Sejarah estetika Barat.

Arti – pengertian aesthetica (estetika) adalah Dalam makna mo­dernnya, estetika sering dipahami sebagai disiplin filsafat, yakni filsafat fenomena estetika (objek, kualitas, pengalaman dan nilai), atau filsafat seni (kreativitas, karya seni, dan persepsinya) atau filsafat kritik seni dalam pengertian luas (metakriti­sisme), atau disiplin yang terkait secara fi­losofis dengan ketiga bidang itu sekaligus. Refleksi estetis telah ada sebelum ha­dirnya istilah itu sendiri. Sejarah estetika Barat biasanya dimulai dengan Plato, yang tulisannya memuat refleksi sistematis ter­hadap seni dan teori spekulatif tentang keindahan. Tetapi, Plato atau muridnya, Aristoteles, tidak membahas dua tema be­sar estetika ini secara bersamaan.

Ilmu tentang kognisi.

Istilah “estetika” diperkenalkan ke bidang filsafat pada pertengahan abad ke­18 oleh filsuf Jerman, Alexander Gottlieb Baumgarten (1714-1762). Baumgarten, murid dari Christian Wolff (1679-1754) yang dipengaruhi Leibniz, menyimpulkan bahwa sistem disiplin filsafat tidak leng­kap dan membutuhkan ilmu yang sejajar dengan logika, yakni ilmu tentang kog­nisi yang jelas dan berbeda yang bisa di­dapat melalui akal. Ilmu baru ini adalah estetika, ilmu tentang kognisi (kesadaran) akan sesuatu yang jelas dan sesuatu yang tidak jelas, yang disadari melalui indra. Pandangan ini pertama kali dikemuka­kan oleh Baumgarten dalam disertasinya, Meditationes philosophicae de nonnullis ad poema pertinentibus (1753) dan dalam buku puisi yang terbit 15 tahun kemudian, Aesthetica. Namun, berbeda dengan makna dari etimologi istilah ini (kata Yunani aisthetica = persepsi), karya filsuf ini tidak berhubun­gan dengan teori kognisi indrawi, tetapi dengan teori tentang puisi (dan secara tak langsung, dengan semua bentuk seni) se­bagai bentuk kognisi indrawi. Objek per­sepsi utama dari kognisi indrawi ini adalah keindahan. Kombinasi dari kedua hal itu­yakni refleksi terhadap seni dan refleksi terhadap keindahan—menjadi dasar bagi perkembangan cabang filsafat yang baru. Arti – pengertian aesthetica (estetika) adalah.

Perkembangan filsafat seni.

Namun kombinasi ini, selain melahirkan pemikiran cemerlang, juga sekaligus men­imbulkan kesulitan teoretis dan metodolo­gis yang tak pernah usai. Jelas ilmu baru itu adalah peristiwa bersejarah, menandai awal periode baru dalam perkembangan filsafat seni, dan terutama karena ilmu ini berbarengan dengan lahirnya karya yang meringkaskan pencarian panjang akan de­nominator umum dari segala bentuk seni. Prestasi ini dicapai oleh ahli teori dari Pe­rancis, Charles Batteux, melalui karyanya yang berjudul Traite des beaux arts redui a un meme principe (1746). Batteux men­gakui bahwa ciri umum dari seni adalah keindahan yang melekat di dalamnya, dan karenanya seni itu bisa disebut sebagai beaux arts. Nama estetika diterima selama bebe­rapa waktu. Immanuel Kant (1724-1804) mengawali kritik terhadap Baumgarten yang dianggapnya kurang konsisten, dan dalam karyanya yang berjudul Critique of Pure Reason (1781 dan 1787) dia meng­gunakan istilah estetika transendental yang berarti ilmu filsafat tentang persepsi indrawi. Akan tetapi, dalam Critique of Pure Reason (1790) dia menggunakan is­tilah estetika untuk mendefinisikan refleksi tentang keindahan dan penilaian selera. Makna tradisional dari estetika menjadi populer pada abad sembilan belas lewat pengaruh Hegel (1770-1883), yang kuliah­kuliahnya tentang filsafat seni (fine art) pada 1820-9 dipublikasikan setelah dia meninggal dengan judul Vorlesungen uber die Asthetik (pada 1835).

Filsafat keindahan. (Arti – pengertian aesthetica (estetika) adalah)

Kant, Schelling dan Hegel adalah filsuf utama pertama yang menjadikan estetika sebagai bagian inheren dalam sistem filsa­fat mereka. Menurut Kant, estetika adalah teori pertama dan utama tentang keindah­an, tentang kehalusan dan penilaian este­tika. Bagi Hegel, estetika terutama adalah filsafat seni. Dua model estetika itu, yakni sebagai filsafat keindahan (dan nilai este­tika) dan filsafat pengalaman estetika, atau sebagai filsafat seni, telah menjadi domi­nan dalam kajian estetika pada abad ke- 19 dan awal abad ke-20. Dua varian itu kehanyakan dipadukan dan hasilnya amat bervariasi.

Estetika dan penciptaan teori estetika.

Tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, gagasan estetika sebagai filsafat seni tampaknya menjadi lebih populer. Pada abad ke-19 ada usaha pertama untuk melampaui filsafat dalam rangka meng­kaji estetika dan untuk menciptakan ilmu estetika tersendiri. Dalam Vorschule der Aesthetik yang terbit tahun 1876, filsuf Jerman Gustav Theodor Fechner berusaha membuat bidang estetika eksperimental berdasarkan psikologi. Abad ke-20 men­jadi saksi dari munculnya upaya untuk menciptakan kajian estetika psikologis oleh tokoh dari psikologi gestalt (Rudolf Arnheim dan Leonard Meyer) dan tokoh psikologi mendalam (Ernst Kris dan Si­mon Lesser). Perkembangan lainnya meli­batkan estetika matematika (George Birk­hoff dan Max Bense), estetika informatik (Abraham Moles), estetika semiotik dan semiologis (Charles Morris, Umberto Eco, Yuri Lotman), dan estetika sosiologis (J.M. Guyau, P. Francastel, Pierre Bourdieu, Ja­net Wolff). Dalam domain filsafat, proyek penciptaan ilmu estetika ilmiah dilakukan oleh Etienne Souriau dan Thomas Munro. Akan tetapi, estetika tidak berhenti hanya sebagai cabang dari filsafat. Sejak pergantian abad, muncul ban­yak perhatian pada kesulitan metodologis dalam estetika, yang mulai menimbulkan keraguan dan argumen menentang status ilmiah dari estetika dan penciptaan teori estetika. Yang secara khusus relevan di sini adalah gagasan Max Dessoir (1906) dan Emil Utitz (1914-20) yang masih po­puler. Kedua pemikir ini memperkenalkan perbedaan antara estetika dengan ilmu seni umum dan menegaskan bahwa kedua bidang itu saling bersinggungan tetapi ti­dak tumpang tindih (overlap): fungsi seni tidak bisa direduksi menjadi fungsi este­tika saja, sedangkan nilai estetika dapat ditemukan dalarn ohjek yang tidak selalu berupa karya seni, seperti fenomena alam dan produk manusia yang memiliki nilai
artistik. Mereka juga mengklaim baliwa ilmu seni secara metodologi berhe­da dengan estetika dan harus dikembang­kan sebagai cabang yang lepas dari filsa­fat. Estetika juga seharusnya keluar dari batas-batas filsafat dan lebih banyak me­manfaatkan gagasan yang dihasilkan oleh ilmu lain, terutama psikologi dan sosiologi.

Kelompok populer dan teoretis. Arti – pengertian aesthetica (estetika) adalah

Ahli estetika pertama yang bukan ha­nya mensistematisasikan keberatan terha­dap estetika tetapi juga berusaha mengata­si keberatan itu adalah Edward Bullough, lewat kuliah-kuliahnya pada 1907 tentang “modern conception of aesthetics” (dalam Bullough, 1957). Dia membagi keberatan terhadap estetika itu menjadi dua kelom­pok: kelompok populer dan teoretis, dan keduanya dapat direduksi menjadi per­nyataan herikut ini:

  1. Usaha apa pun untuk membuat teori fenomena yang spesifik, relatif, subjek­tif dan mudah berubah sebagai sebuah efek estetika dan efek kesenangan dan ketidaksenangan yang berkaitan deng­an fenomena itu adalah usaha yang sia-sia.
  2. Definisi keindahan dan fenomena este­tika lainnya adalah terlampaui abstrak dan umum dan karenanya tidak ber­guna dan secara praktis tidak perlu. Definisi itu tidak membantu siapa pun untuk menikmati keindahan dan seni.
  3. Baik itu seniman maupun penikmat seni merasa gelisah dan jengkel oleh fakta bahwa aturan-aturan kreasi dan resepsi didefinisikan dan dikenakan pada seni.man dan publik, dan bahkan disajikan dengan gaya yang sok ke­ilmuan yang absurd dan angkuh.

Estetika filosofis tradisional. (Arti – pengertian aesthetica (estetika) adalah)

Karya Bullough adalah kajian pertama yang meringkas kesulitan metodologi in­ternal dari estetika, dan keberatan yang datang dari luar dunia akademi, meski tidak selalu dapat dijustifikasi, adalah ke­beratan yang hukannya tanpa alasan. Menurut Stefan Morwaski (1987), karya Bullough mengawali periode ketiga dalam sejarah estetika, periode kritik-diri atas status riset, dan periode perkembang­an refleksi-diri metodologisnya. Proses ini mencapai puncaknya pada 1954 dengan publikasi antologi Elton yang terkenal, Aesthetics and Language, dan juga paper M. Weitz yang berjudul “The role of the­ory in aesthetics”(1956) dan paper W. E. Kennick, “Does traditional aesthetics rest on a mistake?” (1958), yang meneruskan dan mengembangkan ide-ide yang dikemu­kakan oleh Elton. Ketiga karya ini diilhami oleh gagasan Wittgenstein dalam karyan­ya, Philosophical Investigations (1953), dan mereka mengkritik estetika filosofis tradisional secara tajam dan menyeluruh dengan menudingnya sebagai kajian yang kurang presisi bahasanya, konsepnya ka­bur, dan adanya kesalahan asumsi teoretis dan metodologis yang tampak mencolok dalam usaha membuat teori filsafat seni. Asumsi yang keliru menyebabkan kegagal­an teori seni yang lahir dari asumsi itu.

Filed under : Bikers Pintar,