Advertisement

positivism (positivisme)

Meski dalil-dalil mengenai positivisme logis tak diterima oleh sebagian besar ilmuwan sosial yang aktif, tetap saja ada suatu kesadaran diri yang tak berbentuk dan implisit, suatu persepsi diri yang meresap dalam praktik ilmu sosial kontemporer, yang bisa disebut “persuasi positivis”. Dalil-dalil utama persuasi ini mengikuti:

Pertama, pemisahan radikal yang muncul antara observasi empiris dan statemen non-empiris. Ini memang tampak seperti pendirian yang sederhana dan biasa, tapi inilah sesungguhnya prinsip fundamental yang secara intelektual penting dan punya konsekuensi-konsekuensi besar.

Kedua, karena asumsi pemisahan antara observasi empirik dan statemen non empirik ini diyakini secara luas bahwa masalah-masalah intelektual yang lebih umum filosofis maupun metafisis tidak signifikan secara fundamental karena praktik sebuah disiplin yang berorientasi empirik.

Ketiga, sebagaimana eliminasi referensi non-empirik (murni intelektual) dianggap sebagai ciri menonjol ilmu-ilmu alam, maka diyakini bahwa setiap studi objektif mengenai masyarakat harus mengasumsikan suatu kesadaran diri keilmiahan ilmu alam.

Yang terakhir, masalah-masalah teoretis atau yang bersifat umum hanya bisa ditangani dengan mengaitkannya pada observasi-observasi empirik. Ada tiga akibat wajar yang penting dari poin keempat ini. Pertama, mengacu pada formulasi teori ilmiah, persuasi positivis menggariskan bahwa pembentukan teori harus merupakan salah satu dari konstruksi melalui generalisasi dan konstruksi yang memuat induksi-induksi dari observasi. Kedua, mengacu pada masalah konflik teoretis, persuasi positivis menggariskan bahwa pengujian empirik dalam setiap kasus harus menjadi wasit penentu antara berbagai perselisihan teoretis. Eksperimen kausallah, bukan perselisihan konseptual, yang lebih menentukan hasil kompetisi antar teori. Ketiga, jika formulasi teori dan konflik antar mereka bisa sepenuhnya direduksi menjadi materi empirik, maka tidak akan ada basis jangka panjang untuk bentuk-bentuk terstruktur dari perselisihan keilmiahan. Perkembangan sosial-keilmiahan dipandang sebagai perkembangan yang pada dasarnya progresif, yakni perkembangan linear dan kumulatif, dan segmentasi atau diferensiasi internal dari sudut bidang keilmuan lebih dipandang sebagai produk spesialisasi ketimbang hasil dari perselisihan yang digeneralisasi. Dengan kata lain, ia lebih dipandang sebagai hasil pemfokusan pada berbagai aspek realitas empirik, ketimbang upaya menjelaskan elemen yang sama dari realitas empirik dengan cara yang berbeda-beda.

Keyakinan-keyakinan tentang ilmu sosial ini punya dampak yang luas di manapun keyakinan itu punya dampak yang meyakinkan pada imajinasi sosial keilmiahan, baik denga cara empirik maupun teoretis.

Karena terlalu menekankan dimensi observasi dan verfikasi praktik politik, daya dorong positivis ini mepersempit secara tajam ruang analisis empirik. Ketakutan pada spekulasi menteknikalisasi ilmu sosial, mendorongnya kepada presisi semu dan studi-studi korelasional yang remeh temeh. Peranjakan dari generalitas ini hanya semakin jauh menjelmakan atomisasi tak terelakkan atas pengetahuan ilmiah sosial.

Daya dorong positivis ini juga mengakibatkan surplus energi yang dikerahkan pada inovasi metodologis, bukan konseptual, karena tantangan ilmiah kini semakin dipahami sebagai pencapaian bentuk-bentuk yang lebih murni dari ekspresi observasional.

Yang terakhir, tapi ini mungkin paling berarti, persuasi positivis juga melumpuhkan praktik sosiologi teoretis. Secara tajam ia mereduksi kuantitas diskusi yang secara langsung ditujukan pada elemen-elemen yang tergeneralisasi dari pemikiran sosial-keilmiahan. Namun, ia juga secara gamblang mengurangi kualitasnya. Ini terjadi karena di bawah rubrik persuasi positivis, jauh lebih sulit bagi analisis teoretis untuk mencapai pemahaman diri yang memadai. Persuasi positivis telah mematikan keberanian dalam sosiologi teoretis.

Seperti apa posisi alternatifnya? Jelas, bahkan dalam ilmu sosial Amerika sejak 1950-an, sudah ada sejumlah alternatif yang diajukan. Yang umumnya dimunculkan adalah suatu bentuk pendekatan humanistik berhadapan dengan pendekatan ilmiah pada studi empirik: ada geografi, sosiologi, ilmu politik, psikologi humanistik, dan bahkan pendekatan naratif humanistik berhadapan dengan pendekatan analitis dalam sejarah. Alternatif-alternatif humanistik ini memiliki kesamaan dalam hal sikap anti ilmiah, suatu sikap yang dipegang untuk mengimplikasikan hal-hal berikut: lebih memfokuskan pada orang daripada kekuatan eksternal; lebih menekankan emosi dan moralitas ketimbang kalkulasi instrumental metode lebih interpretatif daripada kuantitatif komitmen ideologis pada suatu masyarakat moral yang memerangi bahaya teknologi dari ilmu-ilmu positivis. Dalam tradisi Eropa, dikotomi yang tajam ini diformulasikan oleh Dilthey sebagai pembedaan antara Geisteswissenschaft dan Naturwissenschaft, antara hermeneutika dan ilmu pengetahuan. Dalam bentuknya yang paling radikal, posisi hermeneutik menyatakan bahwa topik subjektif khusus dari “studi manusia” tidak memungkinkan generalisasi dalam bentuk yang lebih moderat, dinyatakan bahwa sekalipun generalisasi tertentu dimungkinkan, usaha kita hanya dimaksudkan untuk memahami, bukan menjelaskan, sehingga analisis kausal adalah monopoli ilmu alam.

