Advertisement

ARTI KIRI DALAM ILMU POLITIK – Dalam ilmu politik, merupakan bagian suatu aliran, paham, atau ideologi dalam suatu gerakan atau sistem politik. Pada awalnya istilah “kiri” muncul un­tuk pertama kali sekitar abad ke-17 dan 18, di negara Perancis. Pada waktu sidang parlemen atau kerajaan, kelompok kiri ini cenderung selalu duduk di sebelah kiri raja, dan selalu menentang kebijaksanaan-kebi- jaksanaan kerajaan yang berkuasa. Mereka umumnya sangat anti kepada para bangsawan dan tuan tanah yang mendapat hak istimewa dari raja. Kebiasaan ini ternyata terus berkembang, dan diikuti oleh rekan-re­kan mereka di negara-negara, seperti Inggris, Prusia, Belanda, Belgia, Rusia, dll.

Dalam perkembangan selanjutnya, paham kiri ini bukan lagi hanya terkungkung pada masalah-masalah monarki/kerajaan saja. Pada dasarnya, paham ini di­dasarkan pada ideologi komunis dan sosialisme. Sasarannya adalah mengubah sistem atau rezim yang berkuasa melalui gerakan politik yang revolusioner. Sasaran akhirnya tentu saja merebut pusat kekuasaan, untuk diganti dengan sistem komunisme dan sosial­isme yang totaliter.

Advertisement

Latar Belakang. Berkembangnya kelompok kiri yang agresif dan revolusioner itu mengakibatkan tumbangnya sistem feodalisme. Akibatnya, berakhir pula kekuasaan kaum bangsawan yang mendapat hak- hak istimewa dari raja. Hanya keadaannya pada ma­sing-masing negara sangat berbeda-beda. Kaum kiri ini umumnya terdiri atas para karyawan, buruh, peda­gang, pengacara, dokter, dll.

Pertentangan antara golongan kiri dan para bang­sawan secara tradisional, terutama di Perancis, bersi­fat keras (kecuali di Inggris). Klimaksnya adalah penggulingan raja-raja mereka. Tetapi, setiap kali me­reka berhasil menggulingkan raja, muncul penguasa baru yang bukan bangsawan, tetapi memegang kekua­saan secara mutlak. Napoleon Bonaparte pada tahun 1804, Louis Philippe tahun 1830, dan Napoleon (ke­ponakan Bonaparte) pada tahun 1848 adalah pengu­asa-penguasa pada waktu itu.

Gerakan ini akhirnya meluas pada golongan cende­kiawan di sebagian besar daratan Eropa. Semuanya akhirnya menghasilkan kemerdekaan diri yang diser­tai pengakuan atas hak-hak, seperti kemerdekaan ber­pikir, beragama, mengeluarkan pendapat, keamanan terhadap segala bentuk pengisapan, kebebasan dalam usaha bidang ekonomi, persamaan dalam pandangan hukum, dll. Kesemuanya ini menumbuhkan pikiran bahwa manusia itu lebih utama daripada mesin dan

tanah, dan dirinya harus dibiarkan berkembang sendi­ri tanpa campur tangan raja.

Kepercayaan diri pada manusia seperti yang dise­but di atas akhirnya melahirkan kepercayaan pula bahwa segala penderitaan dan kemelaratan y an u me­reka hadapi pasti dapat dilenyapkan. Ini semua me­rupakan pangkal tolak pemikiran sosialisme dan komunisme. Manusia ingin dilihat lebih dari segi baiknya. Dalam rangka pemikiran ke jurusan ini, ter­dapat pemikir-pemikir seperti Francois Marie Charles Fourir (1772-1837), Robert Owen (1771-1858), dan Comte de Saint Simon (1760-1825) yang ingin mem­bentuk masyarakat-masyarakat kecil yang tidak me­ngenal kemiskinan dan

penderitaan.

Ketiga tokoh tersebut memang tidak tega melihat penderitaan orang lain. Selanjutnya Fourir mengan­jurkan agar masyarakat kecil tadi mengadakan sistem pemilihan umum dan sistem pendidikan yang sama bagi semua anak tanpa membedakan kaya atau mis­kin. Sementara Saint Simon menambahkan agar pe­mimpin-pemimpin diserahkan kepada orang yang be­rilmu pengetahuan, pengusaha industri, dan para seniman. Robert Owen menghendaki masyarakat yang benar-benar menjalankan persamaan dan mem­berikan pendidikan secara cuma-cuma kepada setiap anak (mulai usia 3 tahun) dengan maksud agar anak-anak tersebut tidak mendapat pengaruh secara pin­cang dari orang tuanya. Sayangnya tokoh-tokoh ini terlampau melihat sesuatu dari segi idealnya, tanpa mau melihat dan memperhitungkan sifat-sifat manu­sia dari keadaan yang sebenarnya. Oleh sebab itu, ge­rakan mereka disebut gerakan sosialis yang utopis.

