Memahami tindakan kita sendiri.

Arti – pengertian tipe tindakan adalah Gangguan tindakan akibat inkonsistensi masif yang membuat kita tidak bisa memahami tindakan kita sendiri (“Saya tak tahu bagaimana saya bisa melakukannya”) membawa kita berhadapan dengan hubungan internal antara tindakan dengan pemahaman diri (self-understanding).

Penyebab penipuan diri. ( Arti – pengertian tipe tindakan adalah)

Max Weher dan Sigmund Freud menarik kesimpulan yang berbeda dari hubungan ini. Freud lebih tertarik pada penyebab penipuan diri (self-deception) secara tidak sadar, sedang Weber mendasarkan sosiologinya pada IDEAL TYPE dari tindakan yang diorientasikan secara bermakna (meaningfully) yang didapat dipahami oleh pelaku; tipologi tindakannya yang terkenal itu didasarkan pada hubungan swa-bukti (selfevidence) ini.

Tipe ideal dari tindakan rasional.

Tindakan sosial (social action) adalah “perilaku yang secara sadar diarahkan pada perilaku orang lain” (Weber, 1921- 2). Salah satu hal yang membatasi tindakan sosial adalah pelaksanaan tindakan tradisional yang sepenuhnya self-evident, konvensional dan habitual, dan hampir bersifat mekanis yang didasarkan pada “kebiasaan yang dinternalisasikan.” “Tin-dakan kebiasaan sehari-hari” ini, yang diam-diam diadaptasikan pada latar belakang normatif dari kehidupan dunia (life-world), memunculkan reaksi afektual atau emosional ketika latar belakang sehari-hari yang secara konvensional bermakna (meaningfully) itu tiba-tiba hilang dan inembuat aktor pelaku berhadapan dengan keadaan, problem dan konflik yang asing dan berbeda. Ini adalah batasan lain dari tindakan sosial. Berbicara tentang tindakan yang dipengaruhi oleh “sikap dan emosi saat ini” juga berarti hahwa, bahkan dalam reaksi bebas terhadap stimulus yang berbeda, pelaku tetap punya pilihan apakah akan memberikan reaksi atau tidak, dalam rangka menekan kemarahannya. Tetapi, Weber masih menganut deskripsi-rationally intelligible” untuk tindakan sosial yang sepenuhnya sadar dan hanya didasarkan pada alasan yang dianggap valid dan konklusif oleh aktor; ini berhubungan dengan tipe ideal dari tindakan rasional yang bertujuan (purposive-rational) dan tindakan rasional yang memiliki nilai (value-rational). Melalui perbedaan ini, Weber, melalui NEO-KANTIANISME, menengok kembali pada teori tindakan Aristotelian. Tindakan value-rational mengikuti apa yang disehut Hegel sebagai “conclusion of the good” dan jenis tindakan ini mengidentifikasi cara dan tujuan dalam “nilai unconditioned dari perilaku tertentu.” Sedangkan, tindakan purposive rational lebih mengutamakan efektivitas dari cara untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam konsep Weber, hanya tipe tindakan inilah yang sepenuhnya dapat dirasionalisasikan; karena itu tipe ini adalah tipe ideal dari perilaku yang diarahkan secara bermakna yang mengekspresikan “konklusi tindakan” menurut Hegel. Hanya di sinilah seseorang dapat mengatakan bahwa “jika seseorang benar-benar bertindak berdasarkan tindakan purposive rational, maka mereka hanya bisa melakukannya dengan cara ini, tidak dengan cara lainnya”.

Konsekuensi dari inferensi rasional.

