Ingatan

Kajian mengenai ingatan manusia menyelidiki penerimaan dan pengungkapan informasi dan pengaruh lanjutan dari informasi yang tersimpan terhadap perilaku, baik dalam proses pengingatan maupun pengenalan, atau dalam berbagai bentuk lain yang lebih bersifat tidak langsung. Suatu penggolongan yang berguna  diterima luas dalam bidang kajian ini dan dibuat lebih dari 100 tahun lalu oleh William James (1890)  yaitu antara ingatan primer dan sekunder. Ingatan primer mengacu pada penyimpanan jangka pendek sementara ingatan sekunder mengacu pada penyimpanan jangka panjang. Kedua ranah yang luas dari ingatan manusia ini telah diselidiki secara mendalam sejak usulan awal James: manusia bisa dibagi dalam sejumlah tipe ingatan, sebagian berkaitan dengan wilayak otak yang menonjol dan sebagian yang lain dibedakan atas berbagai tipe proses pengetahuan dan ingatan. Dua kemajuan besar dalam duapuluh tahun terakhir ini adalah penerapan pemahaman mengenai ingatan manusia ini pada berbagai gangguan neuropsikologis dan pada kesadaran dan ingatan.

Konsep mengenai ingatan primer meliputi penyimpanan sangat singkat akan berbagai aspek harfiah dari suatu peristiwa yang sama baiknya dengan suatu penyimpanan informasi yang lebih tahan lama dalam ingatan aktif (working memory). Penyimpanan ingatan sensoris yang dalam waktu singkat menurun cepat dan mudah terhapus seperti ingatan iconic dan echoic menyimpan informasi perseptual dan pendengaran melalui suatu pola literal dalam periode tak lebih dari satu detik. Penyimpanan ingatan sensoris ini memudahkan, sebagai contoh, persepsi yang mengalir terhadap film dan persepsi yang utuh terhadap rangkaian ucapan dan musik. Namun, otak manusia menyerap informasi dengan cepat dari penyimpanan ingatan sensoris dan mengkodifikasi ulang ke dalam bentuk-bentuk yang memadai untuk penyimpanan dalam ingatan aktif, di mana ini bisa disimpan untuk periode sekian menit, atau lebih lama lagi jika itu sering diulang. Sebagai contoh, informasi audio yang berasal dari perkataan dikodifiksi ulang ke dalam bentuk fonologis untuk output segera (seperti dalam repetisi) atau untuk proses lebih jauh dalam kerangka pemaknaan. Suatu struktur yang disebut phonological loop berfungsi memerantarai upaya pengkodifikasian ulang ini struktur ini sangat penting bagi anak-anak dalam menyerap bahasa dan kosa kata. Para pasien yang menderita kerusakan pada phonological loop karena luka di otak, seperti serangan stroke, penyakit akibat virus, dan cedera kepala, kendati tetap mampu berbicara, tidak bisa lagi memproses masukan perkataan baru. Sebagai contoh, mereka tidak bisa mempelajari bahasa baru.

