Relevansi prognostik.

Arti – pengertian konsekuensi tindakan adalah Konklusi atau hasil dari inferensi praktis adalah sebuah tindakan. Dari perspektif pengamat, pilihan atas cara-cara yang tersedia untuk mencapai tujuan meru­pakan alasan yang menjelaskan tindakan itu. Penjelasan tersebut juga mengandung relevansi prognostik, sebab konteks insti­tusional dan normatif memastikan bahwa niat dan keyakinan itu tetap stabil dan direproduksi secara reguler (cf. Wright, 1971). Tetapi karena kita tidak mungkin mengabaikan kemungkinan bahwa aktor mengubah niatnya, atau lupa cara terbaik untuk melakukan sesuatu, atau secara tak terduga menemukan cara lain untuk me­mecahkan masalah, maka hubungan anta­ra niat dan keyakinan dengan perilaku di masa depan adalah hubungan sementara (contingent).

Konsekuensi dari niat dan keyakinan. (Arti – pengertian konsekuensi tindakan adalah)

Namun, kita hanya dapat mengidentifikasi perilaku tertentu seba­gai sebuah tindakan spesifik apabila kita berhasil dalam menginterpretasikannya, sesuai perspektif dari pelakunya, sebagai konsekuensi dari niat dan keyakinan yang dapat dipahami secara rasional. “Meng­interpretasikan perilaku sebagai tindakan yang diniatkan berarti memahaminya dari sudut pandang yang memiliki niat itu” (Wellmer, 1979, h. 13).

Hubungan logis-pragmatis.

Perspektif pelaku, dan hanya perspek­tif itu, mengungkapkan hubungan logika­semantik yang sama antara niat dan tin­dakan. Bagi aktor pelaku, konklusi praktis berarti kewajiban untuk melakukan tin­dakan di masa datang. Tidak ada jaminan empiris bahwa seseorang yang berjanji untuk datang tepat waktu akan menepati janjinya itu, tetapi seseorang yang sudah memberikan janji itu harus meminta maaf jika ia tak datang tepat pada waktunya. Dalam keadaan normal, seseorang yang telah berjanji datang tepat waktu diperki­rakan sangat mungkin akan tiba tepat waktu karena ada banyak bukti janji yang ditepati; perkiraan ini lebih didasarkan pada fakta bahwa kita biasanya dapat sa­ling percaya. Pihak lain inungkin akan tiba tepat waktu karena kesepakatan janji itu punya alasan yang valid yang bersifat tim­bal balik (reciprocal) (cf. Apel, 1979). Ini bukan hubungan empiris dan sementara antara niat dan aktivitas tetapi merupakan hubungan logis-pragmatis. Kita menge­tahui keseriusan suatu niat berdasarkan konsekuensi dari niat itu; kita menyebut orang yang tidak melaksanakan apa-apa yang dikatakannya, atau yang ingin di­lakukannya padahal dia dapat dilakukan­nya, sebagai orang yang munafik atau tak konsisten (inconsistent).

Kontradiktif tanpa didasari niat. (Arti – pengertian konsekuensi tindakan adalah)

Ini sama dengan kasus seseorang yang menegaskan bahwa salju semuanya putih dan semuanya hi­tam. Kita bisa menduga niat yang lemah adalah penyebab dari tindakan yang tak konsisten, dan kita mungkin juga menyim­pulkan bahwa seseorang yang mengatakan sesuatu yang kontradiktif tanpa didasari niat (unintentionally) adalah orang yang punya kelemahan di otaknya. Sebagaima­na halnya dengan pernyataan yang jelas­jelas bertentangan, tindakan yang jelas tak konsisten juga punya “sesuatu yang pada dasarnya irasional” di balik tindakan itu, tetapi sang pelaku sulit untuk mengakuinya dalam tindakannya.

Filed under : Bikers Pintar,