Advertisement

PANTEISME

Inggris: Panteism; dari Yunani pan (semua) theos (Allah).

Advertisement

Beberapa Pengertian

1. Ajaran filosofis mengemukakan bahwa Allah merupakan suat prinsip impersonal, yang berada di luar alam, tetapi identi dengan-Nya. Panteisme meleburkan Allah ke dalam alam seraya menolak unsur adikodratiNya.

2. Pandangan yang mengajarkan bahwa terdapat hanya satu substansi atau hakikat, yaitu eksistensi impersonal, mutlak, abad tak terbatas.

3. Menurut panteisme, segala sesuatu (dan manusia) tidak merupakan substansi yang independen, tetapi hanya determinasi (mod yang berarti cara-cara berada) atau cerminan (refleksi) dan Yang Mutlak. Dengan demikian, tatkala seseorang mengendalikan dirinya sendiri, Allah sungguh-sungguh mengenal dirinya set diri. Dalam pandangan ini, secara empiris hal-hal atau barani barang memang berbeda satu sama lain tetapi pada hakikatnya ( sungguh-sungguh identik satu sama lain bahkan juga denga Allah. Sebagai prinsip yang melahirkan barang-barang, Alb merupakan natura naturans dan barang-barang merupakan natu naturata.

Kata sifat “panteis” diperkenalkan oleh John Toland tahun 170 untuk menunjuk pada Socinianisme (suatu gerakan keagama) heterodoks yang bermula dari karya Laelius dan Faustus Socinui Dalam serangan terhadap Toland tahun 1709, Fay menciriki pandangan Toland sebagai “panteisme”. Setelah diperkenalkan, istilah ini diterapkan pada berbagai macam pandangan, yang mens identikkan Allah dan dunia. Istilah ini harus dibedakan dari p nenteisme di mana dunia dipandang sebagai unsur Allah tetapi  dak identik denganNya. Sejumlah tipe Panteisme akan dibedaka pertama di Barat dan kemudian di Timur.

A. Panteisme di Barat muncul dalam konteks spekulasi filosoi dan bukan dalam konteks praktek keagamaan.

1. Para filsuf Yunani kuno, yang termasuk kaum hylozoistik, menganggap materi dan kehidupan tak terpisahkan.

2. Parmenides memandang dunia sebagai Sang Mutlak yang tak berubah. Jika hal itu berarti bahwa perubahan dan keanekaan dunia bersifat tampakan saja, pandangan tersebut dapat disebut Panteisme Akosmik. Dunia perubahan melebur ke dalam Sang Absolut yang abadi.

3. Heraklitos menganggap api sebagai unsur ilahi dan pengatur, yang bekerja dari dalam aspek tunggal tetapi merupakan sesuatu yang dasariah bagi alam semesta. Pandangan ini dapat disebut Panteisme Imanentistik. Anaxagoras yang menggantikan api dengan nous (jiwa dunia), termasuk dalam klasifikasi ini.

4. Stoisisme menggabungkan gagasan pokok Heraklitos dan Anaxagoras. Di samping itu, dengan tema determinisme oleh akal universal masuklah ide mengenai kemutlakan yang ilahi dalam hubungan dengan dunia. Akal dunia imanen dalam manusia. Pandangan ini mempunyai identitasnya sendiri, dan mungkin dapat disebut sebagai Panteisme St oik.

5. Neoplatonisme mengembangkan suatu sistem yang dapat dinamakan Panteisme Emanasionisttk. Alasanya, semua yang ada datang dari Yang Ilahi, dan merupakan Yang Ilahi dalam bentuk yang merosot.

6. Di Barat, sepanjang Abad Pertengahan, baik Panteisme Emanasionistik maupun Stoik mempunyai banyak wakilnya. Yang terdahulu ditemukan pada Avicebron, Erigena, Averroes, dan mistisisme dari Cabala Yahudi. Meister Eckhart memperlihatkan evidensi Panteisme Emanasionistik maupun Stoik. Para pengikutnya Tauler, Suso, dan Ruysbroeck lebih jelas Panteis Stoik.

