Advertisement

Pada bagian terakhir abad kedelapan belas, keterangan-keterangan tentang kebudayaan-kebudayaan yang bukan Barat telah dapat diperoleh di banyak bagian di dunia ini. Termasuk sumber-sumber yang diperoleh itu adalah tulisan-tulisan J.F. Lafitau tentang suku-suku Indian di Amerika, gambaran Martin Dobrizhoffer tentang kaum Abipones di Amerika Selatan dan banyak lagi yang lain. Beberapa penulis bangsa Eropa berusaha untuk menyusun secara sistematis dan secara lintas budaya (berlaku untuk berbagai kebudayaan) keterangan kebudayaan mengenai pokok tertentu umpamanya, seorang pengarang yang tidak menyebutkan namanya pada tahun 1782 menerbitkan karya An Accurate Description of the Marriage Ceremonies Used by Many Nations. Uraian-uraian itu antara lain mencakup bangsa Yahudi, pribumi dari Teluk Hudson, bangsa Meksiko, bangsa Parsi, bangsa Jepang, bangsa Yunani dan kaum Hottentot.

Pengetahuan yang kian meluas mengenai keterangan-keterangan demikian menyadarkan kaum intelektual di abad kedelapan belas akan pengaruh kebudayaan terhadap kelakuan manusia, sekalipun mereka tidak mempergunakan istilah kebudayaan. Kesadaran mengenai kebudayaan kelihatan sudah mendalam pada Montaigne di abad keenam belas dan juga tercermin dalam tulisan John Locke (1632-1704), yang menyatakan: Seandainya Anda tahu saya lahir di Teluk Soldania, mungkin pemikiran dan pengertian kita tidak akan melebihi kebiadaban kaum Hottentot yang bermukim di daerah itu. Dan sekiranya raja Virginia, Apochancana, dididik di Inggris, mungkin dia akan menjadi seorang yang berpengetahuan dan merupakan seorang ahli matematika yang baik sebagaimana ahlinya. Perbedaan antara dia dan orang Inggris yang lebih maju terletak hanya dalam hal berikut, yakni bahwa penggunaan kecerdasannya terbatas pada cara-cara, dan pengertian-pengertian yang terdapat di negerinya sendiri dan tidak pernah diarahkan ke penggunaan lebih lanjut.

Advertisement

Baik Voltaire, maupun Rousseau mempergunakan keterangan-keterangan etnologis dalam tulisan-tulisan mereka. Voltaire sadar akan abad kejayaan dan luasnya daerah peradaban di India dan Cina dan mengatakan bahwa penulisan sejarah tidak boleh meliputi Eropa saja, melainkan harus mengikutsertakan peradaban-peradaban lain di dunia. Rousseau mempergunakan uraian tentang suku Indian Carib di Venezuela untuk menjelaskan konsepsinya tentang manusia dalam “keadaan fitriah yaitu si liar yang mulia” (the noble savage). Dalam Social Contract dalam tahun 1762, Rousseau menulis: “Manusia lahir bebas, tetapi di mana-mana ia dibelenggu”. Ia yakin bahwa manusia itu pada dasarnya adalah baik, tetapi dasarnya jadi sirna oleh peradaban. Justru pandangan sebaliknya lebih dulu diucapkan oleh Thomas Hobbes (1588-1679), yang menyatakan bahwa manusia itu pada dasarnya bersifat egosentris, agresif dan berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Jika orang menjadi beradab itu hanya disebabkan karena pembatasan-pembatasan yang dikenakan oleh pemerintahan yang tegas. Hobbes menyebut beberapa suku Indian di Amerika sebagai contoh orang-orang tanpa pemerintahan dan yang hidup dalam cara yang buas. Ahli-ahli pikir di abad kedelapan belas cenderung menyokong salah satu dari pandangan tadi dengan kaum pembaru yang liberal seperti Earl of Shaftesbury dan para pengikutnya yang sering menyerang pandangan Hobbes itu. Perbedaan- perbedaan pendapat serupa itu tentang sifat-sifat manusia dan masyarakat dewasa ini masih ditemukan dengan semacam konsepsi Hobbes, yaitu bahwa manusia adalah mahluk yang agresif, pemakan daging, pembela daerahnya sebagaimana diungkapkan oleh pengarang-pengarang seperti Konrad Lorenz dan Robert Ardrey, sedangkan pendapat-pendapat lain umpamanya pendapat Ashley Montagu — mengatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah binatang yang tidak berbahaya, yang berkelahi bukan karena pengaruh dorongan biologis, melainkan karena ia terpaksa melakukan itu.

Suatu karya penting abad kedelapan belas adalah karangan Montesquieu, L esprit des lois (1748), yaitu suatu studi perbandingan tentang peraturan- peraturan di berbagai masyarakat. Montesquieu menerima pikiran Locke yang mengatakan bahwa kekuasaan legislatif, eksekutif dan pengadilan harus dipisah-pisah dalam pemerintahan. Pandangan Montesquieu dan Rousseau mempengaruhi dalam pemerintahan. Pandangan Montesquieu dan Rousseau mempengaruhi perumusan Deklarasi Kemerdekaan Amerika dan juga undang-undang dasar Amerika Serikat yang memuat klasifikasi tersebut.

Dalam suatu analisa tentang masyarakat-masyarakat kuno. Montesquieu menunjukkan kepada beberapa perbedaan yang terdapat antara masyarakat- masyarakat yang berada dalam tahap perkembangan kebudayaan keliaran” dan kebiadaban”. Ia mencatat bahwa jenis yang pertama hidup dalam puak-puak yang tersebar dan tidak memiliki kesatuan sosial, sedangkan jenis kedua berkemampuan untuk bersatu sehingga membentuk bangsa-bangsa kecil. Kaum liar (savage) pada umumnya menjadi pemburu, sedangkan kaum biadab (barbarians) menjadi penggembala ternak besar-besaran dan kecil-kecilan. Pandangan-pandangan evolusi kebudayaan semacam itu telah dikemukakan oleh Turgot, seorang penulis bangsa Perancis lain di abad kedelapan belas dan oleh Adam Ferguson serta John Miliar. Semua itu merupakan pemikiran pendahuluan dari pola evolusi kebudayaan abad kesembilan belas vang diproposisikan oleh Ldward B. Tylor, Lewis H. Morgan, dan lain-lain. Pandangan itu tidak tergantung pada pengungkapan bahwa evolusi biologis telah terjadi, ia sudah ada jauh sebelum Origins of Species, karangan Darwin ditulis.

Advertisement