Advertisement

PENCIPTAAN

Inggris creation, dari Latin creare (menghasilkan, melahirkan).

Advertisement

Istilah ini dipakai secara filosofis terutama dalam hubungan dengan penciptaan dunia dan manusia. Dalam banyak keyakinan tradisional penciptaan dimengerti sebagai produksi dunia dari suatu keadaan yang sudah ada terlebih dahulu, entah telur kosmis, khaos, atau tubuh yang ilahi. Secara filosofis kita mempunyai pilihan setidaknya empat pandangan:

1. Creatio ex nihilo (penciptaan dari ketiadaan). Ajaran Kristen mengenai penciptaan dari ketiadaan dominan pada abad-aba pertama zaman Kristen. Ajaran itu dilandasi oleh kepercayaa bahwa Sang Logos yang kekal tidak mungkin mempunyai materi yang sama-sama kekal dengannya sebagai pasanganny; Basilides mengantisipasi ajaran ini. Hierocles dari Alexandri memeluk versi pandangan ini. Alternatif ini menekankan secai relatif ketergantungan lebih besar pada Allah daripada alternati alternatf lainnya. Dan malah di dalam alternatif ini, dijumpai derajat ketergantungan. Bagi Thomas Aquinas, Allah menciptakan suatu dunia substansi-substansi, yang dipelihara atau dipertahankan-Nya secara umum. Bagi Descartes, kekuasaan Alia untuk memelihara itu begitu rupa, sehingga dunia tampakny diciptakan baru pada tiap saat; dan tiap keadaan dunia ini S( cara radikal tergantung pada Allah.

2. Penciptaan dunia sebagai emanasi dari Kodrat Ilahi. Pandanga yang dapat ditemukan di kalangan kaum Gnostik dan Nec platonis ini, juga merupakan pandangan dari banyak fllsafi agama Timur, lebih-lebih yang tumbuh dari Hinduisme da Brahmanisme. Dalam pandangan Timur dunia diciptakan bei ulang kali melalui siklus dunia raksasa hanya untuk (pad akhirnya) dileburkan kembali ke dalam Brahman. Motif per ciptaannya, menurut Ramanuja, ialah permainan Brahman.

3. Pandangan bahwa realitas tetap, walaupun mengalami modifikasi tanpa berhenti. Dalam hal ini realitas berada secara kendati aspek-aspek individualnya mungkin mengalan perubahan. Pandangan ini berpengaruh besar pada filsuf-filsuf Barat. Aristoteles menganut pandangan ini; Thomas Aquint sepakat bahwa dari sudut rasio tidak terdapat pandangan lai selain kekekalan dunia yang mungkin, dan kepercayaan aka penciptaan tergantung pada ihwal iman. Bagi Spinoza da banyak lagi lainnya, rasionalitas pandangan tentang suat realitas yang abadi ternyata meyakinkan.

4. Tetapi antinomi pertama dari Kant berkisar pada probler penciptaan. Dia berkesimpulan bahwa akal manusia, bagaiman: pun, tidak dapat memecahkan masalah itu. Saat pertama ms na pun dari waktu menuntut suatu saat sebelum yang pertam tadi untuk menjelaskan saat yang pertama itu. Namun sayang sudah berlalu yang tak ada batasnya yang dibangun dengan cara ini tampaknya tidak konsisten dengan keberadaan kita pada saat sekarang. Alasannya, kita harus melewati banjaran atau deretan yang tak berhingga, yang secara definisi mustahil.

5. Berdyaev menekankan ide kebebasan manusia sebagai penciptaan diri sendiri; dan juga peranan kita sebagai ko-pencipta bersama dengan Allah dalam suatu proses yang berkelanjutan.

6. Boodin memandang penciptaan sebagai suatu proses kekal, yang selalu mengalami evolusi.

Advertisement