Advertisement

Kalau seorang awam (artinya bukan ahli antropologi) dihadapkan dengan kebudayaan yang berlainan sekali dari kebudayaannya, dia akan cenderung untuk menilai kebudayaan itu menurut “kaca mata” budayanya sendiri. Dalam antropologi budaya sikap demikian dianggap menghalangi seseorang untuk dapat setepatnya memahami suatu kebudayaan yang lain, karena itu penting sekali bagi seorang peminat antropologi untuk melihat kebiasaan-kebiasaan dalam suatu kebudayaan dalam konteks masyarakatnya sendiri. Sikap demikian dinamakan kenisbian kebudayaan dan dalam bab berikut hal itu juga diuraikan. Masing-masing kita menganggap diri sebagai seorang perorangan yang memiliki pendapat-pendapat pribadi, kegemaran-kegemaran dan keanehan-keanehan yang unik; sering kita membanggakan diri karena, dalam beberapa hal, kita masing-masing berbeda dengan orang lain. Namun, mengherankan sekali, bahwa reaksi kita serupa terhadap fenomena-fenomena tertentu. Khususnya terhadap cara-cara berlaku atau kepercayaan yang sangat berbeda dengan apa yang menjadi kebiasaan pada kita, maka kita menunjukkan reaksi yang sama. Meskipun kita memiliki sifat-sifat yang sangat menonjol perbedaannya, namun bila berkenalan dengan pola-pola kelakuan dalam masyarakat-masyarakat lain maka pola-pola itu memberi kesan yang sama pada kita.

Misalnya, suku Indian Yanomamo dari perbatasan Venezuela Brasilia mempunyai adat tertentu yang kemungkinan besar akan dinilai secara negatif oleh kebanyakan kita, hanya karena adat itu tidak sesuai dengan gagasan kita tentang cara berlaku yang wajar bagi anak-anak. Bila putera-putera Yanomamo marah pada orang tuanya dianjurkan untuk menyatakan kemarahan itu dengan memukul orang tuanya itu.Seorang anak yang menampar muka bapaknya atau menempeleng kepalanya bukannya dihukum malahan dipuji. Pada umur empat tahun, sebagian besar anak lelaki telah tahu, bahwa cara yang sudah dimaklumi bersama dan disetujui, untuk menunjukkan kemarahan dalam masyarakat mereka, adalah dengan memukul orang.1

Advertisement

Karena dalam masyarakat kita dan dalam aturan-aturan kita penggunaan kekerasan fisik dalam hubungan antar manusia dilarang, maka adat ini tidakakan dapat diterima oleh sebagian besar warga masyarakat. Adat demikian melanggar sistem sikap, nilai-nilai dan perilaku yang kita miliki sebagai suatu masyarakat dan yang merupakan kebudayaan kita. Walaupun ada perbedaan-perbedaan perorangan misalnya ada orang-orang berpandangan bahwa hal demikian diserahkan saja pada orang bersangkutan namun kita tidak mudah diyakinkan, bahwa anak lelaki harus diberi semangat untuk memukul orang tuanya: Kebudayaan kita, yang tertentu sifatnya itu, menjadi dasar mengapa kita bersikap tidak menerima terhadap gejala seperti yang sudah digambarkan dan juga mengapa hampir seragam sikap kita terhadap gejala itu.

Advertisement