Pembedaan antara ilmu sosial dan alam ini, yang merupakan jantung posisi humanis semacam itu, adalah pembedaan yang menyaktikan. Alternatif demikian terhadap persuasi positivis adalah terlalu takut, terlalu mengecilkan diri di hadapan kekuatan “ilmu-ilmu besar”. Ini juga mengimplikasikan koneksi yang terlalu kaku antara epistemologi, metode dan ideologi. Yang terakhir, dan ini poin yang penting, ini kesalah-an yang gamblang.

 

 

Alternatif humanistik atau hermeneutik terhadap positivisme lemah karena salah memahami ilmu alam. Filsafat, sejarah dan sosiologi yang pos-empirik sejak pertengahan 1960-an sudah menunjukkan secara meyakinkan bahwa persuasi positivis memang tak bisa dibantah lagi sangat salah, bukan cuma dalam hal kegunaan pedoman ilmu alam untuk ilmu sosial, tapi juga dalam hal ilmu alam itu sendiri. Dari rentang diskusi luas ini, ada poin-poin dasar yang sebagian besar partisipan gerakan ini menyepakatinya. Inilah dalil-dalil fundamental dari persuasi positivis dan semuanya menunjuk pada rehabilitasi teori itu.

Pertama, data ilmiah secara teoretis adalah terpercaya. Pembedaan fakta/teori tidaklah konkret, tidak nyata, tapi analitis. Sebutan observasional adalah soal pengucapan. Kita menggunakan sebagian teori untuk memberi kita “fakta-fakta keras” sementara kita membiarkan orang lain punya hak istimewa untuk menjelaskan” secara tentatif”.

Kedua, komitmen-komitmen empirik tidak didasarkan semata-mata pada bukti empirik. Penolakan yang punya dasar kuat terhadap bukti sering merupakan lapisan keras yang menjadi sandaran kontinuitas ilmu teoretis.

Ketiga, elaborasi teori ilmiah umum biasanya lebih dogmatis ketimbang skeptis. Formulasi teoretis tidak berjalan, seperti dikemukakan Popper, menurut hukum pertarungan yang paling sengit untuk bertahan: ia tidak menerapkan sikap yang murni skeptis terhadap generalisasi dengan membatasi diri hanya pada posisi-posisi yang dapat dipalsukan. Sebaliknya, ketika satu posisi teoretis umum dikonfrontasikan dengan bukti empirik yang kontradiktif, yang tidak dapat begitu saja diabaikan (yang sering menjadi respon pertama) ia berjalan untuk mengembangkan hipotesis ad hoc, dan kategori-kategori yang tertinggal yang memungkinkan fenomena anomali ini “terjelaskan” dengan cara yang tidak menyerah pada formulasi yang lebih umum dari sebuah teori.

Yang terakhir, peralihan fundamental dalam keyakinan ilmiah akan terjadi hanya ketika tantangan-tantangan empirik dicocokkan oleh tersedianya komitmen teoretis alternatif. Latar belakang perubahan teoretis ini bisa tak terlihat, sebagaimana data empirik memberikan bukti konkret (seperti representasi kenyataan eksternal), bukan analitis (representasi pemikiran). Tapi, bukti ini tidak benar pergumulan antar posisi-posisi teoretis umumnya adalah termasuk sumber energi yang kuat bagi riset empirik ia harus ditempatkan pada jantung perubahan-perubahan besar dalam ilmu-ilmu alam.

Pandangan-pandangan ini membawa kita keluar dari dikotomi hermeneutika versus ilmu pengetahuan. Kita bisa melihat ilmu pengetahuan itu sendiri adalah aktivitas hermeneutik yang terkait dengan subyek. Dengan demikian, studi sosial tidak perlu mundur dari ambisi-ambisi ilmu pengetahuan yang lebih besar. Yang harus dilakukan adalah memahami sifat ilmu sosial dengan cara yang secara radikal berbeda, sebagaimana layaknya suatu ilmu pengetahuan, dari permulaan, yang secara eksplisit menangani masalah-masalah teoretis. Tak diragukan, pemahaman yang jauh lebih subyektif terhadap pos-positivis ini menyedihkan buat mereka yang mendambakan atau percaya akan suatu ilmu yang obyektif. Kaum positivis tentu saja dengan gampang memandang posisi itu sebagai kepasrahan atau kekalahan. Saya akan sangat tidak setuju. Seperti pernah ditulis Raymond Aron dalam eleginya untuk filsuf positivis besar Michael Polanyi: “Menyadari ketidakmungkinan menunjukkan suatu sistem aksioma bukanlah kekalahan pikiran, tapi mengingatkan pikiran pada dirinya sendiri.”