Monopoli

Secara esensial semakin banyak tipe barang yang menjadi kebutuhan, dan makin jauh perbedaan antar merek atau produk alternatif, serta makin kecilnya penurunan penjualan akibat kenaikan harga, maka makin besar kekuasaan pelaku monopoli untuk menangguk keuntungan (Chamberlin 1933; Robinson 1933). Periklanan cenderung meningkatkan persepsi perbedaan-perbedaan produk, dan meningkatkan kesetiaan terhadap sebuah merek. Ini juga bisa menghambat kompetitor memasuki pasar dan dengan demikian melestarikan kekuatan monopoli (Schmalensee 1978).

Ada dua alasan utama mengapa kesejahteraan ekonomi bisa berkurang dengan adanya monopoli. Yang pertama, kekuatan monopoli memungkinkan harga ditetapkan di atas biaya marjinal. Dengan demikian unit-unit selanjutnya (yang belum tersuplai) akan mempunyai biaya yang lebih kecil dari jumlah yang mau dibayar seseorang. Ketiadaan dari unsupplied units ini adalah inefisiensi alokatif yang disebabkan oleh keinginan perusahaan untuk mempertahankan harga yang tinggi. Yang kedua, tanpa adanya persaingan yang memadai dari pemasok lain serta dengan kontrol yang tidak sempurna oleh pemilik perusahaan, biaya bisa menjadi tinggi. Untuk menutup faktor-faktor ini, monopoli perusahaan bisa memungkinkan skala ekonomi yang lebih besar (dengan batasan kasus-kasus monopoli “alamiah’ dimana banyak pemasok akan menjadi tidak efisien (Schmalensee dan Willing 1989; Williamson 196S).

Apakah sebuah monopoli memerlukan pengaturan untuk melindungi kepentingan konsumen merupakan permasalahan kebijakan anti-trust (Scherer dan Ros 1990). Pelaku monopoli bisa saja bukan perusahaan swasta yang berorientasi keuntungan, tetapi maiahan perusahaan negara yang mengedar tujuan-tujuan lain. Jika demikian maka argumentasi kesejahteraan harus dikaji ulang. Dan juga, pemegang monopoli (dan kekuatan monopoli) adalah hasil dari adanya kebutuhan insentif-insentif dinamik. Maka jaminan paten atas sebuah penemuan menghasilkan monopoli bagi penemunya. Tanpa perlindungan paten seperti itu, investasi yang diperlukan untuk memproduksi penemuan itu mungkin tidak akan ada. Oleh karena itu beberapa bentuk monopoli mungkin tidak dapat dihindari untuk menghasilkan insentif yang memadai untuk mendapatkan efisiensi dinamis pertumbuhan ekonomi melalui inovasi teknologi.

Akhirnya, monopoli memiliki kebalikan alamiah yang disebut monopsoni: hanya ada satu pembeli di pasar. Analisisnya sangat mirip dan contoh-contohnya meliputi konstruksi jalan raya yang dibeli oleh negara dan proyek-proyek pertahanan tujuan lain. Jika demikian maka argumentasi kesejahteraan harus dikaji ulang. Dan juga, pemegang monopoli (dan kekuatan monopoli) adalah hasil dari adanya kebutuhan insentif-insentif dinamik. Maka jaminan paten atas sebuah penemuan menghasilkan monopoli bagi penemunya. Tanpa perlindungan paten seperti itu, investasi yang diperlukan untuk memproduksi penemuan itu mungkin tidak akan ada. Oleh karena itu beberapa bentuk monopoli mungkin tidak dapat dihindari untuk menghasilkan insentif yang memadai untuk mendapatkan efisiensi dinamis pertumbuhan ekonomi melalui inovasi teknologi.

Akhirnya, monopoli memiliki kebalikan alamiah yang disebut monopsoni hanya ada satu pembeli di pasar. Analisisnya sangat mirip dan contoh- contohnya meliputi konstruksi jalan raya yang dibeli oleh negara dan proyek-proyek pertahanan.