Positivisme dan peninggalannya

Para penganut metodologi empiris selalu mendapat tentangan dari penganut apriorisme, namun kemenangan fisika Newton atas Descartes dipandang sebagai kemenangan empirisisme atas apriorisme. Sejak saat itu, meskipun Kant berani mengupayakan rekonsiliasi, metodologi kaum apriorisme tumbuh semakin menjauh dari ilmu pengetahuan. Keadaan ini membuat kajian humaniora dan kajian sosial sebagai bidang yang terus berselisih. Simmel (1950), Durkheim (1938(1895)) dan Weber (1949) menulis karya klasik mereka tentang filsafat ilmu-ilmu sosial ketika kecen-derungan anti ilmu pengetahuan dalam filsafat akademik di Jerman mengalami masa jaya. Sejarah yang ditulis berdasarkan aliran Hegelian adalah model bagi kemanusiaan dan apriorisme aliran ini dikenal sebagai hermeneutics. Baik empirisisme maupun apriorisme diketengahkan dalam tulisan- tulisan klasik tersebut.

Pasang surut empirisisme militan pada abad 20 ini ditandai dengan gerakan positivisme logis yang dimulai tahun 1920-an. Keadaan ini mengaitkan semua ilmu kognisi pada ilmu pengetahuan, di mana keberhasilannya terkait dengan digunakannya metode empiris.Teori-teori yang secara empiris tidak bisa diuji kebenarannya dinyatakan sebagai tidak ilmiah (non-scientific) dan tidak lebih sebagai metafisik. Garis batas yang ditarik positivisme adalah: dapatkah ilmu sosial berlangsung dengan menghasilkan teori-teori yang dapat diuji kebenarannya? Jika jawabannya ya, maka keutuhan dan identitas ilmu pengetahuan dan kognisi dapat ditegakkan. Dalam menghadapi tantangan ini para penganut apriorisme memerlukan waktu untuk melakukan pengelompokan ulang. Sebagian dari mereka kembali pada dasar- dasar Marxisme yang kurang menjanjikan (Frank-furt School), di mana mereka mencoba melakukan Hegelianisasi dan apriorisasi (Frisby 1976).

Minat utama penganut positivisme logis tertuju pada ilmu alam, tetapi kegemaran mereka mencampuradukkan logika, ilmu ekonomi, statistik, Marx (simak lagi bagaimana ia mencampur baur semua isu ini), psikoanalisis dan linguistik berusaha memastikan agar dilakukan berbagai upaya untuk mengamankan tempat kaum positives dalam satu kesatuan ilmu pengetahuan yang utuh.

Selama positivisme logis berkembang dalam kerangka filsafat (kembali ke awal tahun 1960-an), terjadi perdebatan serius mengenai sejauh mana metode empiris dapat digunakan dalam apa yang kini secara tidak sadar disebut “ilmu sosial”. Batasan metode matematika, kualitatif dan kesederhanaan terus digali, begitu juga dengan pertanyaan apakah fakta dapat dipisahkan dari nilai. Jika fenomena sosial mempertahankan pengukuran dan kuantifikasi, dan jika keduanya diserap oleh nilai-nilai, maka berarti dasar uji empiris ilmu sosial telah dirusak. Selain karya-karya klasik, berbagai teks yang dihasilkan pada masa ini merupakan inti dari sebagian besar telaah filsafat ilmu sosial.

Sementara itu, kelompok baru para penentang positivisme logis menghadapi masalah yang sama. Mereka menilai batasan empirisisme jauh lebih ketat, dan masalah nilai jauh lebih pervasif daripada yang dimiliki positivis logis. Namun telah dinyatakan bahwa batasan empirisisme adalah batasan ilmu alam. Sedangkan nilai-nilai bagaikan puncak gunung es. Pada saat berbagai aktivitas yang sadar, bermakna dan reflektif dari umat manusia dipelajari, maka susunan unsur yang sama sekali berbeda mesti dilibatkan, dengan demikian membutuhkan suatu pendekatan yang benar-benar baru. Pendekatan tersebut melibatkan imajinasi sejarah (Verstehen) yang membutuhkan penelitian teks (hermeneutics) dan metode fenomenologis (Dallmayr dan McCarthy 1977; Natanson 1963; Schutz 1962). Kajian tekstual yang telah berkembang sejak pertengahan tahun 1980-an (Clifford dan Marcus 1986), seringkali bercampur dengan penafsiran ulang sejarah (Geertz 1988).

Di balik perdebatan tentang metode terdapat tujuan lain. Persoalan sosial berbeda dengan persoalan alam sehingga tidak sepantasnya menjelaskan dan memprediki persoalan-persoalan tersebut. Para pengikut Wittgenstein bahkan melangkah lebih jauh daripada aprioris kontinental, dan menggunakan karya lanjutan positivis logis untuk mengembangkan argumentasi transendental dalam menghadapi kelaikan (possibility) ilmu sosial. Winch (1958) dan Louch (1966), meski berbeda pendapat, sepakat tentang gagasan bahwa yang membuat masalah sosial menjadi sosial adalah segala aktivitas pemberi makna manusia yang membuktikan diri mereka berada dalam aturan perilaku. Contohnya adalah bahasa. Bahasa bukanlah suara acak tapi memiliki pola yang masuk akal. Jelas bahwa aturan tersebut bukan bagian dari alam tapi merupakan aktivitas yang menggariskan sekaligus membentuk kehidupan manusia. Dengan demikian, kita tidak bisa menjelaskan perilaku manusia dengan cara kita menjelaskan hubungan sebab akibat mekanis dalam ilmu pengetahuan, tapi hanya dengan menguasai inti aturan-aturan tersebut yang digunakan dengan derajat kebebasan tertentu. Manusia melakukan tindakan-tindakan sosial berdasarkan alasan-alasan tertentu, bukan untuk mematuhi hukum semata. Berbagai teks tentang Winch dan tentang apakah alasan merupakan sebab dapat ditelusuri di The Philosopher’s Index.