7. Nicholas dari Cusa pada abad ke-13 mengangkat banyak penekanan yang sudah dibahas tadi. Di samping itu, ia beranggapan bahwa pada Allah terdapat identitas semua yang bertentangan. Ini berarti sifat-sifat yang saling bertolak belakang dapat diterapkan pada Allah. Giordano Bruno, yang pada abad ke-16 menganut pandangan yang sama, menerapkannya pada pernyataan-pernyataan tentang imanei dan transendensi Allah.

8. Pada Renaissance, Paracelsus menampilkan campuran Pa teisme Stoik dan Emanasionistik. Panteisme Stoik dijumj pada Ficino, Weigel, Pomponazzi, Cardan, dan lain-lain Pico Delia Mirandola mewakili Panteisme Emanasionist Boehme menyerap sejumlah pengaruh yang sudah k sebut tadi; tetapi ia berkeyakinan bahwa dunia ini meli cermin dari yang ilahi, dan pandangannya dapat diset sebagai Panteisme Akosmik.

9. Pada abad ke-17, Spinoza membangun suatu Panteisi Monistik, di mana kesementaraan terlebur ke dalam l abadian. Hegel membuat istilah Panteisme Akosmik dalam kaitan dengan Spinoza. Tetapi Hegel membuat pernyata ulang tentang hal itu. Dunia tidak menghilang dalam Allah tetapi Allah dan dunia bersatu secara tak terpisahkan.

10. Goethe menyajikan campuran Panteisme Hylozoistik d Stoik. Dan filsuf Perancis Cabanis menampilkan suatu panteisme yang juga menggabungkan sejumlah tipe.

11. Jika deduksi sistem Hegel dimengerti sebagai urutan lof maka Hegel menyajikan suatu skema Neoplatonik yang berdiri dengan kepalanya. Roh mutlak muncul terakl Dimengerti sebagai proses temporal, sistem itu dapat pandang sebagai Panteisme Stoik. Sejauh kemutlakan ya ilahi ditekankan, maka terdapat isyarat kehadiran Panteisi Monistik atau Akosmik.

12. Pada para pengikut Hegel tekanan pada kemutlakan tain lebih besar. Dewasa ini Schleiermacher menampilkan su; Panteisme Monistik Relativistik Dunia adalah real, berub dan ada di dalam Allah, walaupun Allah tetap abstrak dan tidak terpengaruh oleh dunia. Josiah Royce menyajikan suatu Panteisme Monistik Absolut. Allah sekaligus berii mutlak dan identik dengan dunia. Dunia bersifat real  kekal.

Di Timur Dekat dan Timur Jauh panteisme muncul perta kali dalam konteks devosi keagamaan.

1. Dalam kitab-kitab Hindu, baik dalam Veda maupun Upanishad diri manusia dan yang ilahi dianggap identik. Atman sama dengan Brahman. Masalahnya ialah penafsiran apa artinya ini.

2. Shankara yang memandang dunia sebagai bayangan mimpi, sementara yang real hanyalah Brahman yang tak berwujud memeluk pandangan Panteisme Akosmik.

3. Ramanuja membentangkan suatu sistem yang menganggap dunia aktual mengalir dari Brahman yang tak berwujud; tetapi sesudah itu hingga akhir siklus itu  merupakan tubuh Brahman. Sistem yang disebut pada tahap pertama adalah Panteisme Emanasionistik; yang kedua, Panteisme Monistik Relativistik.

4. Dalam Budhisme muncul pembedaan-pembedaan yang sama. Ashvaghosa beranggapan bahwa dunia merupakan perairan yang dipusarkan oleh angin sewaktu dalam realitas hanya ada yang Absolut. Dengan demikian ia menganut Panteisme Akosmik.

