Advertisement

PARTISIPASI

Inggris: participation-, dari Latin participo, participation (ambil bagian) dari pars (bagian) capio (saya mengambil). Inggris participation, terjemahan dari istilah Yunani methexis.

Advertisement

Partisipasi semula merupakan salah satu konsep kunci dalam teori Plato tentang ide-ide. Setiap ide supraduniawi merealisasikan secara sempurna suatu isi esensial menurut kepenuhan kemungkinan- kemungkinannya. Karena itu ide bersinar pada bidang duniawi sebagai ideal. Hal-hal dari dunia material ini hanya memperlihatkan suatu partisipasi dalam ide-ide tersebut sejauh hal-hal itu hanya mampu menyatakan suatu fraksi dari kemungkinan-kemungkinannya. Karena itu, hanya ide-idelah yang merupakan hal-hal yang sungguh-sungguh ada. Sementara hal-hal duniawi yang kelihatan, yang terpenjara dalam “bukan-ada” atau materi, hanya merupakan bayangan dari dunia yang lebih tinggi. Plato telah melukiskan hal itu dalam mitos gua yang terkenal dalam Republic.

Selain dari arti statis yang bertahan antara contoh dan representasi, doktrin Platonis tentang partisipasi juga mempunyai sisi dinamisnya. Partisipasi diandaikan untuk menjembatani jurang antara ide supraduniawi dan hal-hal duniawi. Karena ide itu sendiri tidak masuk ke dalam komposisi hal tersebut, masih perlu dijelaskan bagaimana hal tersebut dibentuk menurut ide tersebut. Plato mengatakan bahwa hal itu “berpartisipasi” dalam ide, tetapi dia tidak mampu memberikan suatu penjelasan yang tegas tentang partisipasi itu.

Paham partisipasi menyertai Platonisme selama berabad-abad. Hal itu dikembangkan lebih lanjut dalam neo-Platonisme, dai; Agustinus sendiri dan dalam Agustinianisme di kemudian ha Thomas Aquinas membuatnya menjadi agak klasik ketika dia menyatukannya ke dalam Aristotelianisme.

Bagi Aquinas, landasan terakhir tempat segala sesuatu berparti pasi adalah kepenuhan Allah, yang sebagai eksistensi itu send atau eksistensi absolut (tak terbatas) mengandung dalam dirin sendiri segala kesempurnaan dalam tingkat tertinggi atau menur semua kemungkinannya. Dia memiliki dalam dirinya sendiri seca padu dan dengan demikian secara lebih tinggi (modo eminent segala sesuatu yang tampak tersebar dalam ciptaan. Sebagai eksi tensi murni, Allah juga merupakan eksistensi yang hidup, semei tara hal yang ada terbatas secara esensial tersusun dari suatu bei tuk dan suatu subjek.

Berbeda tajam dengan semua teori panteistik dan emanasiori tik, partisipasi terjadi karena penciptaan yang merangkul seen tak terpisahkan kausalitas efisien dan kausalitas contoh da Allah. Menurut kausalitas contoh, makhluk ciptaan diciptaka sesuai dengan contoh-contoh dalam pikiran Allah, sehingga setia barang dengan caranya sendiri mencerminkan suatu aspek di kepenuhan ilahi. Pelbagai tingkat eksistensi dari barang-barai ini berkaitan dengan tingkat-tingkat asimilasi itu. Bukti adany Allah yang didasarkan pada tingkat-tingkat kesempurnaan r merupakan soal pokok dalam teori partisipasi.

Pada ambang periode modern Nicolas dari Cusa menjadiku gagasan partisipasi inti upayanya. Filsuf-filsuf kontemporer telil mengambil suatu pandangan baru tentang partisipasi. Dari kela diran contoh tersebut dalam wakilnya yang terbatas dan dari hi bungan esensial antara contoh dan wakilnya, kita sudah sampai pada suatu pemahaman yang lebih mendalam tentang kesatui yang tak terlukiskan Allah dengan ciptaanNya atau pemahami lebih dalam tentang imanensi Allah dalam dunia.

 

1. Kaum Pythagorean menggunakan istilah itu untuk mend6- kripsikan cara bilangan memainkan peran dalam pembentukn dunia.

2. Plato membentangkan ajaran partisipasi Ide-ide sebagai unsur- unsur pembentuk dunia material. Dunia intelijibel berpartisipasi dalam dunia sensibel (yang kelihatan) melalui Ide-ide.

3. Pandangan Aristoteles berbeda dari pandangan Pythagoras dan Plato dalam hal ini; dan menegaskan bahwa keduanya menganut ajaran yang sama dengan nama yang berlainan.

4. Levi-BruhI menemukan prinsip partisipasi di kalangan suku bangsa primitif yang berfungsi sebagai variasi prinsip kontradiksi yang diterima oleh kaum yang beradab. Sebagai ganti identitas- diri dan konsistensi, bangsa primitif percaya akan aneka identitas, aneka lokasi, pengiriman, dan penerimaan kekuatan-kekuatan mistik.

5. Lavelle menafsirkan kegiatan manusia sebagai partisipasi dalam Aktus Yang-Ada, dan dengan begitu berhubungan dengan Sang Ilahi.

Advertisement