projective methods (metode proyektif)

Metode proyektif mencakup pendekatan yang luas untuk menilai individu, yang semuanya itu menuntut usaha menetapkan struktur dan atau pemaknaan di atas stimulus yang mendua. Selain ciri dasar ini, metode proyektif umumnya dicirikan dengan kurangnya jawaban yang tepat, benar atau jelas dan biasanya membuka peluang bagi respon terbuka, kompleks dan ekspresif sebagai lawan dari pilihan sederhana antara ya-tidak atau benar-salah. Karena itu metode proyektif mewakili cara tak langsung untuk menilai seseorang. Karakteristik kepribadian akan kelihatan ketika seseorang sedang melakukan hal-hal lain, misalnya, mendeskripsikan suatu gambar, melengkapi gambar atau menggolongkan obyek. Metode proyektif melibatkan hal-hal di luar informasi yang diberikan dan mengisi kesenjangan di daiam keterangan yang tersedia.

Konsep proyeksi diperkenalkan oleh Freud (1964 [1894]). Konsep ini pertama kali muncui mengacu pada sifat defensif dari karakteristik yang tak dapat c|iterima secara pribadi oleh obyek atau orang lain.” Jadi orang yang marah akan salah merasakan kemarahannya dalam ekspresi dan tindakan dari orang lain. Freud kemudian mengakui bahwa proyeksi terjadi dalam absennya pertahanan atau konflik intrafisik. Dengan kondisi seseorang yang sifatnya belum terbentuk secara sempurna, persepsi interned dari emosi dan proses pikiran akan dapat diproyeksikan keluar [dan] digunakan untuk membangun dunia eksternal (Freud, 1955 [1913]; 64).

Lawrence K. Frank (1939) mengidentifikasi proyeksi sebagai ciri umum dari teknik penilaian kepribadian yang kini jumlahnya semakin bertambah, di mana semua teknik itu menghasilkan desain struktur dan budaya yang relatif kecil, sehingga kepribadian tersebut dapat memproyeksikan cara pandangnya terhadap kehidupan, makna-makna dirinya, signifikansi, pola-pola dan khu-susnya perasaannya, di atas bidang yang lentur. Frank (1930) juga mengartikulasikan tiga implikasi dari posisi ini. Pertama, Proyeksi berlangsung dengan kesadaran minimum atau kontrol kesadaran. Orang tersebut mentransendensikan batas-batas pengetahuan dirinya dan mengungkapkan lebih daripada yang ia mampu komunikasikan secara langsung. Kedua, stimuli yang mendua dari teknik proyektif bertindak terutama sebagai batu loncatan untuk ekspresi diri. Karakteristik khususnya relatif tidak penting. Ketiga, respon terhadap teknik proyeksi sedikit dipengaruhi oleh keadaan psikologi seseorang atau oleh konteks sosial dari presentasinya; secara prinsip mereka mengungkapkan karakteristik kepribadian yang bertahan Sama.

Konseptualisasi ini cocok dengan teori psiko- dinamik tentang kepribadian, seperti teori Freud dan Jung. Respon metode proyeksi memudahkan mereka menginterpretasikan hal yang berkaitan dengan ketidaksadaran, konflik-konflik intrafisik, pertahanan terhadap konflik tersebut, dan representasi simbolis dari kekuatan-kekuatan ini. Dengan alasan Lni, metode proyeksi sering digambarkan sebagai “jalan lebar menuju ketidaksadaran.”

Formulasi lain telah menggeser fokusnya pada proses dan pengoperasian kesadaran. Batner (194S) mempertajam hubungan antara respon terhadap stimuli proyektif dengan teori persepsi fungsional Dalam pandangan Brunner, respon terhadap stimuli yang mendua merefleksikan hipotesa, berdasarkan pengalaman masa lalu dan harapan di masa sekarang. Fulkerson (1965) menguraikan respon terhadap metode proyektif sebagai suatu rangkaian pengambilan keputusan di bawah kondisi yang tidak pasti. Ada dua macam bentuk ketidakpastian yang berbeda: keduanya berdasarkan, secara berurutan, pada stimulus mendua oleh Frank dan para ahli tradisional lainnya, dan yang berdasar pada ambiguitas situational, yang agak tersembunyi di dalam formulasi-formulasi ini. Fulkerson (1965) menekankan pemilihan kognitif yang terbuka bagi orang untuk menyalurkan atau untuk menahan respon dan bagaimana menghadirkan atau mengkomunikasikan kepada penguji, yang kesemuanya ini berdasarkan gaya karakteristik seseorang dalam mengatasi ambiguitas dalam kehidupannya. Exner (1989) menganalisis proses merespon stimuli proyektif seperti analisa noda tinta dari Roschach, dan menyimpulkan bahwa hanya sedikit bagian respon yang dapat dilacak untuk proyeksi. Dalam sebagian hesar kasus, proses didasarkan pada pengoperasian kognitif dari encoding, klasifikasi, seleksi dan artikulasi respon.