5. Nagarjuna berpendapat bahwa Yang Mutlak dan Yang Kosong adalah identik.

6. Chih-i, pendiri sebuah aliran Budhisme Cina, berpandangan bahwa eksistensi bisa dilandasi ilusi, dan hanya Pikiran Murni yang bereksistensi. Dengan demikian ia menganut Panteisme Akosmik.

 

Bentuk Utama

1. Berkaitan dengan identitas antara Allah dan barang-barang empiris, suatu pembedaan dibuat antara beberapa jenis panteisme. Panteisme imanentistik (monisme) mengidentikkan seutuhnya Allah dengan segala sesuatu. Dan dengan demikian ini menyerupai ateisme materialistik (Ostwald, Haeckel, laine). Panteisme transendental (mistik) menemukan yang ilahi hanya dalam inti terdalam segala sesuatu, khususnya dalam jiwa, sehingga makhluk ciptaan menjadi Allah hanya sesudah menanggalkan selubung daging (panteisme India dari Filsafat Vedanta, Plotinus, Scotus Erigena). Panteisme irnanen-transenden mengajarkan Allah memenuhi dan menyingkapkan dirinya sendiri dalam setiap entitas (Spinoza, Idealisme Jerman, Goethe, Schleisr macher, Eucken). Di sini termasuk juga panpsikisme yang meng ajarkan bahwa alam semesta dijiwai oleh suatu jitva-dunia atai suatu inteltgensi-dunia. Dengan menggunakan ide ini panteisn biologis berupaya menjelaskan finalitas internal dan eksterna dari organisme.

2. Berkaitan dengan asal-usul dari yang-ada dibedakan tiga macan panteisme. Panteisme emanasionis melihat segala sesuatu sebaga lahir dari Yang Absolut yang tak berubah (Neo-Platonismej Panteisme evolusionis mengajarkan bahwa Allah merealisasiku dirinya sendiri dan sampai pada kesadaran-diri yang penul melalui perkembangan dunia (Fichte, Schelling, Hegel, Gen tile, Croce). Panteisme statis sama sekali mengabaikan masalal asal-usul segala sesuatu (Spinoza).

3. Dari sudut pandangan epistemologis, dibedakan dua macar panteisme. Panteisme realistik mempertalikan segala eksistensi yang tak tergantung dari pikiran ilahi (Spinoza, Eduard vo Hartmann). Panteisme idealistik menegaskan bahwa segala sesuat hanya merupakan pikiran dari Yang Absolut. Panlogisisme Hegel menegaskan identitas antara pikiran-pikiran dan eksistensi.

4. Berdasarkan mana yang lebih unggul, Allah atau dunia, terdapat dua macam panteisme. Panteisme dalam arti sempit menyatakan bahwa Allah tunduk pada alam semesta; sedangkan menurut teopanisme, Alam Semesta tunduk pada Allah.

 

Penolakan terhadap Panteisme

Penolakan terhadap panteisme memiliki beberapa alasan. Pertam panteisme langsung jatuh ke dalam kontradiksi internal begi Allah yang tak berubah dan tunggal secara niscaya tercakup d lam perubahan dan keanekaragaman dunia. Karena, determina: determinasi dan cara-cara penampakan secara niscaya mempeng ruhi dan mengalir dari dasar eksistensi.

Kedua, panteisme bertentangan dengan kesadaran manusia kita. Kalau kita tidak merupakan substansi independen, kita dak dapat memiliki suatu kesadaran pribadi akan diri kita sendi padahal, nyatanya kita memiliki kesadaran diri.

Incoming search terms:

  • panteisme
  • pengertian panteisme
  • apa itu panteisme
  • sifat panteisme
  • painteisme
  • prinsip panteisme
  • arti pantheisme
  • pengertian panteism
  • pengertian panteisme dan contohnya
  • pengertian pantheisme

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • panteisme
  • pengertian panteisme
  • apa itu panteisme
  • sifat panteisme
  • painteisme
  • prinsip panteisme
  • arti pantheisme
  • pengertian panteism
  • pengertian panteisme dan contohnya
  • pengertian pantheisme