nuptiality (nuptialitas)

Dalam bidang demografi, kajian mengenai nuptialitas mengacu pada kajian tentang komposisi status perkawinan penduduk dan komponen-komponen yang mengubah status perkawinan, yaitu, perkawinan pertama, perceraian dan perpisahan, keadaan menjanda/menduda dan perkawinan pembeli Pendefinisian seperti ini berarti menerapkan penafsiran legai secara ketat atas status perkawinan. Namun dalam banyak masyarakat, status aktual atau de facto seseorang sering sekali berbeda dengan status legalnya. Sebagai contoh, di Amerika Latin dan di wilayah Karibia dan di Barat, banyak pasangan mulai hidup bersama atas persetujuan bersama yang mungkin tidak ditindaklanjuti dengan formalisasi hukum. Di tempat-tempat lain, berbagai sistem hukum perkawinan, seperti perkawinan sipil, perkawinan berdasarkan agama dan hukum suku atau adat, secara bersamaan dinyatakan berlaku. Karena itu keputusan untuk mengkaji status legal, status de facto, atau kedua-duanya harus terikat dengan situasi dan kondisi yang berlaku dalam masyarakat bersangkutan.

Pada tingkat konsepsi yang lebih luas, nuptialitas bisa juga mencakup kajian tentang perimbangan jenis kelamin untuk melakukan perkawinan (the marriage market), poligami, dan karakter relatif dari para suami dan isteri (assortive mating). Dalam hal ini jelas bahwa pola-pola perkawinan adalah bagian dari totalitas adat-istiadat perkawinan suatu masyarakat. Kesadaran ini membuat arah penelitian tentang nuptialitas menjauh dari demografi, dan terisolasi pada kedudukan atau fungsi pola-pola perkawinan dalam struktur sosial yang berlaku. Perhatian khusus diarahkan pada perkawinan dalam kaitannya dengan organisasi keluarga dan agama.

Masyarakat-masyarakat patrilineal yang kuat. sebagaimana ditemukan di Afrika, Timur T engah, Asia Selatan dan Timur, secara tradisional ditandai dengan perkawinan universal untuk kedua jenis kelamin, perkawinan dini bagi para wanita tapi dengan perbedaan umur yang relatif jauh di antara kedua jenis kelamin, dan dengan tingkat perceraian dan perkawinan-kembali yang rendah. Seorang wanita muda dianggap sebagai tamu dalam rumah orang tuanya, karena harus segera pergi untuk tinggal di rumah suaminya. Karena itu, nilai anak gadis itu bagi orang tuanya terkait dengan keluarga lain yang terikat dengan perkawinannya, jadi tidak terkait dengan sumbangannya yang bersifat langsung terhadap ekonomi rumah tangga orang tuanya. Selain itu, karena setelah kawin ia menjadi milik rumahtangga suaminya, maka perceraian dan perkawinan-kembali menjadi sulit. Di Timur Tengah, Asia Selatan dan sebagian Afrika, pola-pola ini juga ditegakkan oleh Islam dan Hindu, yang sangat mengagumkan arti keperawanan wanita pada saat perkawinan dan tugas orang tua sebagai wali dari perkawinan anak-anak mereka. Pada kedua agama ini, perkawinan tidak dianggap sebagai murni keputusan individu.

Di daerah-daerah yang susunan struktur keluarganya longgar atau bersifat bilateral, sebagaimana dalam budaya-budaya Eropa, wilayah Karibia, Amerika Latin dan Asia Tenggara, perkawinan cenderung kurang universal dan wanita yang memasuki lembaga perkawinan berumur lebih tua. Perbedaan umurnya juga lebih dekat di antara kedua jenis kelamin itu, dan perceraian, perkawinan-kembali dan hidup bersama secara informal lebih sering terjadi. Pola- pola perkawinan ini diperkuat dengan individualisme yang lebih kental dalam agama-agama besar di wilayah-wilayah ini, yaitu Kristen dan Budha. Namun, masyarakat Muslim di Asia Tenggara memiliki pola perkawinan universal dan perkawinan dini bagi para wanita karena menekankan penghormatannya kepada agama dalam hal ini.

Pola-pola yang lebih tradisional ini mengalami perubahan di banyak benua. Yang paling spektakuler, usia perkawinan bagi wanita di Asia Timur mengalami peningkatan yang sangat besar dan dibarengi dengan peralihan besar-besaran para wanita yang belum menikah ke dalam angkatan pekerja upahan dan non-pertanian. Perkawinan campuran telah kehilangan kekuatan dengan peralihan kekuatan [mereka] ke tingkat nasional, dan karena menghadapi semakin berkembangnya jumlah wanita tidak bersuami yang potensial [dan] memiliki penghasilan sendiri. Di Barat, usia perkawinan bagi kedua jenis kelamin berfluktuasi tajam pada abad ke-20 sehubungan dengan pergeseran ekonomi dan perubahan-perubahan sosial dalam harapan-harapan hidup mereka. Usia perkawinan juga secara perlahan-lahan meningkat di Afrika, Timur Tengah dan Asia Selatan terutama karena gadis-gadis menggunakan waktu iebih lama di sekolah-sekolah mereka. Namun, kemungkinan terjadinya usia perkawinan bagi para wanita yang melampaui 20 tahun di negara-negara ini masih sangat jauh, karena perubahan peran wanita tak bersuami  sebagaimana juga terjadi di Asia Timur cenderung tertanam kuat.

Incoming search terms:

  • nuptialitas

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • nuptialitas