personality (kepribadian)

Kepribadian (dari bahasa Latin persona, topeng aktor) adalah sebuah konsep samar yang mencakup seluruh karateristik psikologi yang membedakan seseorang dengan orang lainnya. Tidak ada konsensus tentang definisi yang tepat untuk konsep ini: tahun 1937 Gordon W. Allport menyebutkan ada lebih dari 50 definisi yang berbeda dan sejak itu jumlahnya terus bertambah. Kesamaan asumsi yang mendasari semua definisi itu adalah manusia mempunyai pola perilaku yang hampir stabil untuk situasi-situasi tertentu, dan pola perilaku ini berbeda antara satu orang dengan lainnya. Meskipun sebagian besar riset psikologi menyoroti aspek-aspek universal dari perilaku dan pengalaman kejiwaan, kajian kepribadian khususnya terfokus perbedaan-perbedaan individu.

Teori kepribadian yang paling awal, setidaknya bermula dari Hippocrates (400 SM) dan Galen (170 M) yang diterima luas pada Abad Pertengahan, adalah doktrin tentang empat jenis watak. Manusia dapat diklasifikasikan atas empat jenis kepribadian menurut keseimbangan rasa humor atau cairan dalam tubuh. Manusia optimis digerakkan oleh darah (sanguis), manusia murung oleh cairan empedu hitam (melas chole), manusia temperamental oleh cairan empedu kuning (chole) dan manusia apatis oleh dahak (phlegma). Psikologi dasar teori ini menjadi usang pada masa Renaisans dengan munculnya pengetahuan mengenai biologi, tetapi tipologinya tetap dipertahankan dalam berbagai teori psikologi modern.

Penelitian sistematik pertama tentang perbedaan-perbedaan individu yang menggunakan metode empirik modern ialah kajian inteligensia yang dilakukan Francis Galton di Inggris pada tahun 1884. Suatu metode yang lebih andal untuk mengukur inteligensi seseorang dikembangkan psikolog Perancis, Alfred Brnet dan Theodore Simon pada tahun 1905, yang kemudian merangsang penelitian lebih lanjut terhadap bentuk- bentuk perbedaan lainnya dari individu. Penelitian-penelitian inteligensi ini terus berkembang secara independen, tapi (anehnya) masih tidak diakui sebagai bagian dari pembahasan akademis tentang kepribadian.

Teori kepribadian paling sederhana terpusat pada salah satu dari sifat atau karateristik saja. Di antara penelitian yang paling luas pengaruhnya tentang teori-sifat-tunggal adalah otoritarianisme, ketergantungan lingkungan (field dependence) dan titik kendali (locus of control).

Ketergantungan lingkungan sebagai sifat manusia, pertama kali diperkenalkan oleh Witkin pada tahun 1949, yang berkaitan dengan cara seseorang mempersepsikan diri mereka terhadap lingkungannya. Seseorang yang tergantung pada lingkungan sangat kuat dipengaruhi keadaan lingkungannya dan cenderung menyerap informasi tanpa seleksi; sebaliknya, seseorang yang tidak bergantung terhadap lingkungan lebih mengandalkan berbagai petunjuk internal dan lebih selektif dalam menyerap informasi eksternal. Pada mulanya sifat diteliti dengan tes balok dan bingkai, di mana subyek duduk dalam sebuah ruangan gelap, mencoba meletakkan tongkat berkilau pada posisi vertikal dalam bingkai empat persegi panjang yang dimiringkan. Orang yang bergantung pada lingkungannya sepenuhnya dipengaruhi oleh kerangka yang dimiringkan, sedangkan orang yang tidak tergantung mempunyai kemampuan lebih besar untuk mengabaikan posisi bingkai dan berkosentrasi pada tanda-tanda gravitasi internal dalam menilai posisi vertikal. Para peneliti kemudian mengembangkan ukuran-ukuran yang lebih memadai terhadap ketergantungan lingkungan, yakni tes bentuk kertas dan pensil melekat (paper – and – pencil embedded figures test), yang membutuhkan upaya identifikasi terhadap bentuk- bentuk geometris sederhana yang dilekatkan pada diagram yang lebih besar dan lebih kompleks. Nilai dari tes ini bisa memprediksikan perilaku dalam situasi-situasi tertentu. Witkin dan Goode- nough (1977) menyimpulkan bahwa dari berbagai terbitan hasil riset bahwa orang yang tidak tergantung pada lingkungan cenderung lebih menguasai bentuk-bentuk tertentu dari logika berpikir, cenderung tertarik menempati posisi-posisi seperti ahli mesin, arsitektur, pengajaran ilmu dan psikologi eksperimental, serta seringkali dinilai oleh orang lain sebagai manusia ambisius, menyendiri, dan oportunis. Orang yang bergan-tung pada lingkungan unggul dalam hubungan antar manusianya dan umumnya dianggap merakyat, ramah, tidak kaku dan sensitif mereka kebanyakan memilih posisi-posisi sebagai pekerja sosial, pengajar sekolah menengah, dan psikologis klinis. Ketergantungan pada lingkungan ini kian melemah sejalan dengan bertambahnya usia, dan rata-rata wanita lebih tergantung pada lingkungan daripada laki-laki.

