ARTI PASAR

47 views

markets (pasar)

Pasar adalah institusi yang memungkinkan terjadinya pertukaran melalui tawar-menawar atau pelelangan. Institusi ini memainkan peran krusial dalam mengalokasikan sumber daya dan mendistribusikan penghasilan di hampir semua perekonomian, dan juga membantu menentukan distribusi pengaruh politik, sosial dan intelektual. Hanya pasar-pasar lengkap (complete markets), yang setiap agennya sanggup melakukan pertukaran untuk setiap barang secara langsung atau tidak langsung dengan agen-agen lain, dapat menjamin produksi dan distribusi yang optimal. Pasar-pasar semacam ini juga harus kompetitif, banyak pembeli dan penjual, tidak ada halangan yang berarti untuk masuk atau keluar, informasinya sempurna, melibatkan kontrak yang berdasar pada hukum dan bebas dari paksaan. Walaupun model pasar dalam pengertian umum mengacu pada berbagai pasar yang memperdagangkan komoditas, analisis ini juga bisa diterapkan pada pasar-pasar untuk modal, tanah, kredit, tenaga kerja, dan sebagainya. Suatu sistem pasar sempurna memberikan suatu mekanisme untuk mengkoordinasi berbagai aktivitas individu yang berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri, yang pada gilirannya mewujudkan kerangka institusional sosial dan politik yang memungkinkan para ahli ekonomi menghasilkan berbagai asumsi mengenai perilaku manusia untuk mendorong terciptanya efisiensi yang optimal dan kesejahteraan.

Sebagian besar analisis ekonomi mengenai pasar, dari Aristoteles sampai sekarang, telah memfokuskan pada ketidaksempurnaan pasar dan sesuatu yang mirip teori modem mengenai oligopoli dikemukakan Cournot (1838) pada awal abad ke-19. Pembahasan modem mengenai pasar-pasar tidak lengkap didominasi perdebatan yang dimulai dengan karya Arrow dan Debreu (1954), yang menyatakan bahwa ketidakpastian akan menghalangi upaya mengamankan solusi-solusi Pareto-optimal. Karya ini berhubungan dengan suatu analisis komplementer terhadap konsekuensi-konsekuensi persaingan tidak sempurna, seperti yang dibahas Stigler (1957). Tidak adanya pasar-pasar lengkap, terutama Kurangnya informasi atau kontrak-kontrak yang bisa dijalankan. atau adanya berbadai atau hak pemilikan (property right) yang tidak sempurna, diyakini akan mengakibatkan pada kegagalan pasar suatu keadaan di mana pasar tidak efisien dalam melakukan alokasi.

Ketidaksempurnaan dan kegagalan pasar sebagai akibat dari struktur sosio-ekonomi yang tidak efisien dan eksploitatif pernah dianalisis secara rinci untuk keperluan perekonomian yang sedang berkembang di Dunia Ketiga, terutama untuk institusi-institusi agraris dari berbagai daerah pertanian negara-negara tersebut. Jika berbagai teks masa sebelumnya seringkali menekankan kurangnya rasionalitas atau lemahnya ketahanan tradisi non material untuk menjelaskan tidak adanya institusi pasar yang efektif di Afrika dan Asia, sekarang sudah dimungkinkan untuk memahami bahwa pasar-pasar yang saling terkait dengan agen-agen pemasok tanah, kredit dan tenaga keija yang berada dalam kondisi-kondisi monopoli atau oligopoli (lihat Bharadwaj 1974; Braverman dan Stiglitz 1982) merupakan inti dari problem produk dan distribusi makanan di Asia Selatan dan tempat-tempat lain. Akibatnya, tempat-tempat yang tenaga kerjanya yang dijual tanpa diberi hak yang memadai, maka orang-orang yang memiliki tanah dan modal akan menggunakan kekuatan sosial mereka untuk memungut sewa tanpa persaingan yang efektif. Sebagaimana dinyatakan Bardhan (1989) dan lain-lainnya, institusi-institusi sosial seperti panen bersama dan perbudakan utang (debt bondage) bisa mendistorsi pasar tanah dan tenaga kerja untuk menciptakan suatu ekuilibrium sub optimal dan ekonomi statis. Disamping itu, institusi-instituasi tersebut mestinya tidak dipandang sebagai sekadar usaha adaptasi alternatif terhadap kondisi-kondisi pasar tidak sempurna yang diakibatkan oleh ketidakpastian atau informasi tidak sempurna. Bagi para ahli ekonomi pembangunan dan pembuat keputusan pada tahun 1950-an dan 1960-an, peran negara dalam mensubstitusi tidak adanya pasar-pasar itu dijustifi- kasi oleh karakteristik alokasi pasar yang tidak memadai atau eksploitatif. Namun, pada akhir 1970-an dengan adanya distorsi dalam harga akibat intervensi negara dan meningkatnya bahaya dari mencari sewa oleh para pemilik faktor-faktor produksi yang langka seperti modal dan tanah dijamin penghasilannya yang berarti memberi imbalan pada mereka atas kepemilikan aset-aset tersebut, jadi bukan karena penggunaan yang etisien atas faktor-faktor produksi muncul satu lagi peran neo klasik tentang hubungan antara pasar dan pemerintah yang ditegaskan kembali oleh Lal (1983). Perdebatan ini bertambah rumit dengan adanya fakta bahwa banyak negara berkembang meraih kemandirian dan memulai kebijakan pembangunannya pada saat (akhir 1940-an dan awal 1950-an) institusi-institusi pasar lokal dan internasional mengalami kehancuran yang sangat parah akibat Depresi Besar dan Perang Dunia II (Tomlinson 1993).

