Pemikiran politik

Pemikiran politik Barat klasik, akumulasi bangunan teks dan tulisan para filosuf besar, masih membingkai pendidikan intelektual banyak mahasiswa ilmu politik. Karya besar para pemikir utama Barat meliputi teks dari dunia kuno seperti tulisan-tulisan Plato dan Aristoteles, dari zaman pertengahan dan awal zaman modern karya-karya Aquinas, Augustine, Hobbes, Locke, Rousseau, dan Montesquieu, dan akhirnya buku- buku para penulis modern seperti Kant, Hegel, Marx, Tocqueville dan John Stuart Mill.

Tetapi, norma ini telah diserang berulang kali sebagai etnosentris, sebab ia mengabaikan tradisi filsafat negara-negara non-Barat. Ia selanjutnya dikritik sebagai seksis sebab ia merupakan norma para penulis laki-laki yang membuat asumsi- asumsi yang bisa diperlombakan antara laki-laki dan perempuan (Okin 1980; Pateman 1988); ia juga dikutuk karena bias terhadap asumsi-asumsi politik liberal. Akhirnya, norma itu ditolak oleh mereka yang mengklaim bahwa suatu sain yang matang seharusnya melampaui asal-usulnya, dan bahwa oleh karenanya kajian pemikiran politik harus diserahkan kepada para ahli sejarah. Menanggapi itu, para pembela kajian pemikiran politik kadang-kadang mangklaim bahwa pemikiran para pemikir besar acapkali melampaui zaman mereka, dan karena juga geografis, etnis dan asul-usul jenis kelamin mereka. Lebih dari itu, mereka mengklaim bahwa pemikiran politik kuno, pertengahan dan awal modem memiliki tiga bidang garapan yang sama: yang masih merupakan isu- isu yang hidup di kalangan para ilmuwan politik: pertama, menjelaskan sifat negara dan apa yang menjadikan suatu negara dianggap sah dan pantas untuk dipatuhi; kedua, menjelaskan sifat keadilan dan peran atau kalau tidak politik dalam mengamankan keadilan; dan ketiga menjelaskan dan menspekulasikan tentang sifat suatu sistem politik yang baik.

Para penafsir pemikiran politik selalu punya alasan yang berbeda dalam hal memberikan perhatian terus-menerus yang rinci terhadap teks-teks klasik. Sebagian percaya bahwa ilmu- ilmu klasik menyimpan kebenaran yang permanen, kendati mereka berbeda pendapat dengan pengarang-pengarang tertentu dan teks-teks yang berisi hal tersebut. Mereka menganggap adalah tugas para pendidik untuk meneruskan kebenaran- kebenaran ini kepada generasi selanjutnya, dan memandang banyak ilmu politik empiris sebagai pengkhianatan terhadap “tradisi agung”. Kelompok pemikir sejenis, yang dipengaruhi oleh Leo Strauss, bersikukuh bahwa ilmu-ilmu klasik mengandung kebenaran-kebenaran abadi tetapi bahwa semua itu hanya bisa diakses oleh kalangan elite yang berperadaban. Sebaliknya para ahli sejarah pemikiran politik yang lain, meski sependapat bahwa ilmu klasik menyampaikan persoalan-persoalan yang tidak mengenal zaman, ber-ketetapan bahwa norma itu lebih penting untuk pertanyaan-pertanyaan yang dimunculkannya tinimbang untuk jawaban-jawaban yang diberikannya; ia adalah titik-permulaan bukan susunan pelajaran. Misalnya, pertimbangkan pertanyaan abstrak, yang diajukan diangkat dengan berbagai bentuk oleh Hobbes, Locke, dan Rousseau, “Akankan manusia-manusia rasional mengenai sifat negara sependapat untuk mendirikan suatu negara, dan apabila setuju tipe yang bagaimana?’ Pertanyaan ini membantu memperjelas konsepsi sifat manusia yang diasumsikan dalam pemikiran politik serta sifat kewajiban politik, legitimasi politik dan negara. Sebagian yang lain, yang dipengaruhi oleh Quentin Skinner, berpendapat bahwa ilmu klasik, yang sama sekali bukan tak kenal zaman, merupakan teks yang ditujukan kepada orang-orang yang sezaman dengan penulisnya, dan bahwa para penulis itu terlibat dalam argumen-argumen politik tertentu yang relevan dengan zaman mereka sendiri. Bagi mereka tugas pemikiran politik adalah untuk menemukan makna dan konteks yang asli dari wacana klasik, seringkali dengan cara memfokuskan pada para penulis yang terlupakan dan marjinal. Pendekatan kontektualis dan historis dikritik karena memberikan diskotinuitas radikal dalam makna dan aksesabilitas teks, dan karena menyiratkan bahwa kita harus melakukan hal yang mustahil menjadi orang-orang sezaman dengan para pengarang dari teks besar itu guna memahami semuanya. Terlebih lagi, pendekatan ini menjadi korban oleh perbuatan sendiri: para kritikus bertanya:”Kontroversi politik kontemporer apa yang sedang disampaikan oleh para ahli sejarah ketika mereka menawarkan bacaan-bacaan teks yang otoritatif ?”.

Incoming search terms:

  • pengertian pemikiran politik

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian pemikiran politik