Menurut Weber, pemahaman rasional (lihat VERSTEHEN) terhadap tindakan berasal dari asumsi rasionalitas universal dan kontrafaktual (counterfactual) ini. Hal ini memungkinkan kita untuk menjelaskan tindakan aktual sebagai sebentuk deviasi (penyimpangan) dari standar ideal. Minat Freud untuk menerangkan tindakan irasional, oleh karenanya, melengkapi minat Weber untuk memahami rasionalitas dari tindakan yang konsisten. Dalam dunia yang dibentuk oleh penalaran (reasoning) kausal, tindakan rasional dari jenis ini hanya dimungkinkan ketika alasan aktor untuk inelakukan tindakan tertentu adalah alasan yang secara kausal efektif sebagai niat, yang melahirkan tindakan (cf. Davidson, 1980). jika sebuah tindakan riil hendak dipahami sebagai konsekuensi dari inferensi rasional (misalnya, argumentasi rasional), maka alasan tindakan itu harus punya sebab kausal, yakni motivasi rasional, yang melahirkan tindakan tersebut. Kekuatan kausal yang menjadi dasar dari niat/kehendak, yakni yang mengubah alasan menjadi niat, dan kemudian melahirkan tindakan kita, tentu saja merupakan kausalitas tanpa hukum kausal (sebab-akibat), seperti ditunjukan oleh Davidson (1980) dan Apel (1979, h. 189) dalam kritik mereka terhadap C.G. Hempel. Apa yang oleh Kant disebut “kausalitas kebebasan,” di mana kehendak atau niat yang melahirkan tindakan merupakan justifikasi yang valid dari tindakan itu, tidak berhubungan dengan hukum kasual, tetapi dengan prinsip normatif-universal dari rasionalitas (Apel, 1979). Kasus penipuan diri secara tak sadar yang dikaji Freud adalah salah satu kasus di mana tindakan atau ucapan terjadi tanpa dijustifikasi oleh penyebab tindakan tersebut (cf. LOw-Beer, 1990). Dalam kasus ini, tindakan atau ucapan itu tidak berasal dari motivasi yang rasional, tidak berdasar pada urutan simbol yang valid, tetapi hanya berdasar “simbol yang secara empiris terpisah-pisah” (cf. Habermas, 1968, p. 246 dst.; 1981, h. 8 dst). Tetapi karena penjelasan berdasarkan motif yang secara empiris efektif, hanya merupakan dugaan kemungkinan penyebab munculnya tindakan rasional, maka Freud dapat mengombinasikan metodologinya dengan kajian terapinya dan kritiknya terhadap tindakan yang dilakukan tanpa alasan yang rasional.

Kriteria ideal dari komunikasi.

Kajian tersebut tentu saja tidak sesuai dengan kriteria rasionalitas purposif ideal menurut Weber. Tindakan irasional yang dikaji Freud adalah tindakan yang disebabkan oleh kekuatan tersembunyi dari komunikasi yang terdistorsi dan terintegrasi secara kompulsif. Penjelasan tindakan rasional sebagai sebuah tindakan yang tidak dapat dipahami oleh pelakunya masih belum cukup dijadikan dasar untuk mempostulatkan tipe ideal dari tindakan purposive-rational dan belum cukup memadai untuk mengukur divergensinya. Yang mesti dikemukakan adalah kriteria ideal dari komunikasi yang tak terdistorsi (cf. Habermas, 1968; Apel, 1979). Halhal yang tidak dipahami oleh aktor yang membutuhkan bantuan ahli terapi adalah problem rusaknya sistem nalar yang kelihatannya dapat diterima oleh komunitas yang terdiri dari subjek-subjek yang otonom. Motif yang melahirkan tindakan dan ucapan yang tidak rasional dari orang yang menderita gangguan saraf (neurotic) adalah penyebab yang tidak dapat disebut sebagai alasan nalar (reason) sebab komunitas komunikasi bebas tidak akan menerima motif itu sebagai sebuah alasan.

Perspektif ego dan alter. (Arti – pengertian tipe tindakan adalah)

Teori tindakan Weber tampaknya memiliki kekurangan dalam aspek lain. Teori ini sejak awal menyepelekan kompleksitas double-contingency (cf. Parsons dan Shils, 1951, h. 14 dst.) dalam perspektif ego dan alter yang diorientasikan secara bermakna, dan mengabaikan kompleksitas dalam setiap orientasi yang bermakna. Tindakan yang dipandu secara bermakna adalah mustahil terjadi karena adanya multiplisitas kemungkinan alternatif yang tak terbatas dan tak bisa dimengerti, apalagi tindakan sosial yang diketahui semua orang dan dapat dilakukan atau tidak dilakukan oleh semua orang adalah hal yang juga mustahil ada. Tanpa mekanisme reduksi kompleksitas yang dahsyat dari tindakan yang diorientasikan secara bermakna ini, yakni mekanisme yang berfungsi secara independen dari kehendak dan kesadaian subjek, maka mustahil akan terwujud sebuah ketertiban sosial (cf. Luhmann, 1970-90, vol. 2, h. 204 dst.; 1981, h. 195 dst.). Pertanyaannya lalu adalah apakah ketertiban sosial dapat diwujudkan tanpa formasi kehendak kolektif dan apakah tindakan dapat dipisahkan dari gagasan tentang agency yang diproduksi oleh subjek itu sendiri melalui alasan yang dapat diterima.

Filed under : Bikers Pintar,