Sebaliknya, konsep ingatan sekunder mengacu pada penyimpanan jangka panjang selama periode sekian jam, bulan, tahun, dasawarsa dan bahkan seumur hidup. Ingatan jangka panjang adalah terminal akhir dari arus informasi yang melalui sistem ingatan dan berisi sistem yang seingat kompleks dan ekstensif untuk penyimpanan jangka panjang. Ada tiga kelompok pengetahuan dalam ingatan jangka panjang. Pertama, ingatan prosedural mengacu pada pengetahuan yang tidak dapat dihasilkan kesadaran tapi mendasari dan mendukung penyimpanan dan eksekusi dari perilaku yang terlatih dan sudah menjadi kebiasaan. Sebagai contoh, setiap orang bisa bersiul, mengendarai sepeda, atau menyebutkan nSma mereka, tapi tidak seorang pun bisa meng- instropeksi masalah ini kemampuan ini hanya dikenali melalui upaya pelaksanaannya. Pada tahap lanjut dari penyakit otak degeneratif seperti penyakit Alzheimer, kerusakan yang menyerang ingatan prosedural kerapkali bisa menjadi bukti masalah ini. Kedua, ingatan semantik mengacu pada fakta-fakta dan pengetahuan mengenai dunia. Pengetahuan ini dapat secara sadar diperoleh dan dibentuk kembali. Orang tahu seekor harimau adalah kucing, elang adalah seekor burung, atau London adalah ibukota Inggris, dan dapat menjawab berbagai pertanyaan lainnya mengenai fakta-fakta seperti itu. Yang menarik, dalam beberapa kasus cedera otak, kemampuan untuk membuat penilaian semacam ini dapat dihilangkan secara selektif. Sebagai contoh, beberapa pasien cedera otak kehilangan kemampuan membuat penilaian semantik yang benar mengenai makhluk hidup tapi tetap memiliki kemampuan untuk membuat penilaian secara normal mengenai benda-benda mati. Untuk sebagian pasien pola ini terbalik. Berbagai temuan ini menunjukkan bahwa representasi dari pengetahuan semantik dalam otak mungkin seingat terstruktur. Ketiga, ingatan episodik atau otobiografis mengacu pada ingatan mengenai berbagai episode atau peristiwa yang dialami. Pada penderita amnesia tipe ingatan ini barangkali mengalami kerusakan sehingga kendati kemampuan pasien untuk mengingat kembali kenangan dari periode sebelum mengalami cedera atau sakit tetap utuh, kemampuan mereka untuk menciptakan atau memecahkan kode berbagai ingatan baru hilang seluruhnya. Pasien semacam ini mempunyai berbagai ingatan aktif yang tetap utuh sehingga sanggup melakukan beberapa tugas sehari-hari dan melakukan pembicaraan singkat. Tapi karena mereka tidak mampu menciptakan ingatan-ingatan baru maka mereka tetap tidak sadar mengenai tugas-tugas yang telah diselesaikan dan pembicaraan yang telah dilakukan, bahkan jika berbagai hal ini terjadi hanya beberapa menit sebelumnya.

Barangkali temuan yang paling menonjol adalah bahwa para pasien amnesia yang tidak bisa menciptakan ingatan otobiografis baru sama sekali tidak bisa mendapatkan informasi baru. Sebagai contoh, pasien amnesia ditunjukkan suatu daftar kata-kata dan beberapa menit atau jam kemudian diminta untuk mengingat kembali daftar tersebut. Pasien tidak hanya gagal untuk mengingat kembali kata apapun yang ada di daftar tapi ia juga gagal untuk mengingat kembali bahwa ia pernah ditunjukkan daftar kata-kata. Namun, jika pasien tidak diperintah melakukan pengingatan kembali tapi diminta untuk membuat beberapa respons yang tidak memerlukan proses pengingatan yang eksplisit maka terdapat bukti kuat adanya penyimpanan daftar kata tersebut. Begitu kuatnya pembelajaran atau ingatan implisit ini sehingga ketika pasien amnesia, sebagai contoh, diajari mengoperasikan komputer (di mana ini merupakan suatu yang tidak pernah dilakukan sebelum terjadinya cedera), dan, dengan dukungan sosial dan ingatan yang memadai, beberapa penderita amnesia sanggup untuk kembali bekerja. Realitas proses pengingatan implisit ini sekarang diselidiki secara intensif pada individu-individu yang tidak mengalami kerusakan otak di mana adakalanya ini mengacu pada masalah kelancaran. Hal ini menjelaskan sifat dasar pengingatan implisit karena biasanya  beberapa tugas bisa dipercepat dan dibuat lebih lancar jika tugas tersebut menonjolkan unsur-unsur yang telah diproses pada episode sebelumnya, kendati tugas-tugas ini tidak dengan sadar diingat kembali pada saat melakukannya. Bayangkan betapa cepat dan lancarnya anda sekarang dalam membaca kata ‘neuropsikologis’.

Pemahaman mutakhir mengenai ingatan manusia yang didasarkan pada berbagai teori yang dikembangkan dalam laboratorium psikologi sekarang memberikan pandangan yang penting mengenai disfungsi ingatan akibat cedera otak dan perubahan ingatan akibat umur. Riset mutakhir terhadap aspek-aspek sadar dan non-sadar dari ingatan memberi harapan untuk meluaskan pemahaman ini ke berbagai arah yang penting.