Advertisement

ARTI PENILAIAN OBAT – Dilakukan untuk memantau obat dari berbagai segi. Dilihat dari sasarannya, obat dapat dibagi dalam dua kelompok besar: kemoterapeutika yang bertujuan memerangi, membunuh atau menghambat pertumbuhan organisme yang menyerang tubuh manusia atau hewan (kadang juga tanaman); dan obat armakodinamik untuk memperbaiki respons faali dan biokimiawi tubuh atau bagian tubuh. Kemoterapeutika terdiri antara lain atas antibiotika, obat-obat sulfa, obat malaria, obat antivirus, obat tuberkulosis, obat cacing dan parasit lain. Kelompok obat farmakodinamik terdiri antara lain atas obat untuk sistem saraf pusat, sistem peredaran darah dan cairan tubuh lain, sistem ekskresi, sistem pencernaan (lambung dan usus), dan sistem endokrin. Ada juga pendapat yang tidak membedakan tujuan obat melainkan asal-usul obat. Kemoterapeutika adalah hasil sintesis kimia, fitoterapeutika berasal dari tumbuhan, dan antibiotika diekstrak dari mikroorganisme. Di mata awam, vitamin, mineral, dan berbagai suplemen makanan juga digolongkan sebagai obat, dan memang kelompok ini pun diawasi oleh Pemerintah seperti obat dan makanan. Dilihat dari asal-usul zat aktifnya, ada obat hasil alam, obat sintetik, dan obat semi-sintetik. Obat hasil alam dapat berasal dari tumbuhan, hewan, bahan galian, atau dari mikroorganisme (umumnya antibiotika). Obat hasil alam yang memerlukan modifikasi yang cukup penting disebut obat semisintetik.

Obat baru ditemukan atas dasar coba-coba (terutama pada antibiotika), kebetulan ditemukan, atau sengaja disintesis struktur-struktur tertentu untuk kemudian dicoba. Banyak obat yang dasarnya merupakan gabungan dasar-dasar itu. Mula-mula secara kebetulan ditemukan suatu senyawa kimia yang ternyata berkhasiat obat. Kemudian orang mensintesis berbagai senyawa dengan struktur yang mirip untuk mencari

Advertisement

struktur yang paling baik. Faktor yang diperhatikan: khasiat, toksisitas, kestabilan, kemudahan membuat J (ini menyangkut harga), kelarutan atau lebih tepat ketersediaan hayati (bioavailabilitas, mudahnya diserap lewat saluran pencernaan), dan faktor-faktor lain. : Mula-mula orang bekerja secara laboratorium saja, 1 baik kimia maupun mikrobiologi. Pada akhirnya, untuk mencari satu obat tertentu dapat dipilih ratusan j calon obat, kadang menpapai 2000. Setelah itu dimulai uji coba pada hewan percobaan. Pada akhir percobaan sebagian besar calon telah gugur, tinggal beberapa pemenang. Maka dimulai percobaan dengan manusia secara terbatas. Biasanya perusahaan itu sekaligus mulai mendaftarkan senyawa-senyawa itu baik kepada Departemen Kesehatan Negara itu maupun Kantor Paten. Percobaan dengan manusia secara terbatas biasanya menggunakan personel laboratorium atau perusahaan itu. Percobaan dengan manusia secara lebih luas dilakukan dengan menggunakan sukarelawan. Mereka diberitahu dengan jelas semua hal mengenai uji coba itu. Karena yang dicoba terutama khasiat, maka manusia yang dijadikan percobaan kebanyakan adalah pasien. Akhirnya senyawa kimia itu diizinkan untuk diformulasi menjadi obat dan diedarkan. Izin ini disertai berbagai persyaratan, antara lain mengenai dosis, tanggal kedaluwarsa, indikasi, dan kontraindikasi.

Pabrik obat, atau tepatnya pabrik perakitan obat, menggunakan senyawa kimia tersebut sebagai zat aktif untuk merakit (memformulasi) obat. Ada berbagai bentuk formulasi dalam menghantar zat aktif itu ke dalam tubuh penderita atau ke jaringan tubuh yang sakit: obat yang dimakan (tablet, kapsul, sirup, obat tetes), obat yang disuntikkan (ke dalam pembuluh nadi, pembuluh balik, ke jaringan otot, ke bawah kulit, dll.), obat luar (dioleskan pada kulit, dll.), dan cara-cara lain (misalnya diserap lewat kulit, pada dubur, dll.). Terutama untuk obat yang dimakan, pabrik perakitan obat melakukan uji farmakokinetik, untuk mengetahui nasib obat jadi itu setelah dimakan atau memasuki tubuh. Satu tolok ukur yang penting adalah ketersediaan hayati yang mencerminkan banyaknya zat aktif yang terserap, laju penyerapan, laju metabolisme senyawa itu, dan laju ekskresi. Di sini tidak perlu digunakan pasien, tetapi dapat digunakan sukarelawan yang sehat. Pabrik perakitan obat juga harus menyusun cara analisis obat jadi yang baru saja diformulasikan, tanggal kedaluwarsa obat jadi, dan prosedur pengujian obat yang kedaluwarsa.,

Setelah, obat jadi itu diproduksi besar-besaran, dan; dijual ke luar, tahap penilaian obat telah selesai, dan “beralih ke masalah pengawasan obat. Meskipun demikian uji-uji farmakodinamik, farmakokinetik, toksisitas, dll. secara berkala masih dilakukan. Obat ditarik dari peredaran apabila telah ditemukan obat lain yang lebih baik, atau ditemukan efek samping yang serius. Efek samping ini sering baru ditemukan setelah lebih banyak orang memakan obat itu. Sampai obat itu ditarik dari pasar dengan tuntas, menjadi kewajiban pabrik perakitan obat jadi untuk memantau ikhwal produknya, baik yang beredar di luar maupun yang berada dalam gudang arsipnya.

Incoming search terms:

  • Penilaian obat
  • cara penilaian obat
  • penilaian obat secara kimia
  • apa itu penilai obat jadi
  • arti kata penilaian obat
  • pengertian penilaian obat
  • langkah penilaian obat
  • langkah langakh penilaian obat
  • definisi penilaian obat
  • cara penilain obat

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • Penilaian obat
  • cara penilaian obat
  • penilaian obat secara kimia
  • apa itu penilai obat jadi
  • arti kata penilaian obat
  • pengertian penilaian obat
  • langkah penilaian obat
  • langkah langakh penilaian obat
  • definisi penilaian obat
  • cara penilain obat