Titik kendali (locus of control) adalah sifat kepribadian yang pertama kali dijelaskan oleh Phares (1957) dan dilanjutkan oleh Rotter (1966) dalam teorinya tentang pembelajaran sosial. Teori ini menunjukkan keyakinan seseorang tentang seberapa besar derajat kemampuannya mengendalikan kehidupannya sendiri. Hal ini diukur berdasarkan suatu kontinum dari internal menuju eksternal melalui kuesioner yang dibuat Rotter dan rekan-rekannya. Mereka yang titik kendalinya bersifat internal cenderung meyakini bahwa mereka sangat bertanggung jawab atas nasib mereka sendiri, sedangkan bagi mereka yang titik kendalinya eksternal cenderung menyatakan bahwa sukses dan kegagalan mereka diakibatkan oleh orang lain atau oleh kejadian-kejadian yang tak dapat dikontrol. Menurut Rotter dan para pendukungnya, titik kendali seseorang mempengaruhi cara seseorang mempersepsikan berbagai situasi dan mempengaruhi perilaku dalam pola-pola yang bisa diperkirakan. Riset telah membuktikan secara konsisten bahwa mereka yang titik kendalinya internal dibandingkan dengan yang eksternal cenderung melakukan kegiatan-kegiatan yang mendorong kesehatan, seperti menjaga berat badan, berhenti merokok, memeriksakan gigi secara teratur, dan berolahraga; mereka cenderung lebih tahan terhadap pengaruh sosial dan rayuan, dan pada umumnya lebih dapat menyesuaikan diri dan tidak gampang cemas dibandingkan dengan mereka yang memiliki titik kendali eksternal. Gangguan mental seperti schizophrenia atau depresi pada umumnya dikaitkan dengan titik kendali eksternal.

Teori-teori kepribadian multi-sifat yang lebih ambisius dimaksudkan untuk menjelaskan kepribadian manusia sebagai satu kesatuan utuh, jadi bukan sekadar mengandung salah satu aspek saja. Tujuan teori semacam ini adalah mengidentifikasi konstelasi sifat dasar yang membentuk struktur kepribadian; dan menjelaskan perbedaan-perbedaan antar orang per orang menurut letak berbagai perbedaan ini dalam dimensi-dimensi tersebut. Allport dan Odbert (1936) menemukan 4500 kata yang menjelaskan sifat-sifat kepribadian dalam kamus Inggris baku. Tugas utama teori multi-sifat adalah mengidentifikasi kata- kata sifat yang paling penting, dan megkaji berbagai tumpang-tindih di antara kata-kata tersebut. Teknik statistik yang dirancang untuk tujuan-tujuan tersebut yang disebut analisis faktor mengurangi begitu banyak sifat yang mesti diukur korelasinya menjadi sejumlah kecil dimensi atau faktor. Faktor-faktor utama ini, yang umumnya ditemukan berkorelasi dengan faktor lain, dapat dikurangi menjadi jumlah yang lebih kecil lagi berupa sejumlah kecil tatanan faktor- faktor yang lebih terseleksi (higher-order factors). Hal ini analog dengan mengurangi sejumlah besar bayangan warna yang dapat dibeda-bedakan menjadi tiga dimensi atas jenis warna, kepekatan dan kejelasan warna, yang mana cukup untuk untuk menjelaskan seluruh perbedaan yang ada. Teori-teori multi-sifat yang paling berpengaruh dikemukakan oleh Raymond B. Cattel, yang hanya berkonsentrasi pada faktor-faktor utama, dan oleh Hans J. Eysenck, yang lebih menekankan tatanan faktor-faktor yang lebih terseleksi.

