media and politics (media dan politik)

Di semua negara yang telah maju teknologinya, media menjadi arena sentral dalam bidang politik. Nilai penting media yang paling jelas terlihat adalah besarnya jumlah audiens yang dituju media dan kemampuan para audiens ini untuk lepas dari batasan-batasan kelas sosial dan corak politik. Tak kalah pentingnya, kehadiran media yang bersifat masif mampu menjadi pemaksa bagi institusi-institusi resmi untuk bersikap terbuka dan terbukti mampu mentransformasikan proses politik dan menciptakan ketegangan- ketegangan yang semuanya ini berkaitan dengan penguasaan informasi dan kesan.

Perkembangan media selalu beriringan dengan aspirasi demi demokrasi dan perjuangan demi kekuasaan politik (Keane 1991). Pers mempunyai sejarah yang sangat ambivalen, yang ditandai dengan patronase politik, sikap tunduk yang kaku dan berbagai kompromi yang hati-hati. Peliputan berita selalu disertai dengan rasa takut sekaligus pemihakan, sebagaimana fungsi jurnalistik independen dimunculkan dalam ketidakpastian dan ketidakmenentuan dalam berbagai instrumen penting politik. Tapi, entah itu dibawah tekanan negara, menjadi patron partai atau di bawah kekuasaan bisnis, dengan pertumbuhan para usahawan pers di abad ke-19 dan awal abad ke- 20, surat kabar tidak pernah meraih zaman keemasan dalam kemurnian jurnalistik (Smith 1979). Selalu ada biaya yang membuat pers selalu tertarik pada berbagai insting yang lebih mendasar, seperti bentuk awal pertukaran informasi perso nal yang terpusat pada gosip panas (Stephen 1988) dan itu dijalankan dalam sensasionalisme dan distorsi yang disengaja.

Akibat dari segala tingkah dan kepentingan pribadi ini adalah penemuan institusi yang secara kualitatif baru. Salah satu institusi ini terpaku pada upaya penyingkapan dan bergantung pada penerimaan audiens berdasarkan berbagai prioritas, insentif dan hambatannya sendiri, yang pertumbuhannya didorong oleh kompetisi memperebutkan pangsa pasar dan/atau pengaruh politik. Salah satu dinamika institusional adalah berkenaan dengan berbagai konsepsi yang terus berkembang mengenai apa yang bisa.

Pada masa kini, akses ke media merupakan sumber daya politik yang utama. Segala usaha untuk mempengaruhi isi media dan untuk menetralkan berbagai usaha manipulasi media yang dilakukan oleh para oponen merupakan medan tempur yang paimg penting bagi keba-nyakan konflik politik.

Para pemimpin yang melakukan kudeta biasanya menetapkan berbagai stasksi penyiaran sebagai targetnya yang pertama, karena tindakan ini dianggap sebagai lambang penguasaan sekau-gus sebaga: upaya penghancuran kesempatan untuk meiakukan mobilisasi balasan.

Lembaga penyiaran, pada khususnya, telah dipersalahkan karena merendahkan wacana politik (Postman 1986); karena hiburan mendominasi berbagai prioritas politik adanya obral pengaruh politik lewat iklan; dan karena mematikan kemampuan kognitif serta meningkatkan alienasi politik populer.

Namun, berbagai pandangan kritik ini juga penuh perbedaan pendapat dan rumit seperti halnya kinerja media itu sendiri. Kekuatan media untuk mengontrol pemikiran publik terbukti lebih kecil dibandingkan dengan yang dikhawatirkan. Banyak klaim mengenai pengaruh media mencampuradukkan antara jarak pandang dan kekuatan. Berbagai usaha manipulasi media yang dilakukan para pemimpin politik mengandung kadar keberhasilan yang berbeda-beda.

Media berada di luar kesulitan kriteria pembatas dan bias-bias transparan dari para pengamat. Pendekatan tekstual semata-mata terhadap benta  yang menempatkan berita dalam kerangka mitos atau ideologi gagal menemukan dampak berita sebagai suatu institusi pusat, yang mempunyai fungsi mempengaruhi berbagai tindakan dan hubungan antar para partisipan politik yang utama.

Yang paling fundamental, berita telah meluaskan skup informasinya terhadap publik. Artinya, jangkauan geografis berita terhadap dunia yang selama ini menjadi tempat pemahaman dan pendalaman pengetahuan publik mengenai masyarakat dan politiknya semakin luas. Salah satu konsekuensi yang sering diabaikan adalah makin besarnya hambatan akibat makin ketatnya pilihan-pilihan yang bisa diterima publik dalam pembuatan kebijakan, atau setidaknya pengajuan kebijakan.

Dalam kondisi seperti ini, signifikansi politik dari media jauh lebih mendalam dan penting daripada tindakan atas nama kekuasaan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang menduduki po¬sisi-posisi strategis dalam media pemilik, editor, wartawan atau pengiklan. Lebih jauh, upaya mempertimbangkan manuver-manuver manipulatif terhadap figur-figur media semacam ini jika didasarkan semata-mata pada bacaan eksternal dari isi seringkali tidak mampu menangkap hambatan dan motivasi internal.

