neuroses (neurosis)

Dalam sejarahnya, neurosis atau psikoneurosis telah membentuk kategori utama gangguan kejiwaan dalam psikiatri dan psikoanalisis. Istilah neurosis muncul dari keyakinan bahwa berbagai gejala gangguan ini berasal dari kerusakan syaraf. Kemudian muncul istilah psikoneurosis yang merefleksikan pemahaman bahwa sebagian besar gejala neurotik bersumber pada masalah psikis dan emosi. Dewasa ini penggunaan kedua istilah tersebut seringkali saling bertukar. Namun sebenarnya, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV) dari the American Psychiatric Association buku pedoman resmi untuk nomenclature yang diterbitkan pada tahun 1974 menghapuskan klasifikasi “neurosis” sebagai gantinya, neurosis itu dimasukkan bersama suasana hati (mood), kecemasan (anxiety), somatoform, factitious, dissociative, dan gender,dan gangguan-gangguan kontrol- impuls lain yang tidak termasuk kategori mana pun.

Pada masa sebelumnya, neurosis itu dikategorikan berdasarkan gejala atau manifestasi dari kecemasan, yang dianggap sebagai sumber terpenting. Pada berbagai kondisi sakit (illness) ini, gangguan utamanya adalah suatu gejala atau kumpulan gejala yang menyebabkan ketertekanan pada diri individu dan dianggap sebagai sesuatu yang asing dan tidak bisa diterima. Namun, pengujian realitas tetap utuh dan tidak ada aetiology organis yang bisa dibuktikan. Sehingga, perilaku neurotik individu umumnya tetap normal. Tanpa perawatan pun, kondisi-kondisi ini relatif bertahan lama atau bersifat kambuhan.

Karena sulit mendefinisikan normalitas atau kewarasan, maka para ahli mengasumsikan bahwa semua orang bersifat neurotik potensial. Individu bisa disebut neurotik bila pertahanan egonya secara kuantitatif bersifat eksesif dan mengganggu pola-pola fungsi adaptif. Proses neurotik itu menghalangi kebebasan seseorang untuk berkembang, membatasi kemampuan untuk meneruskan usaha, dan mengurangi fleksibilitas dari wilayah pemikiran, perilaku dan emosinya. Neurosis bisa bersifat terbatas hanya mempengaruhi salah satu dari wilayah tersebut tapi bisa juga makin meluas menyentuh sejumlah wilayah kehidupan individu.

Para ahli psikoanalisis dan psikiatris orientass- dinamik berkeyakinan bahwa neurosis itu disebabkan oleh konflik antara dorongan dan id agresif dengan kekuatan ego yang berusaha mengendalikan dan mengatur dorongan-dorongan itu. Neurosis bisa juga timbul dari konflik-konflik antara superego (atau kesadaran) dan ego. Para ahli teori relasi obyek berpendapat bahwa konflik- konflik neurotik bisa timbul dari berbagai representasi diri yang tidak sebangun dalam ego dan superego dan berbagai interaksi internalnya, dan juga dari berbagai interaksi itu dengan lingkungan eksternal.

Menurut formulasi klasik-dinamik, terbentuknya gejala merupakan suatu konsekuensi dari munculnya kesadaran tentang sumber-sumber instinktif dan jejak-jejak ingatan yang menimbulkan kecemasan. Suatu bahaya diciptakan, dengan mengerahkan tekanan atau mekanisme defensif lainnya untuk menghilangkan kecemasan. Bila mekanismemekanisme ini tidak berhasil menahan kecemasan, maka akan muncul gejala-gejala yang mewakili berbagai ekspresi substitusi dari dorongan instinktif itu. Gejala-gejala ini bisa dipahami sebagai formasi kompromis atau upaya-upaya ego untuk mengintegrasikan dorongan-dorongan ego, superego dan realitas.

Penampakan neurosis pada diri seseorang biasanya menunjukkan fiksasi dan regresi pada tahap awal dari pertumbuhan masa kanak-kanak. Berbagai kondisi sakit ini mungkin dibentuk oleh situasi realistis yang mengaitkannya dengan pengalaman hidup traumatik pada masa sebelumnya. Berbagai Fantasi dan perasaan tak sadar bermunculan dan membangkitkan konflik awal. Meskipun tidak ada bukti pasti mengenai faktor-faktor biogenetika sebagai penyebab gangguan neurotik, namun perbedaan-perbedaan struktur bisa menjadi faktor penyebab.