Sejak tahun 1900, banyak teknik proyektif yang telah dikembangkan. Ada empat macam yang menonjol: teknik noda tinta, tes bercerita [story-telling, teknik grafik dan teknik penyelesaian. Metode proyeksi yang sebelumnya berdasarkan pada modalitas visual untuk presentasi atau produksi stimuli. Teknik auditori terdiri dari suara-suara yang tidak jelas dan sulit untuk dikenali atau strukturnya telah berulang kali dikemukakan, tapi belum diterima secara luas. Hal yang sama juga berlaku pada beberapa teknik yang membutuhkan eksplorasi perabaan terhadap suatu stimuli.

Analisa noda tinta dikenalkan oleh Hermann Rorschach dari Swiss, yang mengembangkan sebuah tes yang terdiri dari sepuluh kartu. Rorscach juga menemukan sistem pemberian skor multidimensional berdasarkan lokasi (misalnya: keseluruhan, besar, kecil atau detail kecil), penunjuk (misalnya: bentuk, gerakan, warna atau bayangan) dan muatan (misalnya: hewan, manusia, tumbuhan atau obyek). Tes ini telah dipakai secara luas dalam bidang penelitian dan klinis; penelitian literatur terdiri dari ribuan penelitian. Hasil kerja ini beragam dan kompleks, beberapa di antaranya mendukung dan yang lainnya menolak pernyataan Rorschach. Tahun 1961, Wayne Holtsman di Universitas Texas mengembangkan suatu tes garis-garis noda tinta secara statistik. Terdiri dari dua bentuk yang masing-masing mengandung empat puluh lima titik tinta, dan hanya memungkinkan satu respon untuk tiap kartu, yang memungkinkan penetuan keandalan tes dan menunjukkan peningkatan obyektivitas pemberian skor. Penelitian ini memang meleng-kapi penelitian Rorschach (khususnya sebagai alat penelitian) tapi tidak menggantikannya, yang disukai oleh para ahli klinis karena tingkat sensitivitas dan fleksibilitasnya yang tinggi. Exner (1974; 1978) menemukan suatu sistem pemberian skor Rorschach yang komprehensif dan telah mengumpulkan data perkembangan kontemporer yang substansial, data klinis dan data normatif normal. Kontribusinya telah membangkitkan kembali penggunaan teknik Rorschach terutama di Amerika Serikat.

The Thematic Apperception Test (TAT) diperkenalkan oleh Henry A. Murray (1935) dari Universitas Harvard. Tekniknya merupakan teknik “story-telling” yang paling menonjol. Dua puluh kartu dibagi, peserta diminta memperluas suatu cerita dari masa lalu ke masa depan dan menghubungkan dengan tindakan, pikiran dan perasaan dari pemerannya. Hasil cerita imajinatif tersebut merefleksikan, dalam kalimat Murray, ” regnant preoocupation,” motivasi, perasaan dan fantasi seseorang. Banyaknya literatur TAT mendukung klaim-klaim ini, tapi belum memadai untuk menentukan bagaimana produk TAT berhubungan dengan tingkah laku yang berlebihan dan dapat diamati.

Grafik proyeksi digambarkan dengan teknik Draw-a-person dan teknik House-Tree-Person. Interprestasinya berawal dari asumsi bahwa karakter orang diproyeksikan pada gambar, yang dihasilkan dalam respon sampai kepada instruksi yang pendek, seperti “gambarlah seseorang, orang macam apa saja.”

Dalam teknik penyelesaian kalimat, ada lebih banyak struktur yang tersedia. Meskipun memanifestasikan kelemahan dan mudah dipalsukan, namun penelitian dengan penyelesaian kalimat yang terakumulasi telah menunjukkan manfaatnya sebagai alat bantu dalam menilai kepribadian.

Meskipun teknik proyektif telah digunakan sejak akhir abad 19, metode ini masih kontroversial. Secara umum, metode-metode tersebut berada di dalam hubungan yang pasti, namun sangat tidak sempurna, dengan referensi non-ujinya. Metode ini bekerja secara lebih baik dalam mengidentifikasi disposisi umum dari ciri pembawaan, seperti agresi kecemasan, ketimbang dalam memperkirakan tindakan spesifik, seperti bunuh diri atau keberhasilan kinerja dalam situasi yang khusus dan menekan. Kritik-kritik terhadap metode ini tertuju pada keandalan, subyektivitas dari interprestasi, distorsi yang dihasilkan oleh pengaruh sementara dan situasional, dan, terutama sekali, keterbatasan dari perkiraan dan validitas bersama. Namun metode proyektif terus digunakan dan, sesudah setelah kehilangan popularitasnya pada tahun 1970-an, muncul kembali di tahun 1980-an. Kelangsungan hidup metode sebagai sebuah alat penilaian kepribadian dikaitkan dengan posisi teoretis yang menekankan bahwa pengalaman subyektif seseorang tidak hanya sebagai penunjuk perilaku tetapi juga sebagai subyek yang berguna dari pengetahuan.

Incoming search terms:

  • proyektif
  • metode proyeksi
  • metode proyektif
  • pengertian proyektif
  • pengertian psikologi proyektif
  • teknik proyektif
  • pengertian teknik proyektif
  • pendekatan proyektif
  • proyektif adalah
  • Definisi proyeksi

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • proyektif
  • metode proyeksi
  • metode proyektif
  • pengertian proyektif
  • pengertian psikologi proyektif
  • teknik proyektif
  • pengertian teknik proyektif
  • pendekatan proyektif
  • proyektif adalah
  • Definisi proyeksi