Setiap perkembangan baru dalam media banyak memunculkan harapan sekaligus kekhawatiran. Perkembangan-perkembangan yang seringkali berkaitan dengan berbagai aspek kualitas kehidupan budaya dan politik ini, tidak bisa dengan mudah diukur. Karena itu ada banyak ramalan yang salah. Selain itu, lepas dari pentingnya pengaruh politik terhadap perkembangan media, tapi keberadaan pengaruh ini tidak bisa diramalkan oleh para pembuat kebijakan media. Sejarah media mencatat banyak bukti tentang keterbatasan pembuat kebijakan dan kritikus dalam memberikan ramalan. Walaupun sulit memprediksi perkembangan masa depan, ada dua tren yang menunjukkan makin meningkatnya nilai penting politik yaitu: keberagaman tampilan media dan kecenderungan menuju internasionalisasi.

Kapasitas teknologi yang berkembang begitu pesat dalam mengirimkan berbagai saluran ke rumah-rumah, lewat satelit, kabel atau layanan terestial, bertepatan dengan suatu tren yang dimulai dari negara-negara barat dan berbagai pemerintahan yang baru saja mengalami demokratisasi  menuju deregulasi sebagai suatu kebijakan umum. Deregulasi ini terutama terjadi pada kebijakan media dan telekomunikasi, kendati retorika pasar yang bertumpu pada kedaulatan konsumen akibat persaingan terbuka jarang bersesuaian dengan perkembangan media. Biaya-biaya yang amat tinggi dalam memulai bisnis, skala ekonomi yang besar dalam penawaran, produksi dan distribusi, dan logika strategi periklanan, semuanya tampaknya mengarah pada oligopoli.

Banyak negara mengizinkan berbagai stasiun penyiaran komersial baru untuk masuk pada saat yang bersamaan dengan ditekannya keuangan berbagai stasiun penyiaran publik. Yang paling jelas, meningkatnya tampilan (outlet) akan meningkatkan pilihan konsumen, tapi akhir dari proses tersebut dan implikasi politiknya sulit sekali untuk diduga. Sebagian ahli mengatakan lembaga penyiaran akan terdesak, setidaknya dalam pasar celah, untuk lebih menyempitkan penyiarannya. Demokrasi tradisional yang sebelumnya terfokus pada masifikasi berganti menjadi terfokus pada fragmentasi.

Tren kedua adalah suatu peningkatan kapasitas media untuk mentransmisikan informasi ke seluruh penjuru dunia dalam waktu sangat cepat. Ini merupakan inti dari makin pentingnya politik dalam gerakan-gerakan transnasional, dan meningkatnya pengaruh kekuatan internasional terhadap politik domestik. Sebagai contoh, media merupakan salah satu elemen dalam opini internasional yang memberi dukungan domestik pada para pemimpin reformis seperti Gorbachev dan Yeltsin. Media juga merupakan salah satu sarana bagi tindakan dan dukungan internasional untuk mendorong keberhasilan Kongres Nasional Afrika dan transisi damai apartheid di Afrika Selatan.

Perkembangan lebih lanjut, para audiens berita menjadi makin bersifat internasional, yang konsekuensinya tentu saja berkaitan dengan pelaksanaan politik luar negeri dan strategi kontrol terhadap rezim-rezim nasioonal. Keberadaan media barat secara masif mampu mencegah pertumpahan darah saat penggulingan rezim Marcos di Filipina. Para pengunjuk rasa Cina dengan sengaja menarik perhatian media barat dalam usahanya untuk mengubah perimbangan kekuatan domestik pada tahun 1989 saat terjadi pembantaian Lapangan Tiananmen. Ketersediaan layanan berita satelit, yang bisa digandakan di kaset video dan disebar luas di kalangan para aktivis, merupakan unsur penentu kemenangan ‘gerakan telepon mobil (mobile phone mob) dalam demonstrasi Bangkok tahun 1992. Pada saat bersamaan, berbagai tren ini telah membuat arus berita dan informasi internasional semakin tidak berimbang, penguasaan teknologi dan kapasitas komersial menjadi makin terkonsentrasi, gerakan-gerakan untuk integrasi internasional mulai menggerogoti kedaulatan nasional, dan kehadiran periklanan dan pemograman Barat mempunyai dampak yang belum bisa diramalkan terhadap para audiens baru.

Prediksi yang paling mendekati kepastian adalah bahwa sejarah media akan terus berlanjut menuju ambiguitas, dengan implikasi bersisi ganda bagi berbagai ideal politik. Selain itu, dengan situasi yang tak kalah rumit dan dinamisnya, politik dan media akan terus berkembang menuju situasi yang saling terikat satu sama lain.