Advertisement

Dalam kesusastraan Melayu Lama (Klasik), adalah bentuk puisi yang terdiri atas empat baris yang bersajak bersilih dua-dua (abab) dan tiap baris terdiri atas empat perkataan. Pantun adalah bentuk sastra khas Indonesia. Dua awal disebut sampiran, sedangkan dua baris berikutnya disebut isi pantun.

Ada dua pendapat tentang hubungan antara sampiran dan isi. Pendapat pertama dikemukakan oleh H.C. Klinkert, penulis De Pantoens of Minnezangen der Maleiers {Pantun Lagu Cinta Orang-orang Melayu) pada tahun 1868, yang menyebutkan bahwa antara sampiran dan isi terdapat hubungan makna. Pendapat tersebut ditegaskan oleh Pijnappel pada tahun 1883, bahwa ada hubungan bunyi dan arti antara sampiran dan isi. Sampiran membayangkan isi. Pendapat tersebut dibantah oleh Ch. A. van Ophuysen, bahwa sia-sia mencari hubungan antara sampiran dan isi. Yang muncul pertama dalam benak pengarang adalah isi, kemudian dicarikan sampirannya agar bersajak. Akhirnya Hooykas yang menjelaskan bahwa pada pantun yang baik ada hubungan makna tersembunyi dalam sampiran dan pada pantun biasa atau kurang baik hubungan tersebut semata-mata hanya untuk keperluan persamaan bunyi saja.

Advertisement

Para ahli juga mempersoalkan asal mula pantun. Pantun berasal dari kata Jawa padi atau pari. Dalam sastra Jawa dikenal bentuk sejenis pantun yang disebut parikan. Perbedaannya, jika pantun terdiri atas 4 baris (kadang 6 baris), parikan 2 baris. Namun jika ditilik lebih jauh, parikan terdiri atas 4 baris, hanya tiap baris terdiri atas dua perkataan saja. Karena itu disimpulkan bahwa pantun berusia sangat tua. Pantun berasal dari bahasa isyarat yang disampaikan dengan tumbuhan, hewan, atau benda lain yang bunyi namanya mirip dengan apa yang hendak disampaikan. Misalnya, di Sumatra orang yang baru menikah dikirimi ikan belanak, maksudnya agar pengantin cepat mempunyai anak {beranak). Ditambahkan oleh Husein Djajadiningrat bahwa dalam pantun yang dipentingkan adalah adanya irama, sebab dalam irama itulah terdapat kekuatan magis kata-kata.

Ada berbagai pantun; menurut Ophuysen ada lima, yaitu (1) pantun tua berisi pidato atau perbincangan adat; (2) pantun dagang berisi pernyataan hati pilu atau duka cita pengembara; (3) pantun riang berisi kegembiraan dan humor; (4) pantun nasihat berisi pengajaran; (5) pantun muda biasanya berisi ung r-apan cinta kaum muda.

Advertisement