Teori Cattell (Cattell dan Kline 1977), yang garis besarnya dikemukakan pada tahun 1940-an dan kemudian diuraikan lebih lanjut pada dasa¬warsa berikutnya, didasarkan pada 171 jenis sifat yang dimaksudkan untuk merangkum seluruh bidang kepribadian. Jumlah ini mewakili daftar kamus tentang sifat setelah sinonim dan sejumlah istilah teknis tambahan dibuang. Kajian analisis faktor tentang sistem peringkat dan kuesioner telah mengurangi jumlah daftar tersebut menjadi hanya 16 faktor utama atau sumber sifat, yang diukur dengan tes kertas-dan-pencil yang telah distandarisasi yang disebut dengan kuesioner Enambelas Faktor Kepribadian (Sixteen Personality Factor – 6 PF). Dari jumlah ini termasuk karakteristik-karakteristik yang dapat dikenali dengan mudah, seperti inteligensi, kegairahan (excitability), kepatuhan/dominasi (submissiveness/ dominance) dan keterbukaan/kecerdasan (forth- rightness/shrewdness), dan juga beberapa kata lain yang disebut Cattell sebagai neologisme seperti sizia, threcta dan zeppia.

Aspek kepribadian penting dalam teori Cattell ini, disamping faktor watak dan kemampuan yang menentukan bagaimana seseorang bertingkah- laku, adalah analisis faktor-faktor motivasi yang menentukan mengapa seseorang bertingkah laku sebagaimana yang mereka lakukan. Menurut teori tersebut, sumber utama motivasi yang disebut ergs berdasarkan kerangka biologi dan merupakan faktor-faktor universal dalam pengertian budaya seperti mencari kebutuhan hidup (food seeking), menikah (mating), berteman (gregariousness), dan keserakahan (acquistiveness). Cara-cara yang membuat mereka puas disebut sentimen yang semuanya merupakan variabel budaya dan meliputi kegiatan-kegiatan seperti olahraga, keagamaan dan kerja. Lima ergs dan lima sentimen diukur dengan Test Analisis Motivasi (Motivational Analysis Test -MAT). Analisis faktor mengungkapkan adanya tiga dimensi dasar dari motivasi, yang mengacu pada teori Freud tentang id, ego dan superego Misalnya, jika seseorang tertarik membaca sebuah buku, hal ini mungkin karena adanya rangsangan hasrat impulsif (kepentingan id), pilihan rasional (kepentingan ego) atau pertimbangan akan kewajiban (kepentingan super ego).

Teori Eysenck (1967), yang telah dikembang-kannya sejak tahunl940-an, lebih sederhana daripada teori Cattell, sebagian karena didasarkan pada tatanan faktor-faktor yang lebih terseleksi (higher-order factors). Tiga faktor atau dimensi utama kepribadian dalam teori ini ialah ekstraversi (extraversion -E), neurotisme (neuroticism – N) dan psikotisisme (psychoticism – P). Faktor-faktor ini diukur dengan skala standar seperti Eysenck Personality Questionnaire (EPQ). Sifat-sifat yang berkaitan dengan faktor-faktor ekstraversi ialah mampu bersosialisasi, ramah, senang, banyak bicara, menuruti kata hati, ceria, aktif dan spontan. Sifat-sifat yang berkaitan dengan neurotisme yaitu ragu-ragu, labil, tegang, gugup dan cemas. Sedangkan psikotisme yakni meliputi sifat-sifat merasa tersiksa, berpikir tidak rasional, menyukai sensasi fisik yang amat kuat, sangat kejam, dan tidak ada rasa empati.