Pada mulanya Freud mengklasifikasikan histeria. fobia dan neurosis obsesif-kompulsif ke dalam “neuroses transferensi”, karena pasien yang mengidap kondisi-kondisi seperti ini melakukan pengulangan pola-pola neurotik masa kanak-kanak dalam transferensi (tranference) selama perawatan. Karena pasien-pasien yang menderita gangguan melankolia dan sizofrenia tidak menunjukkan kecenderungan yang sama selama masa perawatan, maka entitas-entitas ini disebut narcissistic neuroses. Istilah symptom neuroses dapat disamakan dengan gangguan neurotik dalam pengertian masa kini, sedangkan character neuroses hampir sama dengan konsep gangguan kepribadian (personality disorder).

Klasifikasi Freud atas neurosis itu didasarkan pada pemahaman psikoanalisisnya tentang kondisi dan pengalamannya menghadapi berbagai respons pasien terhadap situasi perawatan. Aliran psikiatri mapan yang tidak bersedia menerima pendekatan Freud  berusaha mencari kompromi dan mengklasifikasikan neurosis sebagai ragam pola dalam menghadapi kecemasan. Dengan demikian, neurosis histeris tipe konversi  mengimplikasikan bahwa kecemasan mengalami perubahan menjadi gejala fisik, misalnya, mati rasa (paralysis). Sedangkan fobia diasumsikan sebagai kecemasan yang mengalami penyekatan (compartmentalized), dan seterusnya.

Klasifikasi psikiatri mutakhir, DSM-1V, bergerak menjauh dari segala teori tentang dinamika dasar. Fokus DSM-IV bersifat deskriptif dan behavioralis. Diagnosis mutakhir mengenai berbagai hal yang pernah membentuk neurosis adalah gangguan kepanikan, gangguan kecemasan yang tergeneralisasi, gangguan konversi, gangguan sakit psikogenik, amnesia psikogenik, psychogenic fugue, kepribadian ganda, gangguan tidur-jalan (di masa kanak-kanak), fobia sederhana, fobia sosial, agorafobia dengan serangan panik, agorafobia tanpa serangan panik, gangguan kecemasan terbelah (di masa kanak-kanak), gangguan obsesif kompulsif, gangguan depersonalisasi, dan hypochondriasis. Sebagaimana ditunjukkan daftar ini, penekanannya bukan pada teori aksiologi, tapi lebih pada klasifikasi yang bergantung pada deskripsi tentang gejala- gejala gangguan tersebut. Sejak kemunculan DSM- III dan DSM-III-R pada tahun 1980 dan 1987, klasifikasi baru mengenai gangguan-gangguan stres akut ditambahkan ke daiam DSM-IV. Selain itu, dua klasifikasi baru diajukan: gangguan soma- tisasi, dan gangguan-gangguan pasca-trauma akut dan kronis.

Namun demikian, dalam kondisi-kondisi ini individu memang mengalami kecemasan langsung atau tidak langsung disamping satu atau beberapa mekanisme pertahanan yang berfungsi mengidentifikasi gangguan itu. Contohnya barangkali gangguan obsesif-kompulsif di mana orang yang bersangkutan menderita oleh kondisi kambuhan yang tidak terhindarkan, berbagai gagasan, pemikiran, citra atau impuls yang merupakan ego-dystonic (obsesi), terjadi berulang kali dan tampak seperti mengandung arti berdasarkan kaidah-kaidah tertentu, atau dalam suatu corak (desakan) stereotip. Individu yang bersangkutan mengetahui bahwa obsesi dan desakan itu tidak memiliki arti sama sekali atau tidak masuk akal, tetapi akan terjadi ketegangan jika ia mencoba menolak desakan atau mengabaikan obsesi itu. Obsesi-obsesi umum meliputi pikiran tentang kekerasan, kontaminasi dan kebimbangan, sedangkan desakan umum berupa tindakan cuci tangan, pengecekan ulang, penghitungan dan tindakan menyentuh.

Penderita neurosis memberi respons baik pada psikoanalisis dan bentuk-bentuk psikoterapi dinamis lainnya seperti psikoterapi rekonstruktif individual, terapi suportif dan psikoterapi kelompok psikoanalitik. Cara-cara lain yang digunakan dalam perawatan penderita neurosis mencakup modifikasi perilaku, hipnosis, pengobatan psikotropik dan berbagai pendekatan non-dinamik.

Incoming search terms:

  • pengertian neurosis
  • neurosis adalah
  • neurotis
  • perilaku neurotis
  • arti neurosis
  • gejala neurosis
  • kategori neurosis

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian neurosis
  • neurosis adalah
  • neurotis
  • perilaku neurotis
  • arti neurosis
  • gejala neurosis
  • kategori neurosis