap struktur sosial. Sebagian masalah ini dapat ditelusur balik dari analisis Schutz tentang pemikiran Weber di mana ia membahas esai metodologi Weber tanpa melihat substansi sosiologi Weber; tetapi hal ini juga mencerminkan kegagalan seluruh proyek fenomenologi untuk memahami dunia ilmu pengetahuan.

Dalam konteks yang lebih luas, fenomenologi telah mempengaruhi para filsuf yang tertarik kepada sifat ilmu-ilmu kemanusiaan, di mana banyak di antara mereka telah mencoba menggabungkan ide-ide fenomenologi dengan ide-ide dari tradisi yang lain, seperti Marxisme. Tokoh- tokoh yang mewakili kalangan ini adalah M. Merleau-Ponty, J.P. Sartre dan H Arendt