Menurut teori Evsenck. ietak seseorang dalam ketiga faktor tersebut menjelaskan sebagian besar perilaku orang tersebut sehari-hari. Teori ini juga menjelaskan tentang gangguan psikologi. Misalnya, E rendah, N tinggi, dan P rendah diperkirakan memiliki sifat-sifat neurosis obsesional (obsesional neurosis); E tinggi, N tinggi dan P rendah menerangkan sifat emosi yang tertahan (hysteria); E rendah, N rendah, dan P tinggi memiliki karakter gangguan jiwa schizophrenia; dan seterusnya.

Banyak orang tentunya berada di antara posisi ekstrim ketiga skala tersebut. Eysenck yakin bahwa ketiga faktor tersebut didasarkan secara biologis dan sebagian besar bersifat turun-temurun, dan Eysenck telah mencurahkan sebagian besar perhatiannya terhadap kemungkinan letak ketiga faktor tersebut pada otak dan sistem pusat saraf.

Salah satu penerapan teori Eysenck yang paling kontroversial adalah penjelasannya tentang perilaku kriminal dan anti sosial (Eysenck 1977). la berpandangan bahwa ekstraversi ekstrim, yang terkait dengan pergerakan tingkat rendah dalam formasi reticular di jalur otak, menyebabkan kerentanan dalam melakukan pengkondisian, yang pada gilirannya mengarah pada terhambatnya perkembangan sosialisasi dan kesadaran. Selain itu, pergerakan tingkat rendah menghasilkan perilaku mencari-sensasi. Eysenck yakin bahwa sebagian besar perilaku kriminal dan anti sosial dapat dijelaskan dalam kerangka dan faktor ekstraversi turunan dari teorinya mengenai kepribadian.

Kontroversi paling menonjol dalam teori kepribadian ini, yang dikemukakan Mischel (1968), terletak pada masalah konsistensi. Mischel (1968) merangkum kumpulan bukti kesan bahwa semestinya meragukan salah satu asumsi dasar dari semua teori kepriadian, yaitu bahwa manusia memperlihatkan pola-pola perilaku yang hampir stabil dalam berbagai situasi. Mischel terutama menyoroti rendahnya korelasi antara hasil tes kepribadian dengan perilaku seseorang, dan berkesimpulan bahwa perilaku seseorang akan lebih dapat diperkirakan berdasarkan perilaku sebelumnya dari pada hasii tes kepribadian. Pendapat ini mengandung arti bahwa perilaku hanya bisa diprediksi berdasarkan perilaku itu sendiri, sehingga teori-teori kepribadian itu tidak ada artinya sama sekali, setidak-tidaknya dalam memperkirakan tingkah-laku seseorang. Mischel merekomendasikan agar riset kepribadian diting-galkan saja untuk lebih berkonsentrasi pada penyelidikan terhadap faktor-faktor situasional yang mempengaruhi perilaku.

Kritik kaum situasionis (atau kontekstualis) terhadap kepribadian menimbulkan banyak perdebatan dan penelitian, sebagian besar di antaranya muncul untuk menyangkal argumentasi dan bukti-bukti dari teori Mischel. Perdebatan ini tak pernah tuntas, tetapi kebanyakan pendapat para ahli sejak pertengahan tahun 1970-an cenderung mengarah pada interaksionisme (interactionism) Menurut pandangan ini, perilaku manusia sebagian bergantung pada faktor kepribadian internal, sebagian pada faktor-faktor situasi eksternal dan sebagian lagi pada interaksi (dalam pengertian statistik) antara kepribadian dan faktor-faktor situasi.