magic (magis)

‘Magick’, kata Aleister Crowley, tokoh modem terkemuka, adalah Ilmu dan Seni mengenai musabab Perubahan menjadi bersesuaian dengan Kemauan’. Hal ini dimungkinkan karena ‘tidak ada sesuatu pun di alam semesta ini yang tidak mempengaruhi hal lain.’ (Crowley 1929). Tapi bagi E.B. Tylor, yang dianggap sebagai bapak pendiri antropologi Inggris, magis adalah ‘salah satu dari khayalan yang paling merusak yang pernah menggerogoti umat manusia (Tylor 1871).

Studi Tylor menandai fase pertama dalam sejarah ilmu modern mengenai magis, yang memandang gagasan dan praktek magis sebagai tindakan salah yang dilakukan orang-orang tidak beradab, terbelakang dan percaya takhyul di masyarakat Eropa untuk memanipulasi realitas fisik melalui sarana-sarana non fisik. Pendekatan Tylor disusun dan diuraikan oleh J.G. Frazer, yang dituangkan dalam dua jilid karya unggulannya The Golden Bough (1890) untuk menganalisis material magis dalam lingkup global. Frazer menyimpulkan bahwa magis merupakan penerap¬an yang salah pada dunia material dari hukum pikiran dengan maksud untuk mendukung ‘sistem palsu dari hukum alam’. Di mana saja, ilmu- pseudo ini (istilah yang pertama kali diterapkan oleh Tylor) bisa diringkas dalam dua prinsip dasar: bahwa kemiripan menghasilkan kemiripan, dan bahwa segala benda yang pernah dihubungi akan terus saling berhubungan dalam jarak tertentu. Dua prinsip ini menghasilkan magis homeopathic atau imitative, dan magis contagious. Dua cabang magis ini pada akhirnya bisa dipahami dalam istilah magis sympathetic, ‘karena keduanya mengasumsikan bahwa segala benda akan saling berhubungan satu sama lain dalam jarak tertentu melalui suatu simpati rahasia, impuls ditransmisikan dari satu pihak ke pihak lain lewat sarana yang kita sebut sebagai zat tak terlihat’ (Frazer 1932).

Frazer juga memandang magis sebagai tahap pertama dari tiga tahap besar evolusi pikiran ma¬nusia. Magis, menurut Frazer, bisa berhasil melalui agama, yang pada gilirannya memberi jalan pada ilmu pengetahuan  yang merupakan karakteristik model pemikiran zaman modern. Ketika pada awal 1920-an, antropologi meninggalkan pendekatan evolusi menuju studi mengenai masyarakat yang telah mendominasi perkembangan teori abad ke-19, studi ini juga menyimpang dari ambisi Frazerian untuk men ciptakan pendekatan universal terhadap magis. Setiap sistem magis lokal dipandang sebagai menyerupai suatu bahasa spesifik pada masyarakat dan budaya tertentu. Jadi, usahanya bukan mencari karakteristik umum mengenai pemikiran magis. Kesamaan linguistik secara eksplisit diuraikan oleh Marcel Mauss (Hubert dan Mauss 1906). Fungsionalis Bronislaw Malinowski mencurahkan dua seri tipis etnografis untuk membahas praktek-praktek magis penduduk pulau Trobriand di Melanesia, dan menunjukkan bahwa magis selalu ditemukan di tempat-tempat di mana sumber daya teknis manusia tidak memadai untuk meraih tujuan manusia. Magis, menurut pandangannya, akan lenyap seiring dengan perkembangan teknologi (Malinowski 1935). Generalisasi yang tampak dari masukan ini terbukti mengandung cacat dalam kasus pasca Renesans Inggris, di mana menurut sejarawan Keith Thomas sependapat dengan Max Weber magis kehilangan daya tariknya sebelum solusi-solusi teknis yang memadai direncanakan untuk dilaksanakan’. Di tempat terjadinya Revolusi Industri, tradisi rasionalis masa purba klasik berbaur dengan doktrin Kristen mengenai penguasa tunggal untuk menghasilkan konsepsi mengenai semesta yang tertib dan rasional, di mana sebab mengikuti akibat dalam logika yang bisa dijelaskan (Thomas 1971)

