Advertisement

ARTI KITAB HUKUM KANONIK (KHK) – Atau Codex Juris Canonici, yang sekarang hanya berlaku dalam Ritus Latin Gereja Katolik, diumumkan dan disahkan oleh Yohanes-Paulus II (1983) sebagai primas Ritus Latin. Jadi tidak merupakan hukum dengan wewenang ke- pausan. Hukum Gereja yang umum untuk semua ritus diusahakan juga (Jus Fundamentalis), tetapi penyusunannya sampai kini belum berhasil.

Atas prakarsa Yohanes XXIII (1959) dan sebagai tugas yang diberikan Konsili Vatikan II, maka suatu komisi khusus mulai tahun 1965 merivisi Kitab Hu­kum Kanonik 1917 untuk memperbarui tata kehidup­an Kristen-Katolik. Revisi ini bukan hanya merupa­kan koreksi (Paulus VI) Kitab Hukum yang lama, melainkan suatu pembaharuan mendalam berdasar­kan semangat Injil sesuai ajaran Konsili. Mengenai maksud Kitab Hukum ini Yohanes-Paulus II menga­takan dalam Konstitusi Apostolik Sacrae disciplinae leges:

Advertisement

“Tuhan Kristus sama sekali tidak ingin menghapus warisan amat kaya dari Hukum Taurat dan para nabi, yang perlahan-lahan berkembang berkat pengalaman umat Allah Perjanjian Lama dalam peredaran sejarah. Ia sedemikian menggenapinya (bandingkan Mt 5, 17), sehingga secara baru dan lebih luhur masuk ke dalam warisan Perjanjian Baru. Memang, waktu S. Paulus menerangkan misteri Paskah, ia mengajarkan bahwa manusia tidak dibenarkan karena perbuatan-per­buatan menurut Hukum, melainkan karena iman (bandingkan Rom 3, 28; lihat Gal 2, 16). Namun de­mikian, Paulus tidak menyangkal bahwa Kesepuluh Perintah Allah tetap berlaku dan mengikat (banding­kan Rom 13, 8-10; lihat Gal 5, 13-25; 6, 2); juga ia tidak menyangkal pentingnya disiplin dalam umat beriman. Sebaliknya, tujuan utama Kitab Hukum ada­lah: Menumbuhkan semacam tata-tertib dalam umat, yang memberikan tempat utama kepada cinta kasih, rahmat dan karisma, dan sekaligus memudahkan per­kembangan yang teratur dari semuanya itu, baik da­lam kehidupan umat seluruhnya maupun dalam kehi­dupan setiap anggotanya.”

Memang, KHK jauh berbeda dari Kitab Hukum 1917, yang memandang Gereja terutama sebagai sua- tu “masyarakat sempurna” mirip dengan negara-nega­ra, sehingga hukum gerejani dipikirkan, disusun dan dinterpretasikan menurut teori hukum yang umum (bukan khas keagamaan, apalagi injili). KHK 1983 lain: Gereja dipandang sebagai Umat Allah, suatu misteri atau sakramen yang mengandung unsur ilahi, maka bahasanya tidak semata-mata yuridis, tetapi ju­ga bercorak teologis, khususnya jika mengutip doku­men-dokumen Konsisli. Ruang luas yang diberikan kepada para pejabat Gereja untuk menerapkan kanon- kanon umum secara supel dan manusiawi dimaksud­kan demi keselamatan orang beriman (berbeda de­ngan hukum kenegaraan).

Incoming search terms:

  • pengertian hukum kanonik
  • arti kanonik
  • pengertian kanonik
  • hukum kanonik
  • kitab hukum kanonik
  • apa itu hukum kanonik
  • pengertian kitab hukum
  • kanonik artinya
  • sistem hukum kanonik
  • pengertian sistem hukum kanonik

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian hukum kanonik
  • arti kanonik
  • pengertian kanonik
  • hukum kanonik
  • kitab hukum kanonik
  • apa itu hukum kanonik
  • pengertian kitab hukum
  • kanonik artinya
  • sistem hukum kanonik
  • pengertian sistem hukum kanonik