nationalism (nasionalisme)

Nasionalisme adalah keyakinan bahwa setiap bangsa mempunyai hak dan kewajiban untuk membentuk dirinya sebagai negara. Terdapat banyak kesulitan untuk membuat spesifikasi apakah bangsa itu di Eropa, misalnya, calon-calon bangsa berkisar mulai dari kelompok Welsh dan Basques sampai kelompok Occitanian dan Northumbrian tetapi dalam hal ini sangat diperlukan budaya bersama dan bahasa persatuan. Swiss sejauh ini berjalan baik meskipun tanpa bahasa persatuan, namun ketiadaan bahasa persatuan ini sangat merepotkan penguasa Belgia. Teori nasionalis biasanya memberi ciri konflik pada penindasan lintas-bangsa, dan karena itu menawarkan suatu janji perdamaian dunia bila hak menentukan diri sendiri dijamin dalam tingkat global.

Nasionalisme muncul dalam suasana kebencian kosmopolitanisme yang mencuatkan kemarahan orang-orang Jerman dan negara Eropa lainnya yang merasa dimarjinalisasi dalam kerangka rasionalisme universaiistik Pencerahan Perancis. Gagasan romantik bahwa kemanusiaan sejati harus didorong melalui keterlibatan yang mendalam dalam budayanya yang khas telah menimbulkan kekaguman terhadap lagu, puisi, ceritera, drama dan kreasi-kreasi lain yang dipahami sebagai pengejawantahan jiwa nasional. Bahasa rakyat diakui memiliki nilai khas, yaitu sebagai medium ekspresi kultural dan aturan praktis mengenai seberapa jauh batas-batas suatu bangsa putatif bisa dibentangkan. Berbagai penaklukan Napoleon mengalihkan gairah menggelora ini ke arah praktis, dan Addresses to the German Nation dari Fichte yang diucapkan di Berlin pada tahun 1807-8 mendapatkan sambutan responsif di seluruh Jerman. Italia dan Jerman ketika itu merupakan kandidat yang paling memungkinkan untuk membentuk suatu negara dan keduanya sama-sama siap untuk itu, meskipun Italia hingga kini belum sepenuhnya memiliki kesatuan nasional, sedangkan kesatuan Jerman lebih banyak sebagai pengaruh Bismarck daripada dorongan orang-orang Jerman sendiri untuk membentuk bangsa.

Penyebaran gagasan nasionalis ke Eropa Barat dan sekitarnya, di mana berbagai macam masyarakat yang sangat berbeda tidak terhindarkan untuk saling berinteraksi, akhirnya menimbulkan berbagai kesulitan. Difusi doktrinai didukung oleh pertumbuhan industri dan kota-kota besar. Melalui gagasan-gagasan nasionalis, para guru, wartawan, pendeta dan cendekiawan lainnya menemukan identitas untuk masa kini dan visi untuk masa depan. Sebagian di antara mereka mulai menulis bahasa-bahasa yang semuia hanya dituturkan secara lisan: sementara yang iain menyusun bahan bacaan kesusasteraan dan mengungkapkan sejarah yang sebenarnya. Opera dan novel pada waktu itu merupakan sarana-sarana yang paling disukai untuk menyebarluaskan semangat nasionalis. Aspek politik dari berbagai usaha ini meraih keberhasilan besar dengari ditandatanganinya Perjanjian Versailles pada tahun 1918, yang menetapkan Eropa dalam kerangka prinsip menentukan diri sendiri sebagai bangsa (principle of national self-determination).

Di seluruh Afrika dan Asia, gagasan-gagasan nasionalis ini menyulut berbagai gerakan mengganti kekuasaan Eropa dengan pemerintahan dari bangsa bersangkutan, tapi karena hanya ada sedikit bangsa yang memenuhi syarat di kawasan ini, maka calon-calon negara pengganti yang dibentuk berdasarkan beragam prinsip itu menyatakan kemerdekaannya agar bisa memulai proses homogenisasi budaya yang diharapkan bisa mengarah pada terjadinya pembentukan kebangsaan. Pakistan, yang berlandaskan identitas keagamaan Islam, berusaha mempertahankan dua wilayah terpisah yang diwariskan oleh Raja Inggris, dan tampaknya tidak dapat terus dipertahankan dalam bentuk tersebut; wilayah timur memisahkan diri menjadi negara Bangladesh pada tahun 1971. Namun batas-batas artifisial imperial Afrika secara mengejutkan mampu mencegah berbagai pertikaian antar suku yang biasa terjadi, kendati kompensasinya adalah tidak memiliki homogenitas akibat pemerintah yang tiranik dan sentralistik.

Para pakar politik sering mendapati suatu bentuk penjelasan yang menarik dalam nasionalisme karena di dalamnya menjanjikan penjelasan mengenai sebab-sebab konflik yang tersembunyi di antara berbagai kelompok etnik. Dalam hal ini, nasionalisme bukan keyakinan melainkan kekuatan yang bisa menggerakkan sekumpulan orang melakukan perbuatan sekaligus menganut suatu keyakinan. Konsep seperti itu menuntut diadakannya penelitian terhadap kondisi-kondisi di mana kekuatan itu digerakkan. Yang dijanjikan oleh program penelitian ini, sebagaimana penelitian-penelitian lain dalam ilmu politik, jauh melampaui apa yang terlihat di permukaan. Nasionalisme sebaiknya dianggap sebagai seperangkat gagasan dan sentimen yang secara lentur merespons, dasawarsa demi dasawarsa, situasi-situasi bani biasanya situasi- situasi sulit yang memungkinkan rakyat menemukan jati dirinya.