parapsychology (parapsikologi)

Dalam pengertian sederhana, parapsikologi hanya menyangkut kajian mengenai psikokinesis (PK) dan persepsi ekstra sensorik (extrasensory perception-ESP). Psikokinesis (secara harfiah berarti gerakan pikiran) adalah kemampuan fisik untuk mempengaruhi obyek-obyek atau kejadian- kejadian dengan menggunakan pengaruh mental semata, ini lebih dikenal sebagai kekuatan pikiran atas materi. ESP mengacu pada tiga fenomena berbeda yakni telepati, yang merupakan komunikasi langsung antara dua pikiran tanpa meng-gunakan jalur-jalur sensorik yang umum diketahui clairvoyance, merupakan kesadaran akan berbagai objek dan kejadian yang terjadi pada lokasi yang jauh, tanpa menggunakan jalur-jalur sensorik yang umum diketahui atau dapat diterima logika dan prekognisi yaitu merupakan pengetahuan tentang kejadian-kejadian yang belum terjadi, selain dari apa yang bisa diketahui dengan logika. Namun, dalam prakteknya, para psikologi sering dipakai secara lebih luas untuk mengacu pada kajian tentang kejadian-kejadian paranormal (yang tidak bisa dijelaskan oleh hukum-hukum ilmu pengetahuan). Definisi yang lebih luas ini akan mencakup pula bidang-bidang seperti astrologi, teori bioritme segitiga Bermuda, berjalan di atas bara api, hantu, fotografi Kirlian, UFO, bentuk-bentuk kehidupan yang ganjil (misalnya Yeti) dan sebagainya.

Meski ada banyak laporan mengenai peristiwa-peristiwa paranormal dalam semua kebudayaan dunia sepanjang sejarah, perhatian dunia modem pada hal ini dipicu oleh lahirnya spiritualisme. Pada tahun 1848, Fox bersaudara, Kate (11 tahun) dan Margaret (13 tahun), di daerah Hydesville, New York melaporkan bahwa mereka mendengar suara-suara ketukan di rumah mereka. Suara-suara tersebut kemudian diartikan sebagai pesan dari orang-orang yang sudah meninggal, dan dengan demikian lahirlah gerakan spiritualisme. Dalam waktu relatif singkat, seances (pertemuan, khususnya para spiritual, untuk berbicara dengan arwah) menjadi sangat populer baik di Amerika maupun Eropa. Fenomena-fenomena yang muncul pun lebih dari sekadar suara-suara ketukan, di antaranya adalah levitation, manifestasi ectoplasma, suara-suara roh dan sebagainya. Banyaknya ilmuwan terkemuka yang tertarik pada fenomena-fenomena ini kemudian menjadi awal dibentuknya Society for Psychical Re¬search (SPR) di Inggris pada tahun 1882 dan The American Society for Psychical Research (ASPR) pada tahun 1885. Kajian tentang perantara dan berbagai kelebihan orang-orang ini diharapkan akan memberikan bukti nyata bahwa jiwa manusia tetap kekal setelah mati. Sayangnya bukti yang meyakinkan tidak pernah didapat. Banyak perantara yang tertangkap basah melakukan penipuan dalam aksinya, tapi ternyata hal ini tidak menggoyahkan keyakinan para pendukung aliran ini, termasuk beberapa ilmuwan terkemuka pada masa itu. Bahkan, meskipun pengakuan Margaret Fox tahun 1888 tentang suara- suara ketukan yang memicu lahirnya spiritualisme 40 tahun sebelumnya dianggap tidak lebih dari suara “gesekan” jari-jemarinya, ternyata tidak memberikan pengaruh sedikit pun pada orang-orang yang percaya.

