ARTI HAPUSNYA PERDAGANGAN BUDAK DAN PERBUDAKAN – Inggris mengakhiri perannya dalam perdagangan budak pada tahun 1807. Meskipun beberapa kegiatan perdagangan budak ilegal masih terus berlang-sung sesudah tahun ini namun Inggris telah secara resmi mengatakan bahwa partisipasinya di dalam perdagangan budak telah berakhir. Penghapusan perbudakan itu sendiri baru mulai beberapa tahun kemudian. Inggris meng-hapuskannya di seluruh kerajaan itu pada tahun 1833, Amerika Serikat mengalchirinya pada tahun 1863, dan Brazil berakhir pada tahun 1888. Kekuatan apakah yang mendorong peristiwa-peristiwa itu? Mengenai penghapusan keterlibatan Inggris di dalam perdagangan budak, Immanuel Wallerstein (1979a) mengemukakan suatu penjelasan yang dapat dipercayai. Ia mengemukakan dua alasan mengapa Inggris mau mengakhiri perdagangan budak itu. Pertama, pada awal abad xix Inggris sedang mulai melakukan perembesan kolonial ke Afrika untuk menggunakannya sebagai suatu daerah penghasil tanaman; karena itu, orang-orang Afrika, bagi Inggris, menjadi lebih berharga sebagai pekerja yang dikolonisasikan di negeri yang jauh. Kedua, Inggris bermaksud untuk meniadakan ekses pard. pesaing Eropanya ke perbudakan. Karena itu Wallerstein melihat penghapusan perdagangan budak oleh Inggris sebagai dipedomani oleh motif-motif ekonomi rasional.

Mengenai penghapusan perbudakan itu sendiri, generasi para sarjana telah memberi perhatian kepada peranan sentimen kemanusiaan, yang menandaskan bahwa sentimen itu telah memainkan peranan yang penting dalam menghentikan perbudakan itu. Tentu saja banyak orang — di Inggris, Amerika Serikat, dan di mana pun — selama abad xviii dan xix yang menyerukan dibentikannya perbudakanberdasarkan perikemanusiaan tetapi, Eric Williams (1966) telah mencatat, motif-motif “perikemanusiaan” dari orang-orang itu telah secara luas disalahpahami. Williams percaya bahwa rasa kemanusiaan yang dinyatakan oleh banyak orang Inggris yang menyerukan diakhirinya perbudakan pada dasarnya tidak lebih daripada suatu selubung motif-motif ekonomi yang melandasinya. Sementara banyak individu yang berpengaruh mengutuk perbudakan atas dasar moral, mereka sesungguhnya mempunyai motif-motif ekonomi yang kuat untuk diakhirinya perbudakan itu. Williams mencatat, misalnya, bahwa sementara banyak abolisionis mengutuk perbudakan Hindia Barat, mereka mentolerir — malah mendorong — perbudakan di Brazil, Kuba dan Amerika Serikat. Hal ini terjadi selama masa ketika Hindia Barat menjadi beban secara ekonomis bagi Inggris pada masa yang sama ketika Inggris masih mempunyai kepentingan ekonomi yang vital dalam melestarikan perbudakan di Brazil, Kuba dan Amerika Serikat. Williams selanjutnya menjelaskan (1966:190-191):

Kaum abolisionis memboikot produk yang ditanam budak Hindia Barat Inggris, yang dilumuri oleh darah orang Negro. Tetapi keberadaan kapitalisme Inggris bergantung pada kapas yang ditanam budak Amerika Serikat, yang sama berkaitan dengan perbudakan dan dicemari dengan darah. Hindia Barat dapat secara sah bertanya apakah “perbudakan hanya tercela di negeri-negeri dengan mana (sic) tidak berdagang, dan di mana hubungan-hubungan mereka tidak terdapat”. Para pemboikot gula Hindia Barat duduk di atas kursi-kursi kayu mahogani Kuba, di muka meja-meja kayu rosewood Brazil, dan menggunakan dudukan tiang kayu yang dipotong oleh budak.

Apakah gula pasir dibutuhkan? Kaum kapitalis mengatakan ya; Gula itu diperlukan untuk membuat kapitalisme Inggris berlangsung. Kaum abolisionis memihak kaum kapitalis. Barrington Moore (1966) juga telah mengungkapkan peranan pertim-bangan-pertimbangan moral atau kemanusiaan, dan menekankan peranan kekuatan ekonomi, dalam usaha untuk menjelaskan perang saudara, dan penghapusan perbudakan di Amerika Serikat. Argumen Moore ialah bahwa sistem budak selatan pada akhirnya menjadi bertentangan dengan kepentingan kapitalis industri Bagian Utara. Pemilik budak Bagian Selatan dan kaum industrialis Bagian Utara, tandasnya, terjebak di dalam perjuangan yang pahit mengenai siapa yang harus mengawasi tanah-tanah di perbatasan Barat dan terjadilah perang untuk menyelesaikan perjuangan ini. Wallerstein (1979a) mendekati masalah ini dari sudut pandangan eko-nomi-dunia kapitalis sebagai suatu keseluruhan. Ditandaskannya bahwa perbudakan harus dihapuskan karena secara ekonomis telah menjadi terlalu mahal bagi suatu ekonomi-dunia yang telah kehilangan daerah penghasil budak yang utama (Afrika). Penjelasan-penjelasan Williams, Moore, dan Wallerstein sedikit agak Nerbeda, tetapi semua memfokuskan rasionalitas ekonomi yang berada di balik gerakan penghapusan itu. Sementara kekuatan yang sesungguhnya yang mengakhiri sistem budak itu belum jelas, maka sudah pasti bahwa kekuatankekuatan umum adalah bersifat ekonomis. Kapitalisme menciptakan perbudakan kapan dan di mana menguntungkan secara ekonomis, dan menghapuskannya bila telah menjadi terlalu mahal.

Filed under : Bikers Pintar,