Memasuki permulaan abad ke-19, keadaan buruh di Eropa Barat sangat menyedihkan. Kemajuan indus­tri yang pesat menimbul­kan keadaan sosial yang sangat merugikan kaum buruh, misalnya upah yang rendah, jam kerja yang panjang, tenaga wanita dan anak-anak yang men­jadi sangat murah dan ku­rang berguna, dan ling­kungan pabrik yang tidak baik bagi kesehatan. Atas dasar kenyataan ini, seo­rang tokoh bernama Kari Marx (1818-1883) dari istimewa Jerman, mengritik keadaan Karl Marx ekonomi dan sosial sekeli­lingnya. Akan tetapi Karl Marx berpendapat bahwa masyarakat tidak dapat diperbaiki secara tambal su­lam, melainkan harus diubah secara radikal melalui ‘ pendobrakan sendi-sendinya. Untuk keperluan itu se­mua, ia menyusun suatu teori sosial yang menurutnya didasarkan pada hukum-hukum ilmiah, dan karena itu pasti akan terlaksana. Guna membedakan ajarannya dengan ajaran sosialis utopis, Karl Marx menamakan ajarannya sosialis ilmiah.

Sejak masa mudanya, Karl Marx melakukan ke­giatan politik yang dianggap radikal. Sesudah ia diu­sir dari Jerman, Karl Marx menetap di London. Sesu­dah bersahabat dengan Friedrich Engels, mereka berdua menerbitkan bermacam-macam karangan, di antaranya yang paling masyhur adalah Manifesto Komunis dan Das Kapital (lihat Komunisme). Dalam me­nyusun teori mengenai perkembangan masyarakat, Marx sangat dipengaruhi oleh teori dialektika dari fil­safat Hegel (1770-1831). Masyarakat komunis yang sangat dicita-citakan oleh Marx ialah masyarakat yang tidak mengenal kelas sosial, manusia yang dibebaskan dari keterikatannya kepada milik pribadi, dan tidak mengenal eksploitasi, penindasan, dan pak­saan. Akan tetapi, yang agak aneh di sini adalah bah­wa pencapaian masyarakat yang bebas dari paksaan itu melalui jalan paksaan dan kekerasan, yakni dengan perebutan kekuasaan oleh kaum buruh dari kaum ka­pitalis. Marx mengatakan bahwa “kekerasan adalah bidan dari setiap masyarakat lama yang sedang hamil tua untuk menjadi masyarakat baru.”

Meskipun tulisan Marx itu sangat menarik minat ahli sosial (dari dulu hingga sekarang), ternyata pemi­kirannya juga menimbulkan banyak penafsiran. Oleh sebab itu, tidak mengherankan kalau aliran komun­isme dan sosialisme yang ia cita-citakan dari waktu ke waktu terus mengalami perubahan dan perkem­bangan, sesuai dengan kondisi sosial tempat paham itu berada. Sebagai contoh, komunis di Eropa Timur tentu sangat berbeda dengan komunis/sosialis yang berada di RRC atau Asia Tenggara, dan berbeda pula dengan yang berada di Amerika Latin atau di Uni So­viet sendiri. Yang jelas, paham atau aliran ini dalam perkembangannya hingga akhir abad ke-20 ini telah menimbulkan aliran baru yang mereka namakan Kiri Baru atau New Left. Kelompok ini terutama dipelo­pori oleh cendekiawan yang tergabung dalam aliran Frankfurt, seperti Habermas, Adorno, Lukacs, dll. Pa­da tahun 1960-an, gerakan Kiri Baru diikuti oleh ba­nyak gerakan mahasiswa di Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Jepang.

Ciri-ciri aliran atau paham kiri pada umumnya:

(1)  dalam konsepsinya, manusia dan masyarakat haruslah manusia atau masyarakat komunis/sosialis, artinya tiap manusia pada hakikatnya sama sehingga tidak dikenal adanya kelas-kelas dalam masyarakat;

(2)  golongan ini selalu bersikap mendua terhadap negara. Di satu pihak, negara dianggap sebagai suatu alat pemaksa yang akhirnya akan lenyap sendiri de­ngan munculnya komunisme, atau negara hanyalah mesin penindas dari kelas yang satu terhadap kelas yang lain. Di pihak lain, negara juga sangat mereka butuhkan meskipun masyarakat komunis/sosialis te­lah mereka capai;

(3) dalam mencapai tujuan biasanya mereka meng­halalkan semua cara;

(4) mereka selalu menjanjikan pihak tertindas atau kaum miskin persamaan hak bagi setiap anggota ma­syarakat, kebebasan dan kemerdekaan serta pemba­gian hasil pembangunan secara sama rata sama rasa.

Incoming search terms:

  • paham kiri
  • arti kiri
  • pemikiran kiri
  • kaum kiri
  • aliran kiri
  • pengertian golongan kiri
  • orang kiri
  • Pengertian gerakan kiri
  • ideologi kiri
  • apa itu paham kiri

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • paham kiri
  • arti kiri
  • pemikiran kiri
  • kaum kiri
  • aliran kiri
  • pengertian golongan kiri
  • orang kiri
  • Pengertian gerakan kiri
  • ideologi kiri
  • apa itu paham kiri