Pada akhirnya, muncul kesadaran akan perlunya uji terkendali terhadap klaim-klaim paranormal. Tonggak penting investigasi parapsikologi ditancapkan oleh Joseph Banks Rhine dari Laboratorium Parapsikologi, Universitas Duke pada tahun 1935. Rhine, dengan dibantu oleh istrinya Louisa dan rekan-rekannya, memperkenalkan kajian kuantitatif yang berbeda dari kajian umum yang mendasarkan pada bukti-bukti anekdotal. Dia melanjutkan kajiannya mengenai PK, di mana subyek mencoba untuk mempengaruhi perputaran dadu dan mempelajari ESP dengan menggunakan satu pak kartu khusus, yang dikenal sebagai kartu Zener. Setiap set berisi duapuluh lima kartu terdiri dari lima kartu yang memiliki tanda berbeda-beda (tanda plus, kotak, lingkaran, garis bergelombang dan tanda bintang). Kemungkinannya, subyek bisa menentukan lima kartu yang benar apabila diminta menebak urutan kartu yang ada di tumpukan kartu yang telah dikocok. Awal riset Rhine tampaknya menunjukkan bahwa subyek dapat menyelesaikan kedua tugas itu, baik tugas-tugas ESP maupun PK pada tingkat yang jauh lebih tinggi daripada yang hanya dijelaskan berdasarkan ekspektasi kesempatan. Meski demikian, karya awalnya ini mendapat kritikan dari segi metodologis maupun statistik. Ketika kemudian kontrolnya lebih diperketat dalam rangka menangkal kritik  hasil-hasil yang signifikan masih terjadi kendati sangat sulit didapat. Sejak riset pertama ini, eksperimen-eksperimen canggih yang dilakukan para ahli para- psikologi meningkat pesat. Dua teknik yang sering dipakai adalah (a) remote viewing (seorang ‘pengirim’ mengunjungi tempat-tempat terpencil yang dipilih secara acak untuk memproyeksikan kembali impresi mental tentang tempat itu kepada seorang ‘penerima’) dan (b) prosedur ganzfeld (seorang pengirim mencoba mengirimkan informasi secara telepatis kepada penerima, di mana si penerima dalam kondisi deprivasi perseptual).

Para pengritik parapsikologi tetap tidak terpengaruh dengan bukti-bukti yang ada. Tidak dapat disangkal bahwa banyak fenomena dianggap tidak absah berdasarkan definisi luas parapsikologi. Sebagai contoh, ratusan penyelidikan empiris atas klaim astrologi tradisional menunjukkan secara jelas adanya kekurangan validitas, dan baik Kirlian Fotografi maupun tindakan berjalan di atas bara api bertentangan dengan pendapat umum tidak memerlukan penjelasan ilmu gaib. Lebih jauh, klaim-klaim yang berkaitan dengan ESP dan PK belum bisa memuaskan masyarakat ilmiah. Berbagai kritik terus diarahkan pada masalah metodologi dan statistik bidang ini, yang menyatakan bahwa berbagai klaim yang sangat tidak biasa ini memerlukan standar bukti yang sangat tinggi. Apabila klaim parapsikologis ini benar, ilmu pengetahuan lain akan memerlukan perombakan besar. Masalah lain adalah selalu adanya kemungkinan terjadinya penipuan. Sudah sepatutnya mengingat kasus S.G. Soal, seorang penyelidik bangsa Inggris yang karyanya oleh para ahli parapsikologi di tahun 1940-an dianggap sebagai suatu bukti yang tidak terbantahkan tentang realitas telepati. Pada tahun 70-an baru terbukti bahwa ada banyak kejanggalan dalam rangkaian data riset Soal. Hasil yang dicapai Soal tampaknya merupakan akibat rekayasa data, meski hal ini baru diketahui setelah beberapa dekade kemudian melalui upaya yang sungguh-sungguh untuk mengungkapkannya. Salah satu kritik yang hampir meruntuhkan parapsikologi adalah bahwa sesudah satu abad penelitian ilmiah yang terorganisisasi dengan mengabaikan klaim- klaim yang bertentangan para ahli parapsikologi belum bisa memberikan spesifikasi mengenai kondisi yang diperlukan untuk mengulang efek paranormal. Selama hal ini belum dapat dilakukan, kelompok pengkritik akan tetap enggan untuk menerima realita paranormal.

Incoming search terms:

  • parapsikologi

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • parapsikologi