Advertisement

Kehadiran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ke tengah-tengah kaum jahilliah (tidak taat hukum) merupakan sebuah kondisi dinamis pendidikan untuk membawa umat dari alam yang gelap ke alam yang terang-benderang. Hal ini terealisasi dengan terangkatnya nilai-nilai kemanusiaan seperti upaya menghilangkan perbudakan, penataan kehidupan politik, hukum dan ekonomi, peningkatan derajat kaum wanita, harmonisasi kehidu pan agama, sosial kemasyarakatan dan lingkungan hidup, khususnya pendidikan; peningkatan motivasi belajar, pengembangan potensi diri dan penguasaan ilmu pengetahuan. Fakta menunjukkan kedinamikaan konsep dan ajaran islam yang berkembang dengan jelas sejak dari abad ke 7 sampai dengan abad ke 14, puncaknya terjadi pada abad ke 8 masehi. Kemajuan Islam begitu pesat, terlihat dari munculnya karya, pemikir dan ilmuan, seperti tokoh antara lain; Al Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Rushd, Al Gazali. Hampir separo dunia orang memeluk Agama Islam pada waktu itu, mulai dari Spanyol di Eropa Barat sampai ke negara-negara Balkan di Eropa Timur, membentang terus ke negeri Cina di Asia Timur dan mencakup sebagian besar Afrika di belahan bumi seiatan. Kemajuan Islam yang dicapai pada masa kejayaan itu justru menjadi stimulus bagi peneliti untuk mendalami kearah spesifikasi khususnya yang berkaitan dengan sistem pendidikan yang dijalankan. Perubahan yang realistis ini bisa terjadi karena pada dasarnya agama Islam merupakan rahmat untuk sekalian alam (rahmatan lil a’lamin). Sebagaimana Firman Tuhan “Tidaklah Aku mengutus Engkau (Muhammad) melainkan rahmat untuk sekalian alam”. Seluruh firman Tuhan terkumpul dalam satu kitab suci Al Quran yang terdiri dari 6666 ayat yang dikelompokkan menjadi 114 surat. Proses turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad memakan waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari. Wahyu pertama yang turun adalah surat Al Alaq yang dimulai dengan kata iqra’. Secara tekstual iqra’ berarti “Bacalah”. Dalam perkembangan lebih lanjut pengertian iqra’ bukan hanya sekedar membaca, tetapi lebih kepada belajar dan menuntut ilmu sehingga secara kontekstual dapat diartikan “belajarlah” atau “tuntutlah ilmu”. Belajar memang merupakan kegiatan utama dan sentral dalam kehidupan manusia. Oleh karenanya wahyu pertama yang diturunkan Tuhan adalah perintah belajar yang menunjukkan bahwa agama Islam memposisikan belajar atau menuntut ilmu pengetahuan begitu penting dan wajib dilakukan oleh setiap penganutnya. Jika Islam itu telah disempurnakan dan diridhai Allah, sudah tentu agama itu mengandung kesempurnaan yang bisa ditinjau dari beberapa aspek, sehingga Islam tidak hanya berbicara tentang pendidi kan yang bersifat umum tetapi diyakini Islam juga berbicara tentang hal-hal rinci khususnya yang terkait dengan potensi kecerdasan otak manusia. Kecerdasan otak manusia memang tidak dinyatakan secara terang secara dalam ayat al Quran jika ditinjau dari di sisi manusia. Oleh karena itu ayat- ayat tersebut harus dipelajari secara rinci dan kompre hensif; baik melalui interpretasi fikiran maupun keterkaitan antara ayat yang satu dengan yang lainnya. Menelaah konsep pendidikan dalam Islam, sebetulnya tidak terlepas dari konsep dasar pendidikan secara umum, namun di dalam “makalah ini hanya membahas aspek; landasan pendidikan, tujuan pendjdikan dan materi pendidikan.

Incoming search terms:

  • makalah konsep pendidikan dalam islam

Advertisement
Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • makalah konsep pendidikan dalam islam