Lepas dari kembalinya kegigihan neo-klasik terhadap teori pembangunan, tetap saja ada berbagai masalah berkaitan dengan kekuatan praktis susunan pasar dalam menciptakan solusi- solusi optimal bagi problem-problem ekonomi. Jika semua pasar dalam pengertian tertentu tetap tidak sempurna, maka pertanyaan yang tertinggal adalah mengenai bagaimana cara terbaik melengkapi pasar-pasar itu untuk menjamin ekuitas dan efisiensi dengan cara menggunakan berbagai institusi lain. Sebagian ahli ekonomi mengusulkan bahwa yang diperlukan adalah perubahan institusional komplementer untuk memberlakukan kembali hak milik atau memantapkan harga-harga efektif dengan cara menghapus semua subsidi dan pajak yang terdistorsi (Friedman dan Friedman, 1980), sementara ahli ekonomi lain memandang problem ini lebih kompleks dari ini.

Di negara maju, keraguan mengenai efisiensi pasar untuk menjamin perubahan struktural yang dinamis telah difokuskan pada sejarah perusahaan-perusahaan besar, terutama di Amerika Serikat. Masalah ini terdapat dalam karya Coase (1937; 1960) dan lain-lain yang mengarah pada identifikasi berbagai biaya transaksi yang dapat menghambat penyusunan kontrak (contractual arrangement) yang semestinya menjadi dasar pasar kompetitif, dan memberikan suatu kerangka untuk menganalisis institusi-institusi sebagai substitusi pasar-pasar yang hilang di suatu lingkungan yang mengandung banyak resiko, pasar tidak sempurna, informasi tidak lengkap dan kekacauan moral. Sehingga dalam kalimat Williamson (1981), sudah saatnya perusahaan- perusahaan besar dipandang sebagai alternatif untuk pasar, bukan pelaku monopoli tapi ‘instrumen efisiensi’ yang dapat mengkoordinasi aktivitas ekonomi yang diperlukan untuk perubahan struktural dan teknologi secara cepat melalui tangan yang kelihatan dari peru-sahaan yang jauh lebih efektif daripada lewat ‘tangan yang tidak kelihatan’ (invisible hand) dari pasar. Karya sejarawan bisnis yang menekankan nilai penting investasi perusahaan-perusahaan dalam kapabilitas manajerialnya untuk membangun industri yang kompetitif dalam lingkup internasional (terutama Chandler, 1990) dapat digunakan untuk memperluas bidang-bidang ini secara empiris. Munculnya perekonomian-perekonomian yang tumbuh cepat dan efisien di Asia Timur telah memberi warna lain pada analisis ini. Aktivitas pasar yang menyertai perubahan teknik yang cepat dan pertumbuhan dinamis khususnya di Jepang, Korea Selatan dan Taiwan dipandang sebagai hasil manajemen atau pengelolaan suatu negara berkembang (Wade 1990). Hal ini menimbulkan situasi paradoks bahwa perekonomian dengan pasar yang tampak kurang kompetitif justru mempunyai kinerja luar biasa yang menyamai Amerika Serikat yang mengidealkan persaingan bebas. Pada gilirannya, pertanyaan apakah pasar kompetitif sebagaimana biasanya dipahami oleh para ahli ekonomi Anglo Saxon sudah lewat masanya atau masih merupakan cara paling efektif untuk mengamankan pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial menjadi agenda terpenting bagi para ilmuwan sosial.

Incoming search terms:

  • pengertian kondisi pasar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *