ARTI KONSEP RAS DAN ETNIK ADALAH – Selama bertahun-tahun konsep ras merupakan konsep yang agak sulit untuk dirumuskan oleh para ilmuwan sosial. Cukup lama para antropolog fisik telah mendekati konsep ini dengan mengartikannya menurut pengertian biologis secara ketat, di mana ras dipandang sebagai kelompok orang yang dipisahkan oleh konstelasi karakteristik genetik yang berbeda. Berbagai klasifikasi “stok” (keturunan) dan “substok” (subketurunan) ras telah dikemukakan. Akan tetapi para antropolog itu tidak saling sepakat mengenai jumlah stok dan substok yang hendak dLidentifikasi, juga tidak sepakat mengenai bagaimana tepatnya satu stok atau substok harus diidentifikasikan (van den Berghe, 1967). Pada waktunya telah diakui bahwa tidak ada ras yang sama atau “murni”, dan perbedaan ras mempunyai tingkat gradasi dan variasi yang hampir tak terbatas. Karena masalah-masalah itulah, para antropolog fisik baru-baru ini telah membatasi istilah ras itu untuk menyatakan suatu breeding population, yakni suatu kelompok orang yang mempunyai warisan genetik yang sama dan di mana tingkat perkawinan ke dalam (inbreeding) sangat tinggi. Karena breeding populations itu sering tumpang tindih menurut cara-cara yang rumit, maka konstelasi sifat genetik membentuk suatu rangkaian gradasi kecil yang kontinu, bukannya seperangkat kelompok yang terpisah.

Akan tetapi, kelompok-kelompok ras bukan sekedar menyatakan kategori orang-orang yang dapat dibedakan secara fisik. Mereka juga menyatakan kategori-kategori sosial yang penting, yakni kelompok orang-orang yang mengidentifikasikan diri mereka sendiri, dan pada umumnya diidentifikasi oleh orang-orang lain, sebagai berbeda dan menempati suatu lokasi sosial tertentu dalam perbandingan dengan kelompok-kelompok lain. Suatu ilustrasi yang baik mengenai hal ini diperlihatkan oleh sistem-sistem klasifikasi ras yang bertentangan di Amerika Serikat dani Brazil. Secara historis, Amerika Serikat hanya mengenal dua kelompok ras (ras putih dan ras hitam) dan mengklasifikasikan orang-orang ke dalam salah satu kelompok menurut apa yang oleh Marvin Harris (1964) di sebut aturan hypo-descent. Menurut aturan ini, setiap orang yang diketahui mempunyai nenek moyang berkulit hitam, bagaimana pun jauhnya, diklasifikasi sebagai berkulit hitam. Amerika Serikat sekarang ini tidak lagi menggunakan kategori identitas ras. Sebaliknya, Brazil malahan tidak pernah menggunakan aturan keturunan yang ketat demikian itu untuk pengklasifikasian identitas ras. Di Brazil, seperti yang dikemukakan Marvin Harris (1964:57-58):

Ada lebih dari selusin kategori yang diketahui sesuai dengan kombinasi warna rambut, bentuk rambut, warna mata dan warna kulit yang sesungguhnya. Tipetipe itu digradasikan masing-masing ke dalam warna spektrumnya dan tak satupun kategori terpisah sama sekali dari lainnya. Sebagai tambahan, ternyata bahwa seorang Brazil dapat disebut sebanyak tigabelas istilah yang berbeda oleh anggota-anggota komunitas lainnya. Istilah-istilah itu secara praktis tersebar melintasi seluruh spektrum tipe ras teoritis. Akibat lanjut daripada tidak adanya suatu aturan keturunan ialah bahwa orang-orang Brazil ternyata bukan saja tidak sepakat tentang identitas ras individu tertentu, tapi mereka juga agaknya tidak sepakat mengenai makna abstrak daripada istilah ras seperti yang terumus oleh kata-kata dan ungkapan-ungkapan.

Harris selanjutnya mencatat bahwa sistem Brazil itu memungkinkan orang mengubah identitas ras selama hidup mereka. Perubahan ini dapat terlaksana melalui sukses ekonomi atau pencapaian pendidikan yang tinggi. Orang Brazil mempunyai pepatah bahwa”uang memutihkan kulit” (money zvhitens the skin), yang berarti bahwa semakin besar kekayaan seseorang, semakin “bagus” kategori sosialnya. Jika kita gabungkan pengertian ras menurut sosiologi yang meliputi definisi-definisi sosial dengan konsepsi ras menurut antropologi fisik sebagai suatu kategori biologis, maka kita akan tiba pada definisi berikut: suatu ras adalah suatu kelompok atau kategori orang -orang yang mengidentifikasikan diri mereka sendiri, dan diidentifikasikan oleh orang-orang lain, sebagai perbedaan sosial yang dilandasi oleh ciri-ciri fisik atau biologis. Berlawanan dengan istilah ras, istilah kelompok etnik digunakan untuk mengacu suatu kelompok atau kategori sosial yang perbedaannya terletak pada kriteria kebudayaan, bukan biologis. Dalam kenyataan, kelompok-ke-lompok ras dan etnik itu sering tumpang tindih: suatu kelompok yang perbe-daannya terutama terletak pada kriteria biologis, dan dapat juga mempunyai perbedaan kultural. Akan tetapi, meskipun sering dicampur aduk, konsep ras dan etnik terpisah secara analitik. Dalam bab ini penggunaan istilah-istilah tersebut mencerminkan perbedaan analitik ini.

Filed under : Bikers Pintar,