Advertisement

Kekhilafan Logis dan Psikologis

Berdasarkan sumbernya, kekhilafan dapat dibagi atas kekhilafan logis dan psikologis.

Advertisement

A. Kekhilafan Logis

Sumber kekhilafan logis yang terpenting adalah sebagai berikut:

a) generalisasi, yakni pemberlakuan secara umum satu atau beberapa hal kepada semua hal, tanpa cukup pembuktian; b) penggunaan slogan atau semboyan, yakni ungkapan-ungkapan populer yang memuat sikap emosional yang tidak mempunyai dasar objektif; c) kesimpulan bahwa sesuatu mustahil karena tidak dapat dimengerti. Kesimpulan macam ini merupakan sumber kekhilafan logis, karena, tidak dapat begitu saja disim- pulkan bahwa sesuatu itu mustahil hanya karena intelek kita yang terbatas tidak sanggup memahaminya. d) kesimpulan, ‘post hoc, ergo propter hoc': karena dari suatu peristiwa yang secara temporal mengikuti yang lain, tidak begitu saja disimpulkan bahwa yang terdahulu merupakan sebab dari yang kemudian; e) semua bentuk kekeliruan (fallacies). (Lihat kekeliruan.)

B. Kekhilafan Psikologis

Sumber kekhilafan psikologis dapat ditemukan dalam pikiran dan kehendak kita yang terbatas yang sering dicampuri oleh nafsu. Dari segi intelek, kekhilafan dapat terjadi karena hal- hal berikut:

a) ketergantungan (cara) berpikir kita pada bahasa yang sering ambigu (taksa); b) ketergantungan kita pada indera dan ingatan (memori) yang terkadang menipu, tidak benar; c) prasangka dan pendidikan yang tidak benar (menyimpang); d) kurangnya pengalaman dan pengetahuan, kadang-kadang ditambah dengan keharusan untuk cepat mengambil keputusan; e) kebodohan dan kemalasan intelektual; f) penghargaan terhadap otoritas manusia secara berlebihan.

Sumber-sumber kekhilafan dapat ditemukan terlebih-lebih pada segi kehendak: ketidaksabaran, kecenderungan hati kepada yang jelek, buruk, semangat yang tegar, lemahnya keinginan untuk mencari kebenaran, buru-buru dalam menilai.

Cara manusia mengetahui sesuatu kadang-kadang tidak dapat menghindari kekhilafan disebabkan oleh kesulitan-kesulitan yang terkandung dalam upaya tersebut dan juga disebabkan oleh kurangnya waktu yang tersedia untuk itu. Terkadang, untuk menemukan kebenaran, seorang harus berani menanggung risiko kekhilafan, kendati kekhilafan itu dalam dirinya sendiri jelek bagi manusia. Kekhilafan yang tak dapat diatasi karena kesulitan-kesulitan besar yang tak dapat diatasi, disebut tak dapat diatasi secara moral (morally invincible). Seorang bertanggung jawab atas kekhilafan yang dapat diatasi secara moral (morally vincible).

Advertisement