Suatu pengecualian penting terhadap partikularisme fungsionalis yang mendominasi era pasca Malinowski dalam antropologi sosial adalah karya Lucian Levy-Bruhl (1875-1939). Filsuf dan ilmuwan Perancis ini ingin menunjukkan bahwa perilaku non empiris di masyarakat kesukuan mencerminkan model pemikiran umum yang ia sebut pra-logis (kendati ia kemudian mengaku salah atas istilah yang bersifat merendahkan ini dalam bukunya Carnets. Dalam berbagai dokumentasi kritik terhadap Levy-Bruhl, pengikut Malinowski, E.E. Evans-Pritchard (1937), menunjukkan dalam kasus masyarakat Zande. Afrika Tengah bahwa pemikiran ‘magis’ mereka mengikuti aturan-aturan logis, kendati melekat dalam premis-premis yang non rasional, seperti kepercayaan terhadap ilmu sihir.

Kaum fungsionalis bersama dengan Tylor dan Frazer mengembangkan anggapan bahwa magis, dan juga agama (dua hal yang seringkah menjadi satu dalam label ‘magico-religious’) secara intrinsik merupakan khayalan, meski banyak kepercayaan itu bisa dibuktikan memberikan sumbangan yang berarti terhadap masyarakat tertentu. Anggapan bahwa magis merupakan sesuatu yang ‘di luar akal sehat’ ini mendapat tantangan dari beberapa ahli antropologi, yang melihat itu semata-mata sebagai penyakit ilmuwan, yaitu arogansi yang bersifat etnosentris dari kalangan akademisi Barat. Kemauan yang mulia untuk memuji klaim penganut magis tampaknya memunculkan fase ketiga dalam pendekatan ilmu sosial terhadap magis, yang juga menandai kembalinya universalisme Tylor dan Frazer. Kontribusi yang paling berpengaruh terhadap genre baru ini adalah Carlos Castaneda, yang dalam serangkaian buku terkenal menggambarkan inisiasinya dalam dunia paranormal ahli-ahli ilmu sihir di tengah masyarakat Yaqui Indians, Meksiko, dunia yang berbeda dari ‘realitas’ yang diajarkan pendidikan Barat selama ini pada penulis Kejujuran Castaneda dalam menggambarkan perjalanannya yang ganjil itu ditentang oleh beberapa ilmuwan, terutama de Miile (1978). Tapi, sebagaimana penegasan dari budaya Dunia Ketiga yang tertekan, visi magis dunia yang telah lenyap dari budaya umum (mainstream) masyarakat beradab Barat sejak jaman Pencerahan, maka karya Castaneda mempunyai nilai kebenaran simbolik dari mitos yang otentik. Laporan yang lebih sederhana mengenai Afrika berasal dan ahli arkeologi dan etnografi Adrian Boshier (1974), yaitu gambaran mengenai inisiasinya dalam dunia magis Zulu. Dengan cara yang sama dan lebih umum, Drury (1982) telah menelusuri kemiripan yang menarik antara penilaian antropologi terhadap suku shamanisme dan ritual magis di

Eropa. Rehabilitasi terhadap ‘ilmu pseudo’ masyarakat kesukuan ini mungkin juga dikaitkan dengan suatu konvergensi antara gagasan beberapa ilmuwan Barat dan mereka yang menjadi Kasper(1884-1942) bagian tradisi magis Eropa. Bukti eksperimental telah didapat untuk membuktikan bahwa partikel sub atomik yang pernah berinteraksi dapat secara cepat merespons pergerakan sub atom lain seribu tahun kemudian jika sub atom-sub atom terpisah sekian tahun-cahaya. Berdasarkan hal ini dan hasil pengamatan yang lain, ahli fisika David Bohm (1980) menunjukkan bahwa obyek-obyek yang nyata-nyata terpisah dalam semesta mungkin menyembunyikan suatu tatanan ‘keterlibatan’ yang tak terlihat dan bersifat rohaniah di mana segalanya secara intim saling berhubungan dengan segala hal yang lain. Magis mungkin berkenaan dengan menemukan kembali hilangnya kemuliaan ilmu pengetahuan sejak masa Renesans.

Incoming search terms:

  • pengertian magis
  • magis adalah
  • arti magis
  • ritual magis adalah
  • apa itu magis
  • pengertian ritual magis
  • ritual magis artinya
  • ritual magis
  • magis artinya
  • arti kata magis

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian magis
  • magis adalah
  • arti magis
  • ritual magis adalah
  • apa itu magis
  • pengertian ritual magis
  • ritual magis artinya
  • ritual magis
  • magis artinya
  • arti kata magis